Behavior Based Safety (Part 1)

Hola!

Setelah dua postingan sebelumnya bercerita tentang pribadi saya, kali ini saya ingin share mengenai Behavior Based Safety (Program Keselamatan Kerja Berbasis Perilaku). Sekali lagi, ini saya share berdasarkan pengalaman saya di Perusahaan dan saat ini di Pemerintahan.

Indonesia punya cita-cita untuk mewujudkan masyarakat berbudaya K3, seperti tertuang dalam Keputusan Menteri Ketenagakerjaan no. 384 Tahun 2016 mengenai petunjuk pelaksanaan Bulan Keselamatan dan Kesehatan Kerja Nasional Tahun 2015 – 2019 dengan sasaran mendorong pencapaian “Kemandirian Masyarakat Indonesia Berbudaya Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) secara berkesinambungan” Pencapaian budaya K3 sendiri bukan merupakan pekerjaan yang mudah, apalagi dalam skala nasional. Kita harus memiliki program yang berbasis perilaku paling tidak dalam skala kecil terlebih dahulu di Industri maupun Pemerintahan. Salah satu pendekatan untuk merubah perilaku yang dapat kita laksanakan adalah program Behavior Based Safety.

Sebelum masuk ke implementasi Behavior Based Safety, alangkah baiknya kalo kita liat dulu teori-teori yang terkait dengan Budaya K3 dan Perilaku :

Menurut E.Scott Geller (2002) Total Safety Culture atau Budaya Keselamatan dan dicapai dengan pendekatan konsep Person, Behavior, dan Environment.

  1. Person

Merupakan Faktor Internal Personal seperti Pengetahuan, Skill, Sikap, Kemampuan, Kecerdasan.

  1. Behavior

Merupakan faktor perilaku yang dapat terlihat seperti kepatuhan, komunikasi, melaksanakan laporan dan menunjukkan kepedulian secara aktif.

  1. Faktor Lingkungan dan Eksternal

Merupakan faktor lingkungan dan luar manusia yang mempengaruhi seperti mesin, faktor fisika, faktor kimia, faktor biologi, Standar Operasional Prosedur (SOP), dan Peraturan.

Bagan dan Kerangka konsep tertuang dalam gambar di bawah ini

safety-performance

Nah, ngomongin soal behavior atau perilaku, ada juga teori Model Perilaku ABC

kurleb (kurang lebih), bagannya kayak gini

abc-2

Perilaku manusia merupakan suatu proses sekaligus interaksi antara antecedents, behavior dan consequences. Perilaku dapat terbangun dan berubah karena tiga pilar tersebut. Antecedents adalah peristiwa yang mendahului perilaku, Behavior adalah tingkah laku/perilaku yang terlihat, dapat diamati atau diobservasi, dan consequences adalah peristiwa yang mengikuti perilaku (muncul setelah ada perilaku).(OSTN, 2002).

Teori Bradley Curve

Dupont adalah organisasi internasional yang bergerak di bidang ilmu pengetahuan dan keahlian teknis berkelas dunia ke pasar global melalui produk, bahan, dan layanan inovatif. Nah, si Dupont ini terkenal sebagai Perusahaan yang memiliki Program K3 yang luar biasa! Salah satunya program yang berbasis perilaku dan lisensinya dipakai oleh Perusahaan-perusahaan besar di seluruh dunia. Dari sinilah tercipta teori Bradley Curve yang mengidentifikasi Fase-Fase Safety Culture.

bradely-curve

Pada kurva tersebut, Dupont membagi 4 klasifikasi tingkatan budaya K3 yaitu sebagai berikut:

  1. Fase Reaktif

Kepedulian manajemen dan karyawan terhadap K3 sangat rendah. Tanggung jawab K3 diserahkan kepada bagian K3. Tidak ada kesadaran dari karyawan terkait tanggung jawab akan K3, udah ada departemen K3 aja udah syukur alhamdulilah. Jadi di fase ini kalo terjadi kecelakaan aja baru deh sibuk, ribut, saling menyalahkan :p (seperti yang terjadi di negeri kitakah?)

  1. Fase Dependen

Karyawan melihat K3 sebagai sebuah aturan/prosedur yang harus diikuti. Tingkat kecelakaan dapat menurun dan manajemen percaya bahwa K3 dapat dikelola jika karyawan mau mengikuti aturan. Nah bisa dikatakan di fase ini orang-orang udah mulai “ngeh” tentang K3. Tapi baru sebatas takut ama bos, takut dipecat, takut ditilang mihihihi.

  1. Fase Independen

Setiap individu karyawan bertanggung jawab atas K3 untuk diri mereka sendiri. Pengetahuan, komitmen dan standar K3 sudah ditekankan pada setiap karyawan. Proses internalisasi sebuah nilai K3 juga ditanamkan kepada seluruh karyawan. Di Fase ini sudah ada keterlibatan dan komitmen yang kuat akan pelaksanaan K3, udah mulai sadar kalo K3 itu penting untuk keselamatan mereka, bukan karena takut ditilang :p

  1. Fase Interdependen

K3 merupakan sebuah tanggung jawab tim baik untuk diri mereka sendiri maupun orang lain. Mereka tidak menerima standar yang rendah dan mengambil risiko. Nah di sini karyawan, manajemen maupun masyarakat mulai sadar kalo K3 itu bukan cuma buat diri mereka sendiri, tapi juga untuk orang lain. Pada fase ini ada proses saling mengingatkan supaya semua sama-sama merasa aman dan nyaman.

Seru bukan main kalo ngomongin tentang behavior based safety. Nah sekarang gimana sih contoh Program K3 Berbasis Perilaku di tempat Kerja? Tunggu di Chapter selanjutnya yaa! chapter 2 bisa diliat di link ini Behavior Based Safety (Part 2)

Literatur:

OSTN : Introduction to Behavior Based Safety, 2002

COAA (Construction Owner Association of Alberta) : Behavior Based Safety Practice

The Dupont Integrated Approach (DnA) For Safety : A Catalyst to Accelerate Performance, 2012

http://www.incident-prevention.com  : Behavior Based Safety What’s the Verdict?, 2014

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s