Life Path : Beasiswa LPDP The Series – Seleksi Administrasi

Indonesian Endowment Fund for Education Scholarship atau yang lebih dikenal sebagai beasiswa LPDP adalah salah satu beasiswa yang paling diburu pemuda pemudi Indonesia, betapa tidak? track record LPDP yang baik dari segi proses seleksi awardee, pencairan dana, informasi mengenai beasiswa, dan masih banyak lagi yang semuanya dikelola secara profesional. Nah, mungkin sebagian besar teman-teman disini sudah mengetahui latar belakang beasiswa, syarat-syarat apply beasiswa LPDP ini, atau yang belum mengetahui bisa akses ke web LPDP langsung. Jangan lupa download manual booknya ya, karena manual book-nya pun di-update secara berkala.

Oke, setelah mengetahui persyaratan yang diberikan, akhirnya saya sangat tertarik untuk apply beasiswa ini. Nah di blog ini saya akan share mengenai tahap-tahap seleksi administrasi, ngumpulin persyaratan surat sehat, surat bebas TBC, SKCK dan lain-lain. Semua ini saya lakukan di daerah domisili saya yaitu Makassar, walaupun saya bukan asli makassar.

Setelah buat akun untuk apply beasiswa LPDP di Login LPDP  dan mengisi data diri seperti Beasiswa jenis apa yang akan diikuti (Luar Negeri atau Dalam Negeri), intake perkuliahan, Universitas tujuan, Letter of Acceptance (sudah ada atau belum), Bidang Keilmuan, Program Studi, dan Pemilihan Lokasi Tes Substansi. Nah disini saya memilih Magister Luar Negeri, The University of Queensland Australia, belum memiliki LoA, Magister Occupational Health and Safety.

Selain itu temen-temen juga wajib mengisi Riwayat Pendidikan, Riwayat Pekerjaan, Pengalaman Organisasi, Prestasi, Kemampuan Bahasa, Pengalaman Pelatihan/Workshop, Pengalaman Riset, Karya Ilmiah, Konferensi dan Seminar, Penghargaan dan Essay (500 – 700 kata) mengenai Kontribusiku untuk Indonesia, Sukses Terbesar dalam Hidupku, dan Rencana Studi (karena saya tujuan luar negeri, saya menulis essay dalam bahasa inggris, sebenernya sih dalam manual book tidak ada ketentuan harus bahasa inggris atau tidak, tetapi denger2 nih untuk mengantisipasi pertanyaan interviewer mendingan untuk tujuan luar negeri essay-nya dalam bahasa inggris aja). Nah kalo mau tau cara mengisinya bisa download manual booknya yang tersedia di web LPDP.

Setelah mengisi data diri dan lain-lain yang saya sebutkan di atas, saatnya untuk mempersiapkan dokumen yang harus diupload :

  1. Ijazah : kalo ini pasti semua orang punya yaa, karena syarat untuk beasiswa Magister baik LN maupun DN adalah ijazah S1 kita, pastikan ijazah asli yang kita scan yaa.
  2. Transkrip Nilai Sarjana (S1)
  3. Rencana Studi: selain kita tulis di essay, kita juga upload rencana studi kita.
  4. Sertifikat Bahasa Asing yang diakui LPDP dan masih berlaku, bagi yang sudah tidak berlaku/kadaluarsa tidak diperbolehkan mengunggah/upload : Bagaimana saya dapetin sertifikat IELTS di Makassar? Bisa baca postingan saya di sini Pengalaman Tes IELTS di Makassar Part 1- Persiapan Pengalaman Tes IELTS di Makassar (Part 2)
  5. Surat Pernyataan Tidak sedang dan tidak akan menerima bantuan beasiswa Magister dari sumber lain baik dalam negeri maupun luar negeri; Berkelakuan baik dan tidak pernah melakukan tindak pidana; Sanggup mengabdi untuk kepentingan bangsa dan negara setelah menyelesaikan studi; Sanggup menyelesaikan studi Magister sesuai dengan waktu yang tentukan (Bermaterai) : nah ini mudah, ada contohnya di manual book jadi ga perlu bingung-bingung.
  6. Surat Ijin Belajar sesuai format LPDP (bagi yang sudah bekerja) : Karena saya kebetulan adalah Aparatur Sipil Negara, jadi minta surat izin kudu dengan kaidah-kaidah persuratan ASN. Nanti saya share ya bagaimana pengalaman saya minta surat izin atasan ini.
  7. Surat Rekomendasi sesuai format LPDP : Nah ini maksudnya adalah surat rekomendasi yang diberikan oleh Pembimbing akademis kita, atasan kita, atau tokoh masyarakat yang emang mengerti dan kenal kita. ini juga mau saya share di Postingan selanjutnya!
  8. LOA Conditional / Unconditional yang masih berlaku, bagi yang memiliki LoA diluar Perguruan Tinggi daftar LPDP tidak diperbolehkan mengunggah/upload : ini wajib ga wajib. Jadi pada waktu saya daftar saya belum memiliki LoA dan alhamdulilah lolos seleksi administrasi. Perkara LoA ini sungguh vital, nanti ada postingan tersendiri terkait dengan menggapai LoA. Terkait memilih universitas bisa liat di postingan ini Life Path : Seleksi Beasiswa LPDP -Memilih Universitas
  9. Kartu Tanda Penduduk (KTP)
  10. Surat Keterangan Berbadan Sehat dan Bebas Narkoba dan ditambahkan Surat Keterangan Sehat Bebas dari Tuberculosis (TBC) bagi yang ingin studi ke luar negeri. Semua Surat Keterangan Sehat dari Rumah Sakit Pemerintah : Ini juga salah satu yang mesti di-upload, saya akan cerita pengalaman saya dapetin semua surat-surat ini di chapter selanjutnya yaa.
  11. Surat Keterangan Catatan Kepolisian (SKCK) : Nah ini yang paling super duper menguras waktu buat saya, karena KTP saya bukan KTP Makassar. Terkhusus ulasan tersendiri untuk pembuatan SKCK ini.Surat Keterangan Catatan Kepolisian : Polsek Biringkanaya Makassar & Polres Tangerang

Nah semua dokumen-dokumen ini saya siapkan sekitar H-3 minggu penutupan. Jangan ditiru yaa. Teman-teman harus lebih mateng persiapannya supaya ga dag-dig-dug macem saya. Semoga sukses persiapan dokumennya (:

Behavior Based Safety (Part 2)

Helaw!

Menyambung part 1 tentang bagaimana sih implementasi Program Behavior Based Safety di tempat kerja? gimana sih ngukur perilaku? gimana sih outputnya? Baiklah mari kita diskusi bareng-bareng. Berdasarkan keilmuan saya yang cukup cetek ini, sekali lagi, ini hanya berdasarkan pengalaman saya di dunia kerja dan beberapa literatur yang saya dapatkan.

Behavior Based Safety (BBS) adalah aplikasi sistematis tentang perilaku manusia pada masalah keselamatan di tempat kerja yang memasukkan proses umpan balik secara langsung dan tidak langsung. BBS lebih menekankan aspek perilaku manusia terhadap terjadinya kecelakaan di tempat kerja. BBS dapat juga diartikan sebagai proses pendekatan untuk meningkatkan K3L dengan jalan menolong sekelompok pekerja untuk mengidentifikasi perilaku yang berkaitan dengan K3, mengumpulkan data kelompok pekerja, memberikan feedback dua arah mengenai perilaku K3 dan mengurangi dan meniadakan hambatan sistem untuk perkembangan lebih lanjut.

Nah, dalam BBS ini ada proses mengamati dan umpan balik. Fungsinya apa? kalo berdasarkan teori Bradley Curve di Postingan sebelumnya, kita tau bahwa untuk mencapai budaya keselamatan yang interdependen, tanggung jawab K3 bukan hanya untuk orang yang bekerja di bidang K3 saja, tetapi merupakan tanggung jawab semua karyawan. Di Program BBS ini lah karyawan dilatih untuk melaksanakan observasi dan memberikan feedback kepada rekan kerja maupun atasannya dari perilaku yang kurang aman atau dapat membahayakan dirinya maupun orang lain.

Apa sih tujuan dari BBS ini?

Tujuan Implementasi BBS

  1. Menciptakan lingkungan kerja dengan kondisi perilaku pekerja zero harm yang akan mendukung zero accident di lingkungan kerja.
  2. Mengurangi terjadinya at Risk-Behavior.
  3. Merubah kebiasaan dan mindset pekerja untuk senantiasa bekerja dengan aman dan selamat.

Manfaatnya gimana?

Manfaat Implementasi BBS

  1. Penurunan angka laporan kejadian kecelakaan kerja.
  2. Menciptakan lingkungan kerja yang aman dengan menciptakan safety culture (Budaya K3) yang kuat dan mengakar dengan baik di lingkungan kerja.
  3. Mengurangi angka accident rate dan kerugian akibat kecelakaan kerja.
  4. Investasi jangka panjang (bertahan dalam jangka waktu yang lama)
  5. Upaya proaktif meminimalkan potensi kecelakaan yang disebabkan human factor.

Menurut  COAA (Construction Owner Association of Alberta) : Behavior Based Safety Practice dipetakan sebagai berikut :

bbs-flowchart-2

Nah gitu deh kira-kira proses pemetaannya, nah konsep sederhananya BBS harus memiliki komponen-komponen sebagai berikut:

Dalam implementasi BBS diperlukan komitmen yang tinggi dari pucuk pimpinan maupun seluruh karyawan yang terlibat.  Sumber Daya Manusia yang perlu dipersiapkan dalam implementasi BBS antara lain :

  1. Steering Committee atau Tim yang membahas temuan, mengagendakan pelatihan dan mengusulkan perbaikan.
  2. Observer yang sudah ditraining teknik melaksanakan observasi perilaku di lapangan.
  3. Tim Pembahas Permasalahan yang terdiri dari manajemen atau pengambil keputusan.

Pengen banget share bagaimana sih alur sederhananya yang berupa ilustrasi yang lebih dimengerti, tapi karena siklus ini sepertinya copyright, jadi kalo mau tau lebih lanjut leave your email on comment box aja ya?

Nah, supaya temen-temen bisa dapet gambaran, terus gimana kelanjutannya itu observasi BBS. Berikut saya berikan gambaran sederhana langkah-langkah observasi Behavior Based Safety di Perusahaan.

Langkah-langkah pelaksanaan observasi

  1. Persiapkan Checklist formulir yang sudah berisikan item-item perilaku kritis (Critical Behavior Inventory) dari hasil identifikasi perilaku tidak aman di tempat kerja. Kalo mau contoh seperti apa sih Critical Behavior Inventory, Leave your message on comment box yaaa.
  2. Persiapan pengamatan dengan meninjau item-item pada checklist yang tersedia
  3. Memulai pengamatan dengan menginformasikan pelaksanaan observasi dan menjelaskan proses observasi.
  4. Selama pengamatan, fokus pada pekerja yang diobservasi dan checklist serta catat pada formulir yang tersedia.
  5. Setelah pengamatan selesai, berikan umpan balik kepada pekerja yang diobservasi mengenai perilaku aman dan berisiko. Tanyakan kepada pekerja mengapa pekerja tersebut melaksanakan perilaku yang tidak aman, tuliskan dalam kolom komentar. Setelah selesai hitung % SAFE dengan rumus sebagai berikut:safe

Nah kurleb, segitu tentang Behavior Based Safety, masih banyak sebenernya yang pengen banget dishare, terutama pengalaman-pengalaman jadi fasilitator BBS, Rapat Steering Committee itu kayak apa dan bagaimana ketemu sama sponsor untuk omit barrier remove. Ahh berbicara tentang K3 memang tidak ada habisnya. See you on the next chapter! (:

Behavior Based Safety (Part 1)

Hola!

Setelah dua postingan sebelumnya bercerita tentang pribadi saya, kali ini saya ingin share mengenai Behavior Based Safety (Program Keselamatan Kerja Berbasis Perilaku). Sekali lagi, ini saya share berdasarkan pengalaman saya di Perusahaan dan saat ini di Pemerintahan.

Indonesia punya cita-cita untuk mewujudkan masyarakat berbudaya K3, seperti tertuang dalam Keputusan Menteri Ketenagakerjaan no. 384 Tahun 2016 mengenai petunjuk pelaksanaan Bulan Keselamatan dan Kesehatan Kerja Nasional Tahun 2015 – 2019 dengan sasaran mendorong pencapaian “Kemandirian Masyarakat Indonesia Berbudaya Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) secara berkesinambungan” Pencapaian budaya K3 sendiri bukan merupakan pekerjaan yang mudah, apalagi dalam skala nasional. Kita harus memiliki program yang berbasis perilaku paling tidak dalam skala kecil terlebih dahulu di Industri maupun Pemerintahan. Salah satu pendekatan untuk merubah perilaku yang dapat kita laksanakan adalah program Behavior Based Safety.

Sebelum masuk ke implementasi Behavior Based Safety, alangkah baiknya kalo kita liat dulu teori-teori yang terkait dengan Budaya K3 dan Perilaku :

Menurut E.Scott Geller (2002) Total Safety Culture atau Budaya Keselamatan dan dicapai dengan pendekatan konsep Person, Behavior, dan Environment.

  1. Person

Merupakan Faktor Internal Personal seperti Pengetahuan, Skill, Sikap, Kemampuan, Kecerdasan.

  1. Behavior

Merupakan faktor perilaku yang dapat terlihat seperti kepatuhan, komunikasi, melaksanakan laporan dan menunjukkan kepedulian secara aktif.

  1. Faktor Lingkungan dan Eksternal

Merupakan faktor lingkungan dan luar manusia yang mempengaruhi seperti mesin, faktor fisika, faktor kimia, faktor biologi, Standar Operasional Prosedur (SOP), dan Peraturan.

Bagan dan Kerangka konsep tertuang dalam gambar di bawah ini

safety-performance

Nah, ngomongin soal behavior atau perilaku, ada juga teori Model Perilaku ABC

kurleb (kurang lebih), bagannya kayak gini

abc-2

Perilaku manusia merupakan suatu proses sekaligus interaksi antara antecedents, behavior dan consequences. Perilaku dapat terbangun dan berubah karena tiga pilar tersebut. Antecedents adalah peristiwa yang mendahului perilaku, Behavior adalah tingkah laku/perilaku yang terlihat, dapat diamati atau diobservasi, dan consequences adalah peristiwa yang mengikuti perilaku (muncul setelah ada perilaku).(OSTN, 2002).

Teori Bradley Curve

Dupont adalah organisasi internasional yang bergerak di bidang ilmu pengetahuan dan keahlian teknis berkelas dunia ke pasar global melalui produk, bahan, dan layanan inovatif. Nah, si Dupont ini terkenal sebagai Perusahaan yang memiliki Program K3 yang luar biasa! Salah satunya program yang berbasis perilaku dan lisensinya dipakai oleh Perusahaan-perusahaan besar di seluruh dunia. Dari sinilah tercipta teori Bradley Curve yang mengidentifikasi Fase-Fase Safety Culture.

bradely-curve

Pada kurva tersebut, Dupont membagi 4 klasifikasi tingkatan budaya K3 yaitu sebagai berikut:

  1. Fase Reaktif

Kepedulian manajemen dan karyawan terhadap K3 sangat rendah. Tanggung jawab K3 diserahkan kepada bagian K3. Tidak ada kesadaran dari karyawan terkait tanggung jawab akan K3, udah ada departemen K3 aja udah syukur alhamdulilah. Jadi di fase ini kalo terjadi kecelakaan aja baru deh sibuk, ribut, saling menyalahkan :p (seperti yang terjadi di negeri kitakah?)

  1. Fase Dependen

Karyawan melihat K3 sebagai sebuah aturan/prosedur yang harus diikuti. Tingkat kecelakaan dapat menurun dan manajemen percaya bahwa K3 dapat dikelola jika karyawan mau mengikuti aturan. Nah bisa dikatakan di fase ini orang-orang udah mulai “ngeh” tentang K3. Tapi baru sebatas takut ama bos, takut dipecat, takut ditilang mihihihi.

  1. Fase Independen

Setiap individu karyawan bertanggung jawab atas K3 untuk diri mereka sendiri. Pengetahuan, komitmen dan standar K3 sudah ditekankan pada setiap karyawan. Proses internalisasi sebuah nilai K3 juga ditanamkan kepada seluruh karyawan. Di Fase ini sudah ada keterlibatan dan komitmen yang kuat akan pelaksanaan K3, udah mulai sadar kalo K3 itu penting untuk keselamatan mereka, bukan karena takut ditilang :p

  1. Fase Interdependen

K3 merupakan sebuah tanggung jawab tim baik untuk diri mereka sendiri maupun orang lain. Mereka tidak menerima standar yang rendah dan mengambil risiko. Nah di sini karyawan, manajemen maupun masyarakat mulai sadar kalo K3 itu bukan cuma buat diri mereka sendiri, tapi juga untuk orang lain. Pada fase ini ada proses saling mengingatkan supaya semua sama-sama merasa aman dan nyaman.

Seru bukan main kalo ngomongin tentang behavior based safety. Nah sekarang gimana sih contoh Program K3 Berbasis Perilaku di tempat Kerja? Tunggu di Chapter selanjutnya yaa! chapter 2 bisa diliat di link ini Behavior Based Safety (Part 2)

Literatur:

OSTN : Introduction to Behavior Based Safety, 2002

COAA (Construction Owner Association of Alberta) : Behavior Based Safety Practice

The Dupont Integrated Approach (DnA) For Safety : A Catalyst to Accelerate Performance, 2012

http://www.incident-prevention.com  : Behavior Based Safety What’s the Verdict?, 2014

 

Pengalaman Tes IELTS di Makassar (Part 2)

D-Day!

Cukup lama postingan saya antara Persiapan dan Hari H Tes IELTS muehehee. Mohon maaf karena bener-bener fokus dengan persiapan beasiswa LPDP.  Lanjutan postingan mengenai tes IELTS kali ini saya mau share pengalaman saya pada saat menghadapi tes IELTS sesungguhnya. Seperti yang sudah saya ceritakan di blog sebelumnya, saya mengambil tes IELTS di IDP Makassar (kantornya bertempat di JL. Yosef Latumehina) yang saat itu tesnya bertempat di Hotel Empress karena peserta tesnya cukup banyak.

Sekali lagi, ini bukan success story, karena nilai saya cukup pas-pasan, tapi teman-teman dapat mengambil yang baik dan yang buruknya jangan ditiru :p. Saya ikut tes IELTS pada tanggal 24 September 2016, yaitu H-3 minggu penutupan seleksi administrasi Beasiswa LPDP (jangan ditiru). Cuma modal nekat yang saya punya karena saya memutuskan tidak mengikuti preparation class dengan alasan keuangan.

Di malam sebelum tes, saya hanya berlatih speaking di depan cermin sekitar 30 menit. Hal ini untuk menumbuhkan rasa percaya diri, walaupun kalo berhadapan langsung dengan examinernya saya pun pasti grogi. Tapi setidaknya saya bisa melihat refleksi diri saya saat saya berbicara, melatih gesture saat speaking tentunya. Oiya saya tidak pernah berlatih dengan orang lain, karena jujur saya adalah seseorang yang pemalu. Tetapi banyak yang bilang sesekali mintalah teman, atasan, ataupun keluarga yang kamu anggap memiliki kemampuan bahasa inggris yang mumpuni untuk berlatih speaking.

Di pagi harinya saya bangun pagi sekali karena selain jarak yang cukup jauh ke tempat tes, saya juga harus mempersiapkan sarapan. Sarapan sebelum tes itu penting saudara-saudara. Ga mau kan pada saat tes perut melilit dan ga konsen karena belum sarapan? Setelah sarapan, saya menuju ke Hotel Empress.

Saya sampai di Hotel Empress sekitar pukul 07.30 Wita, karena tes dimulai pukul 08.00. sebelum tes dimulai kita diharuskan untuk foto di tempat dan record sidik jari, selain itu juga akan dicocokan dengan identitas diri kita (saat itu saya menggunakan KTP untuk pendaftaran). Jangan lupa senyum atau pastikan kondisi rambut atau jilbab rapi, karena hasil fotonya akan dipakai di sertifikat IELTS kalian selama dua tahun!

Tidak lama setelah proses foto dan rekam sidik jari, peserta IELTS dipanggil kembali untuk masuk ke ruang tes. Masing-masing peserta wajib duduk di tempat yang telah disediakan sesuai dengan nomor tes. Saat itu saya dapat tempat duduk paling belakang  (karena mendaftar IELTS paling akhir). Oiya peserta hanya diperbolehkan membawa alat tulis dan kartu identitas. Setelah itu tidak lama examiner membagikan lembar jawaban. PENTING! Untuk teman-teman yang tidak mengikuti kelas persiapan IELTS, sebaiknya belajar menggunakan lembar jawaban tes IELTS. Ini salah satu kelemahan saya yang tidak mempertimbangkan bentuk lembar jawaban IELTS, saya agak sedikit kebingungan, walaupun sesungguhnya bukan merupakan hal yang fatal.

Tidak lama kemudian examiner membagikan soal Listening dan mulai membacakan rules dari tes IELTS tersebut. Tips Listening test di Hari H : KONSENTRASI. Fokus, jangan mikirin macem-macem, dengerin dengan seksama. Hal ini saya lakukan sampe saya harus mengernyitkan dahi saat mendengarkan soal listening. Pada tes listening ini saya mendapatkan skor 7.5 (di luar dugaan).

Selanjutnya adalah Reading Section. Jujur, saya sangat percaya diri dengan soal-soal reading test. Selain karena saya suka baca buku, di reading section ini soalnya ada di bacaan, pasti ada tinggal nyocokin aja.Tapi pada hari H, hasil skor yang saya dapatkan tidak sesuai ekspektasi saya. Saya mendapatkan skor 6.5 pada reading section. Kenyataannya, sulit sekali menemukan jawaban pada teks yang tersedia. Selain itu pada tes reading ini, saya terganggu dengan suara bising yang memecah konsentrasi saya. Beberapa kali teman-teman yang duduk di kursi belakang protes karena bising semakin menjadi-jadi pada tes reading. Namun Show must go on, karena ternyata sumber bising bukan dari hotel tetapi tetangga sebelah hotel. Tips Reading dari Saya: Pastikan kamu bisa mengambil Main Idea dari masing-masing paragraf dan belajar mendapatkan makna tersirat dari setiap bacaan. Dan jangan lupa berlatih untuk akrab dengan tipe soal reading.

Tes Selanjutnya adalah Writing. Dari seluruh  rangkaian tes IELTS, writing ini adalah tes yang paling menakutkan buat saya. Mungkin kalo temanya sesuai dengan bidang keilmuan kita, kita akan lebih lancar untuk menulis essaynya. Di tes Writing ini karena saya mengambil Academic IELTS untuk persyaratan Perguruan Tinggi, maka ada dua tipe soal yaitu membaca dan menuangkan tulisan dari grafik yang tersedia dan Essay mengenai argumen akan tema yang diberikan. Pada saat itu saya mendapatkan soal grafik mengenai living cost Pelajar dan perbandingannya serta tentang Alternative Energy. Waktunya pun terbatas hanya 40 menit untuk kedua essay tersebut. Sejujurnya saya sudah meduga kalo part writing ini saya akan dapat nilai tidak sebaik section lainnya, dan tercermin dari hasilnya yaitu skor saya hanya 6. Tips dari Saya: mulai lah mencari tutor untuk mengoreksi essay kamu sebelum mengikuti tes IELTS, ga perlu di tempat les atau preparation class, tapi bisa juga cari temen yang kamu anggep jago banget bahasa inggrisnya untuk ngoreksi ataupun kasih feedback.

Terakhir adalah tes Speaking. Jadi setelah rangkaian tes tertulis dari listening hingga writing, peserta tes akan dipersilakan untuk menunggu giliran. Karena saya merupakan peserta yang mendaftar di akhir, maka saya mendapatkan nomor urut belakangan. Sambil menunggu dipanggil, saya berbincang-bincang dengan peserta lain untuk bertanya motivasi mengikuti tes IELTS ini. Sebagian besar memiliki keinginan untuk ikut seleksi beasiswa LPDP. Akhirnya tiba giliran saya. Saat itu bule examinernya laki-laki berkepala plontos setengah baya. Saya dipersilakan duduk dan tidak lupa cek sidik jari baru memulai speaking tes. Alhamdulilah tes berjalan dengan lancar. Saya ditanyakan tentang tempat tinggal saya, keluarga saya dan pekerjaan saya. Setelah itu examiner bertanya tentang topik keahlian khusus yang diajarkan pada saat saya kecil, penggunaan bunga di Negaramu, dan apa pentingnya pendidikan keahlian dibandingkan pendidikan akademis. Tips dari Saya: PERCAYA DIRI. Dan bangun suasana interview yang menyenangkan, walaupun di section ini saya hanya mendapatkan skor 6.5.

Jika dirangkum skor saya:

Listening : 7.5, Reading : 6.5, Writing : 6.0 dan Speaking : 6.5

Overall Score : 6.5

Skor ini bukan merupakan skor yang luar biasa, tetapi saya cukup puas dengan hasilnya (memenuhi kriteria untuk seleksi beasiswa LPDP dan memenuhi syarat IELTS universitas tujuan). Di lain kesempatan mungkin jika saya belajar lebih giat dan mempersiapkan lebih matang lagi, mungkin skor saya akan lebih baik.

Semangat!