Pengalaman Tes IELTS di Makassar (Part 2)

D-Day!

Cukup lama postingan saya antara Persiapan dan Hari H Tes IELTS muehehee. Mohon maaf karena bener-bener fokus dengan persiapan beasiswa LPDP.  Lanjutan postingan mengenai tes IELTS kali ini saya mau share pengalaman saya pada saat menghadapi tes IELTS sesungguhnya. Seperti yang sudah saya ceritakan di blog sebelumnya, saya mengambil tes IELTS di IDP Makassar (kantornya bertempat di JL. Yosef Latumehina) yang saat itu tesnya bertempat di Hotel Empress karena peserta tesnya cukup banyak.

Sekali lagi, ini bukan success story, karena nilai saya cukup pas-pasan, tapi teman-teman dapat mengambil yang baik dan yang buruknya jangan ditiru :p. Saya ikut tes IELTS pada tanggal 24 September 2016, yaitu H-3 minggu penutupan seleksi administrasi Beasiswa LPDP (jangan ditiru). Cuma modal nekat yang saya punya karena saya memutuskan tidak mengikuti preparation class dengan alasan keuangan.

Di malam sebelum tes, saya hanya berlatih speaking di depan cermin sekitar 30 menit. Hal ini untuk menumbuhkan rasa percaya diri, walaupun kalo berhadapan langsung dengan examinernya saya pun pasti grogi. Tapi setidaknya saya bisa melihat refleksi diri saya saat saya berbicara, melatih gesture saat speaking tentunya. Oiya saya tidak pernah berlatih dengan orang lain, karena jujur saya adalah seseorang yang pemalu. Tetapi banyak yang bilang sesekali mintalah teman, atasan, ataupun keluarga yang kamu anggap memiliki kemampuan bahasa inggris yang mumpuni untuk berlatih speaking.

Di pagi harinya saya bangun pagi sekali karena selain jarak yang cukup jauh ke tempat tes, saya juga harus mempersiapkan sarapan. Sarapan sebelum tes itu penting saudara-saudara. Ga mau kan pada saat tes perut melilit dan ga konsen karena belum sarapan? Setelah sarapan, saya menuju ke Hotel Empress.

Saya sampai di Hotel Empress sekitar pukul 07.30 Wita, karena tes dimulai pukul 08.00. sebelum tes dimulai kita diharuskan untuk foto di tempat dan record sidik jari, selain itu juga akan dicocokan dengan identitas diri kita (saat itu saya menggunakan KTP untuk pendaftaran). Jangan lupa senyum atau pastikan kondisi rambut atau jilbab rapi, karena hasil fotonya akan dipakai di sertifikat IELTS kalian selama dua tahun!

Tidak lama setelah proses foto dan rekam sidik jari, peserta IELTS dipanggil kembali untuk masuk ke ruang tes. Masing-masing peserta wajib duduk di tempat yang telah disediakan sesuai dengan nomor tes. Saat itu saya dapat tempat duduk paling belakang  (karena mendaftar IELTS paling akhir). Oiya peserta hanya diperbolehkan membawa alat tulis dan kartu identitas. Setelah itu tidak lama examiner membagikan lembar jawaban. PENTING! Untuk teman-teman yang tidak mengikuti kelas persiapan IELTS, sebaiknya belajar menggunakan lembar jawaban tes IELTS. Ini salah satu kelemahan saya yang tidak mempertimbangkan bentuk lembar jawaban IELTS, saya agak sedikit kebingungan, walaupun sesungguhnya bukan merupakan hal yang fatal.

Tidak lama kemudian examiner membagikan soal Listening dan mulai membacakan rules dari tes IELTS tersebut. Tips Listening test di Hari H : KONSENTRASI. Fokus, jangan mikirin macem-macem, dengerin dengan seksama. Hal ini saya lakukan sampe saya harus mengernyitkan dahi saat mendengarkan soal listening. Pada tes listening ini saya mendapatkan skor 7.5 (di luar dugaan).

Selanjutnya adalah Reading Section. Jujur, saya sangat percaya diri dengan soal-soal reading test. Selain karena saya suka baca buku, di reading section ini soalnya ada di bacaan, pasti ada tinggal nyocokin aja.Tapi pada hari H, hasil skor yang saya dapatkan tidak sesuai ekspektasi saya. Saya mendapatkan skor 6.5 pada reading section. Kenyataannya, sulit sekali menemukan jawaban pada teks yang tersedia. Selain itu pada tes reading ini, saya terganggu dengan suara bising yang memecah konsentrasi saya. Beberapa kali teman-teman yang duduk di kursi belakang protes karena bising semakin menjadi-jadi pada tes reading. Namun Show must go on, karena ternyata sumber bising bukan dari hotel tetapi tetangga sebelah hotel. Tips Reading dari Saya: Pastikan kamu bisa mengambil Main Idea dari masing-masing paragraf dan belajar mendapatkan makna tersirat dari setiap bacaan. Dan jangan lupa berlatih untuk akrab dengan tipe soal reading.

Tes Selanjutnya adalah Writing. Dari seluruh  rangkaian tes IELTS, writing ini adalah tes yang paling menakutkan buat saya. Mungkin kalo temanya sesuai dengan bidang keilmuan kita, kita akan lebih lancar untuk menulis essaynya. Di tes Writing ini karena saya mengambil Academic IELTS untuk persyaratan Perguruan Tinggi, maka ada dua tipe soal yaitu membaca dan menuangkan tulisan dari grafik yang tersedia dan Essay mengenai argumen akan tema yang diberikan. Pada saat itu saya mendapatkan soal grafik mengenai living cost Pelajar dan perbandingannya serta tentang Alternative Energy. Waktunya pun terbatas hanya 40 menit untuk kedua essay tersebut. Sejujurnya saya sudah meduga kalo part writing ini saya akan dapat nilai tidak sebaik section lainnya, dan tercermin dari hasilnya yaitu skor saya hanya 6. Tips dari Saya: mulai lah mencari tutor untuk mengoreksi essay kamu sebelum mengikuti tes IELTS, ga perlu di tempat les atau preparation class, tapi bisa juga cari temen yang kamu anggep jago banget bahasa inggrisnya untuk ngoreksi ataupun kasih feedback.

Terakhir adalah tes Speaking. Jadi setelah rangkaian tes tertulis dari listening hingga writing, peserta tes akan dipersilakan untuk menunggu giliran. Karena saya merupakan peserta yang mendaftar di akhir, maka saya mendapatkan nomor urut belakangan. Sambil menunggu dipanggil, saya berbincang-bincang dengan peserta lain untuk bertanya motivasi mengikuti tes IELTS ini. Sebagian besar memiliki keinginan untuk ikut seleksi beasiswa LPDP. Akhirnya tiba giliran saya. Saat itu bule examinernya laki-laki berkepala plontos setengah baya. Saya dipersilakan duduk dan tidak lupa cek sidik jari baru memulai speaking tes. Alhamdulilah tes berjalan dengan lancar. Saya ditanyakan tentang tempat tinggal saya, keluarga saya dan pekerjaan saya. Setelah itu examiner bertanya tentang topik keahlian khusus yang diajarkan pada saat saya kecil, penggunaan bunga di Negaramu, dan apa pentingnya pendidikan keahlian dibandingkan pendidikan akademis. Tips dari Saya: PERCAYA DIRI. Dan bangun suasana interview yang menyenangkan, walaupun di section ini saya hanya mendapatkan skor 6.5.

Jika dirangkum skor saya:

Listening : 7.5, Reading : 6.5, Writing : 6.0 dan Speaking : 6.5

Overall Score : 6.5

Skor ini bukan merupakan skor yang luar biasa, tetapi saya cukup puas dengan hasilnya (memenuhi kriteria untuk seleksi beasiswa LPDP dan memenuhi syarat IELTS universitas tujuan). Di lain kesempatan mungkin jika saya belajar lebih giat dan mempersiapkan lebih matang lagi, mungkin skor saya akan lebih baik.

Semangat!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s