Job Safety Analysis : Penilaian Bahaya dan Risiko di Tempat Kerja (Workplace Hazard Analysis)

Hola!

Salah satu “oleh-oleh” yang saya dapatkan dari program YSEALI Fall 2017 adalah berkesempatan mengikuti pelatihan JSA (Job Safety Analysis) yang biasa digunakan untuk melaksanakan penilaian bahaya dan risiko di tempat kerja. Supaya semua bisa mendapatkan informasinya, yuk kita ketahui apa itu JSA? bagaimana melaksanakan JSA? dan informasi lain terkait JSA.

Definisi dan Pengertian

Penilaian bahaya adalah proses secara sistematis dalam mengevaluasi bahaya atau potensi bahaya yang ada pada aktivitas pekerjaan. Secara lengkap sebelum mengetahui lebih lanjut, kita ketahui terlebih dahulu pengertian Bahaya (Hazard) dan penilaian (assessment). Bahaya adalah setiap kegiatan , praktik, perilaku, bahan, kondisi atau kombinasinya yang dapat menyebabkan cedera atau penyakit bagi seseorang. Sedangkan untuk penilaian (assessment) adalah proses mengidentifikasi bahaya sehingga bahaya tersebut dapat dieliminasi maupun dikendalikan.

Tujuan Penilaian Bahaya

Tujuan dari penilaian bahaya di tempat kerja antara lain:

  1. Mengidentifikasi masalah untuk memperbaiki atau mengendalikan bahaya tersebut.
  2. Sebagai acuan untuk membuat program keselamatan dan kesehatan kerja yang efektif.
  3. Sebagai komponen kunci dari seluruh program keselamatan dan kesehatan kerja.
  4. Sebagai pemenuhan perundang-undangan.

Secara detail, penilaian bahaya di tempat kerja merupakan pendekatan dan proses yang sistematis dengan melibatkan :

  1. Dokumentasi dan pencatatan penilaian aktivitas di tempat kerja.
  2. Melihat dan observasi bahaya dan potensi bahaya yang ada.
  3. Mempertimbangkan dan mengimplementasikan metode maupun praktik untuk mengendalikan ataupun mengeliminasi bahaya dengan Engineering Control, Administrative Control, dan Personal Protective Equipment (PPE).
  4. Menuangkan secara tertulis dari hasil evaluasi tempat kerja, ditandatangani oleh orang yang melaksanakan penilaian dan membubuhkan tanggal pelaksanaan penilaian bahaya di tempat kerja.

Tools Penilaian Bahaya di Tempat Kerja

Dalam melaksanakan penilaian bahaya di tempat kerja, terdapat tools yang dapat digunakan antara lain:

  1. Job Safety Analysis (JSA)
  2. Process Hazard Analysis (PHA)
  3. MOC (Management of Change)
  4. System Analysis (SA)
  5. Phase Analysis (PA)
  6. PM Records

Gunakanlah tools tersebut sebagai alat bantu dalam membuat dasar maupun benchmark dari penilaian bahaya di tempat kerja. Dalam artikel ini akan lebih membahas poin nomor 1, yaitu Job Safety Analysis (JSA).

Job Safety Analysis (JSA)

Untuk lebih dapat memahami penilaian bahaya dengan metode JSA, maka kita ketahui lebih dahulu pengertian dari JSA. JSA seringkali disebut AKA, JHA, dan PHA. Terdapat beberapa pengertian dari JSA antara lain :

  1. Proses memecahkan aktivitas menjadi langkah kerja.
  2. Metode untuk mengidentifikasi dan mengendalikan atau mengeliminasi bahaya.
  3. Langkah sederhana dengan tujuan karyawan dapat dengan mudah memahami bahaya dan pengendalian yang harus dilakukan.
  4. Teknik yang memfokuskan pada job tasks sebagai cara untuk mengidentifikasi bahaya sebelum terjadi kecelakaan maupun penyakit akibat kerja.
  5. JSA fokus pada hubungan dan interaksi antara pekerja, aktivitas/tugas, peralatan dan lingkungan kerja.
  6. Setelah bahaya yang belum dikendalikan (uncontrolled hazards) teridentifikasi perlu dilakukan eliminasi ataupun pengendalian bahaya tersebut.

Manfaat dari penilaian bahaya dengan JSA :

  1. Membantu dalam mengidentifikasi persyaratan alat pelindung diri (APD) yang harus digunakan seperti pelindung pendengaran, mata, tangan, kaki, kepala, tubuh, pernapasan, peralatan bantuan manual handling dll.
  2. Membantu dalam mengidentifikasi sumber energy berbahaya – LOTO seperti sumber panas, listrik, hydraulic, pneumatic energy, kimia, kinetik, mekanikal, sentrifugal, gravitasi dll.
  3. Keterlibatan pekerja secara aktif dalam penerapan sistem keselamatan dan kesehatan kerja.
  4. Meningkatkan komunikasi dan kepercayaan (trust) antara manajemen dan karyawan.

Pelaksanaan JSA dapat melibatkan berbagai pihak. Dalam perusahaan, pihak yang dapat terlibat antara lain :

  • Personil Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3)
  • Manajer di lokasi dibuatnya JSA
  • Operator
  • Teknisi yang mendesain peralatan
  • Personil Maintenance
  • Konsultan K3

Oleh karena itu, daftar personil di atas membutuhkan pelatihan bagaimana pembuatan dan pelaksanaan JSA di tempat kerja agar pelaksanaan JSA dapat dilaksanakan dengan baik.

Langkah-langkah pelaksanaan JSA dapat dilakukan dengan :

JSa

  1. Menentukan aktivitas pekerjaan untuk pelaksanaan JSA

Sebelum melaksanakan JSA, diperlukan penentuan aktivitas pekerjaan dengan membuat daftar aktivitas pekerjaan yang dirasa memerlukan penilaian bahaya. Dalam penentuan aktivitas pekerjaan ini dapat dilakukan dengan mempertimbangkan aktivitas pekerjaan yang memiliki risiko terjepit, kontak dengan bahan berbahaya, potensi terkena paparan bahan/benda bergerak, terjatuh, maupun terpeleset. Pekerjaan-pekerjaan ini dapat berupa :

  1. Bekerja di ketinggian
  2. Pengangkatan, angkat-angkut, mendorong, menarik, dan pekerjaan manual handling lainnya.
  3. Bekerja dekat dengan peralatan yang dekat dengan sumber energi.
  4. Penggunaan cranes, alat bantu pengangkatan atau peralatan mesin lainnya.
  5. Bekerja sendiri atau bekerja di area yang terisolasi.
  6. Pekerjaan lainnya yang mengharuskan pekerja naik ke atas maupun di bawah area kerja, seperti penggalian.

Dalam menentukan aktivitas pekerjaan untuk melaksanakan JSA, diperlukan pula data tambahan dengan mengkaji ulang data-data sebagai berikut :

  1. Riwayat cedera/penyakit akibat kerja
  2. Laporan Insiden – Nearmiss
  3. Data statistik kejadian First Aid
  4. Safety Data Sheet (SDS)
  5. Notulen rapat K3
  6. Laporan Inspeksi K3
  7. JSA sebelumnya
  8. Prosedur kerja yang ada
  9. Manual dari peralatan
  10. Data preventive maintenance
  11. Regulasi pemerintah

 

  1. Menentukan dan mencatat langkah-langkah dari aktivitas pekerjaan tersebut

Setelah kita menentukan aktivitas pekerjaan yang akan dilaksanakan JSA, maka selanjutnya kita catat langkah-langkah aktivitas pekerjaan tersebut. Mencatat langkah kerja adalah dengan :

  1. Mengobservasi aktivitas pekerjaan.
  2. Mencatat informasi untuk mendeskripsikan secara benar langkah yang dilakukan. Dalam pencatatan ini perlu menghindari langkah pekerjaan yang terlalu detail maupun deskripsi yang terlalu panjang serta hindari langkah yang terlalu umum sehingga banyak langkah yang tidak tercatat.
  3. Ambil gambar atau video di masing-masing langkah pekerjaan.
  4. Setelah itu, review langkah-langkah tersebut dengan karyawan.
  5. Libatkan karyawan dalam seluruh aktivitas analisis.

JSA Filled

Contoh Pengisian Formulir JSA : JSA pada pekerjaan membersihkan Cyclone

foto JSA

Isian JSA Latihan3. Mengidentifikasi bahaya dari masing-masing langkah pekerjaan

Dalam tahap ini diperlukan analisis dengan pertanyaan-pertanyaan seperti :

  1. Apa yang terjadi jika terdapat kesalahan?
  2. Apa konsekuensi dari aktivitas pekerjaan ini?
  3. Bagaimana bahaya dapat muncul?
  4. Apa saja faktor yang berkontribusi?
  5. Seberapa sering bahaya dan risiko dapat terjadi?

4. Mendeskripsikan cedera/injury yang mungkin terjadi dari bahaya tersebut

Pada langkah ini pengamat memerlukan informasi mengenai jenis bahaya apa saja yang dapat terjadi dan potensi cedera apa saja yang didapatkan. Informasi mengenai hal tersebut  dijelaskan dalam tabel di bawah ini:

Jenis Bahaya Potensi Cedera
Terjepit, Terpotong Luka memar, luka tergores, amputasi, fatality
Bahan Kimia Berbahaya Terbakar, kebutaan, penyakit akut dan kronis, fatality.
Bahaya Listrik Tersengat listrik, terbakar, amputasi, kebutaan, fatality
Bahan Mudah Terbakar Terbakar, amputasi
Bising dan Getaran Muntah, kerusakan syaraf, penurunan pendengaran
Manual Handling (Mengangkat, Menarik, Mendorong) Strain, Sprain, dan Musculoskeletal Disorders lainnya
Tertabrak/Terkena Luka memar, luka tergores, amputasi, fraktur tulang, fatality
Terpeleset, Terjatuh, Tersandung Luka memar, fraktur tulang, fatality
Suhu Heat/Cold stress, terbakar, stroke, fatality
Gas beracun, fumes, vapor atau debu Penyakit akut.kronis, asfiksia, terbakar, fatality

5. Mengidentifikasikan cara untuk mengeliminasi atau mengendalikan bahaya

Setelah bahaya dan risiko teridentifikasi, selanjutnya adalah mengetahui pengendalian apa yang sesuai. Jika terdapat potensi bahaya, langkah awal adalah menentukan pengendalian teknis (engineering control), administratif (administrative) dan membuat prosedur. Penyediaan alat pelindung diri yang tepat dan efektif merupakan pengendalian terakhir.

Revisi Job Safety Analysis

Revisi atau perbaikan JSA dilakukan ketika telah terjadi kecelakaan kerja dan cedera. Selain itu JSA direvisi pada saat terdapat perubahan pekerjaan/aktivitas, setelah terjadi keadaan berbahaya, jika peralatan mengalami kerusakan, dan pada saat jadwal kaji ulang rutin, seperti setahun sekali ataupun dua tahun sekali.

Sumber : Pelatihan Job Safety Analysis, Maryland Occupational Health and Safety (MOSH), 2017.

Patapsco Wastewater Treatment Tour

Dalam program YSEALI Professional Fellows Program Fall 2017 ini, saya di tempatkan di Baltimore City, Maryland. Saya berkesempatan untuk mengunjungi wastewater treatment plant dan landfill yang dikelola oleh Departemen of Public Works-nya Baltimore City. Jadi Baltimore itu merupakan salah satu Kota yang tua di Amerika dan merupakan salah satu kota yang bersejarah. Walaupun ga se-terkenal New York, Chicago dan Capital City lainnya, Baltimore City juga salah satu kota yang populasinya banyak loh di Amerika. Tapi, sebanyak-banyaknya populasi di Amerika, ga bisa ngalahin populasi kota-kota di Indonesia sih ;p.

Alright, karena kota ini salah satu kota saksi sejarah, maka pemerintah kota ini udah punya sejak lama waste water treatment untuk kotanya. Wow! saya berkesempatan untuk berkunjung ke salah satu wastewater treatment tertua di Baltimore City, yaitu Patapsco wastewater treatment plant. Wastewater treatment plant ini dibangun pada tahun 1918 untuk memberikan pelayanan ke seluruh penduduk kota Baltimore. Semakin lama, plant ini semakin berkembang dan ekspansi, karena penduduk Kota Baltimore makin banyak. Tujuannya adalah mengurangi water pollutant yang dibuang ke sungai dan lauut. Jadi mereka mengelola limbah-limbahnya penduduk Baltimore City.

Jadi lingkup air limbah yang di-treatment di sini adalah air yang telah digunakan untuk kegiatan rumah tangga (nyuci, masak, mandi dll), bisnis, ataupun industri dan juga mengandung endapan-endapan padat. Semuanya akan dialirkan ke salah satu plant, di-treatment (makanya banyak pipa-pipa besar dan kolam besar), kontaminan-nya dibuang dan pada akhirnya akan aman untuk dialirkan ke lingkungan seperti aliran sungai maupun laut.

Di Patapsco wastewater treatment ini terdisi dari beberapa bagian, mungkin kurang lebih sama dengan wastewater treatment lainnya ;

  1. Laboratory
  2. Preliminary dan Primary Treatment
  3. Sludge Thickening
  4. Secondary Treatment Facilities
  5. Final Treatment/disinfection
  6. Future and Completes Improvements

Pada tour ini, saya dipandu oleh karyawan yang sudah bekerja selama kurang lebih 41 tahun! nama George, dia dengan berapi-api menjelaskan mengenai wastewater treatment ini. Seru!

35219193-DA95-4F1D-9737-D5F917840571.jpeg

Saya kurang tau juga sih pengelolaan lingkungan terutama air di Indonesia seperti apa, yang saya tahu hanya pengelolaan air limbah di Perusahaan. Tapi sepertinya masih belum ada pengelolaan seperti ini, kecuali air minum seperti PDAM. Tapi akan lebih baik kalo setiap kota di Indonesia punya seperti ini, suaya laut, sungai ga tercemarr.

Terbang dengan Japan Airlines – Transit di Bandara Narita, Tokyo

Hello!

Seperti yang sudah saya sampaikan di blog saya sebelumnya bahwa saya menjadi salah satu fellows untuk program YSEALI Professional Fellows Program Fall 2017, dan berkesempatan untuk terbang ke United States dan menjalankan fellowship selama kurang lebih 6 minggu di sini. Perjalanan saya dinyatakan sebagai fellows bisa diakses disini yaaa Don’t dare to dream BIG! – Road to YSEALI Fall 2017

Alhamdulilah ini hari ke-11 saya ada di Amerika Serikat atau hari ke-5 saya di Department of Public Works (DPW) Baltimore City, Maryland. Karena postingan serius yang bertemakan kantor sudah ku posting di blog-nya ICMA di blog pribadi ku ingin share mengenai serba-serbi perjalanan saya ke Amerika Serikat.

Ini adalah pengalaman pertama saya pergi ke luar negeri, pengalaman saya dapet visa, dan pengalaman saya naik pesawat lebih dari 20 jam! iya 20 jam! Jadi saya berangkat ke Amerika Serikat pukul 06.25 WIB dari Bandara Soetta dengan maskapai Japan Airlines. Karena ini pengalaman pertama banget, jadi saya udah siap siaga di bandara jam 03.00 pagi dan Check-in Counternya belum buka. Check in counter baru buka jam 03.30, jadi cukup lumayan ya nunggunya sambil bercengkrama dengan fellows dari indonesia lainnya.

Setelah check-in, melewati imigrasi, solat subuh, finally kita berangkat menuju US! Kebetulan sebelum menginjakkan kaki di Paman Sam, kita akan transit dulu di Jepang, baru lanjut ke New York dan disambung lagi pesawat kecil ke Washington DC. Perjalanan ke narita ini memakan waktu sekitar hampir 8 jam! Coba bayangkan bagaimana kebetean melanda di atas pesawat? tapi saya sama sekali ga bosan di dalam pesawat JAL ini, karena super nyaman walau kelas ekonomi, awak kabinnya super ramah, makanannya hmmm.. lumayanlah yaa dan yang paling penting ada game tetrisnya! haha. Oke yuk lihat foto-foto saya di dalam pesawat Japan Airlines.

Tetris dan Makanan di Japan Airlines

Setelah 7 jam 40 menit melayang-layang di udara, akhirnya sampaaii di Narita Airport. Di sini kita transit selama dua jam, dan waktu dua jam itu cukup buat kita solat, dan ga keburu-buru juga. Bahkan teman-teman yang lain sempet bisa liat-liat outlet di dalem Bandara. Bandara Narita ini gedaaaaaa pisan, mungkin mirip-mirip terminal 3-nya Soekarno Hatta dengan lebih banyak outlet di dalamnya. Oiya hal yang bikin takjub dan alhamdulilah, bandara ini menyediakan fasilitas untuk muslim solat. Begini tampilan musholla-nya.

IMG_4700

Letaknya kalo abis landing dan pemeriksaan, turun satu lantai escalator

Tampilan musholla di Bandara Narita, Tokyo, Jepang

Superr cozyy.. nyaman banget dan tenang juga. Tapi sayang di jepang saya hanya transit untuk melanjutkan penerbangan ke New York Amerika Serikat. Next kalo ada rejeki, ingin sekali kujelajahi kota ini! Perjalanan dari Tokyo ke New York, New York Washington DC akan ku share di postingan selanjutnya ya.

Pembuatan Visa J1 Exchange Program

Halo!

Masih dalam rangka persiapan untuk Program YSEALI (Young South East Asian Leaders Initiative) Fall 2017, kali ini saya ingin share proses pembuatan Visa J1 saya. Jadi dalam program YSEALI ini seluruh fellows akan menggunakan visa non immigrant J1 untuk bisa berangkat ke US dan mengikuti program YSEALI selama kurang lebih 5.5 minggu.

Apa itu visa J1? Visa J1 adalah visa yang biasa digunakan untuk mengikuti program exchange ke Amerika Serikat. Nah pemegang Visa J1 ini harus segera kembali setelah program dan baru bisa apply kembali untuk visa immigrant atau visa bekerja setelah 2 tahun. Jadi selama 2 tahun itu kita harus mengabdi dulu untuk bangsa dan negara. Pikir saya, saya toh tidak berniat untuk apply visa imigran atau bekerja di US sana hehe. Bolehkah jika kita ingin apply visit sebagai turis atau belajar melanjutkan kuliah disana?  jika belum 2 tahun? jawabannya adalah boleh. Detail untuk masing-masing jenis visa dapat diakses di link ini ya! US Travel

Karena saya akan mengikuti program yang disponsori oleh Department of State, pengurusan visa ini bisa dibilang lebih ringan dibandingkan mengajukan sendiri. Tapi langkah-langkahnya ga jauh beda kok. Oh iya karena saya disponsori oleh Department of State, jadi bebas biaya, jika teman-teman mengajukan sendiri, biaya pembuatan visa J1 adalah 160 dollar. Nah, berikut langkah-langkah pengurusan Visa J1 Exchange Program :

Mengisi aplikasi online di Consular Electronic Application Di aplikasi ini kita mengisi data kita seperti personal, sponsor kita siapa, akan stay dimana selama disana, data orang tua kita, data suami/anak, data pekerjaan kita, security questions yang banyak itu dan masih banyak lagi. Pastikan semua data kita tidak ada kesalahan ya. Setelah selesai mengisi data kita, kita akan mendapatkan confirmation page yang bisa dikirimkan ke email kita.

Jadwal wawancara. Karena saya dan teman-teman pembuatan visanya dikoordinir dari US Embassy, saya hanya mendapatkan berita jadwal wawancara melalui email dari pihak Kedutaan. Tapi untuk teman-teman yang mengajukan sendiri, dapat pula menyesuaikan jadwal wawancara secara online.

Wawancara Visa. jadi ini pertama kalinya saya mengurus visa untuk luar negeri dan langsung dihadapkan dengan ketatnya keamanan dari Kedutaan besar Amerika! Sebelum interview kita akan dibariskan dua banjar, disitu petugas wanita dari kedutaan mengarahkan apa saja yang tidak boleh dibawa ke dalam seperti, handphone, powerbank, charger apapun, earphone, aneka kabel, makanan, minuman, flashdisk, hardisk. Teman-teman yang membawa makanan dan minuman pun harus menghabiskannya sebelum masuk ke dalam Kedutaan di Jln Medan Merdeka, Jakarta atau membuangnya ke tempat sampah yang telah disediakan. Oiya dokumen kelengkapan untuk interview visa yang saya bawa adalah ID Card (KTP), confirmation page, print out aplikasi online, foto 5×5 background putih, dan paspor tentunya. Selain itu karena kebetulan suami lagi disana dengan memegang visa non-immigrant juga, saya membawa kelengkapan buku nikah, ITO suami, dan surat tugas suami. Tapi ternyata saya too Overprepared (tapi gapapa buat jaga-jaga). Lebih baik semua dokumen tersebut dimasukkan ke dalam 1 Map untuk memudahkan. Setelah masuk dengan pengecekan yang super ketat, saya sampai di ruang tunggu interview visa, untungnya kita serombongan, jadi walau tanpa HP pun menunggu jadi tak terasa huehehehe. Oiya jangan takut kehausan, karena disana disediakan air minum.

Setelah kita masuk, kita nanti akan mengantri sebanyak 3 orang setiap kloternya untuk register dan scan sidik jari. Setelah menunggu kurang lebih sekitar 10 menit, nanti kita akan dipanggil oleh konsuler bule untuk melaksanakan interview. Terasa dag-dig-dug apalagi teman saya pernah ditolak pengajuan visa turisnya ke US karena ada temannya disana, lah ini ada suami disana gimana dong? Tapi ternyata interview berjalan sekitar 5 menit, dan hanya ditanyakan pertanyaan-pertanyaan umum seputar Program Exchange, sudah menikah? Sudah punya anak? dan voila! dapat kartu putih tanda visa akan diproses. yeay! Tetapi saya juga dapat kertas hijau, karena masih ada kelengkapan yang belum terpenuhi seperti DS-2019 yang merupakan lembar sakti untuk berkunjung ke Amerika. Jadi sebelum pelaksanaan interview via, dari pihak Embassy email jikalau sesungguhnya saya dapet jadwal interview Visa di Surabaya, tetapi karena saya memohon untuk bisa di jakarta, si Kertas DS-2019 masih dalam perjalanan dari Surabaya menuju Jalan Medan Merdeka. Tapi no worries sih, visa tetap granted!

Dan saat ini H-2 minggu saya akan berangkat menuju Washington DC, US! Sampai jumpa di blog mengenai YSEALI dan trip to US lainnya! 🙂

 

 

 

Tools Penilaian Risiko Ergonomi – Rapid Entire Body Assessment (REBA) Part 2

Halo!

Finally setelah berkutat dengan tugas kantor dan persiapan-persiapan lainnya akhirnya bisa lanjut untuk nulis blog lagi. Kali ini kita sudah sampai di tools penilaian risiko ergonomi – Rapid Entire Body Assessment (REBA) Part 2. Lanjutan dari  part 1 yang bisa kalian akses disini Tools Penilaian Risiko Ergonomi – Rapid Entire Body Assessment (REBA) Part 1

Setelah postingan sebelumnya kita sudah sampai di skoring postur Grup A + Beban, postingan ini akan kita pelajari sama-sama bagaimana menghitung grup B hingga final skor.

Langkah-Langkah Penilaian dan Skoring dengan Metode REBA (Grup B, Lengan dan Pergelangan :

  1. Menilai Postur Lengan bagian atas (Bahu)

Bahu

Pada saat kita melaksanakan observasi untuk menilai postur lengan bagian atas (bahu), kita dapat menggunakan acuan sebagai berikut:

Postur Skor  Kiri & Kanan
Lengan Bagian Atas (Bahu) Kiri Kanan
Flexion: 0 – 20°
Extension: 0 – 20°
1 Lengan berputar/ke samping: +1

Bahu terangkat: +1

Lengan tersangga/bersandar -1

Flexion: 20 – 45°
Extension: > 20°
2
Flexion: 45 – 90° 3
Flexion: > 90° 4

Posisi lengan bagian atas dapat dilihat di kedua sisi kanan dan kiri, selanjutnya dapat dirata-ratakan (Average) dan dibulatkan dari kondisi kedua bahu (lengan bagian atas yang diobservasi.

2. Menilai Postur Tangan/Lengan Bagian Bawah (Siku).

Lengan Bagian Bawah (Siku)

Pada poin observasi ini, tidak ada tambahan skor lainnya selain posisi lengan bagian bawah sesuai dengan gambar. Kriteria detail dapat dilihat pada tabel berikut :

Postur Skor Total: Kiri & Kanan
Lengan Bagian Bawah (Siku) Kiri Kanan
Flexion: 60 – 100° 1
Flexion: < 60°
Extension: > 100°
2

Nilai postur kanan dan kiri selanjutnya dapat dirata-ratakan dan dibulatkan.

3. Menilai Postur Pergelangan Tangan

Pergelangan Tangan

Poin observasi ini difokuskan pada pergelangan tangan. Jika  pergelangan terdapat posisi berputar (twisting) maka skor observasi ditambahkan 1. Posisi postur pergelangan tangan dapat dilihat di kedua sisi kanan dan kiri, selanjutnya dapat dirata-ratakan (Average) dan dibulatkan dari kedua postur pergelangan tangan yang diobservasi.

Postur Score Total: Kiri & Kanan
Pergelangan Tangan Kiri Kanan
Flexion: 0 – 15°
Extension: 0 – 15°
1 Jika pergelangan  menyimpang/berputar: +1
Flexion: > 15°
Extension: > 15°
2

4. Selanjutnya adalah kalkulasi Total Postur Bahu + Siku + Pergelangan tangan dengan menggunakan tabel B

Tabel B

Contoh : Jika didapatkan rata-rata skor Lengan Bagian atas kanan & kiri = 3, Skor rata-rata Pergelangan tangan kanan dan kiri = 2 dan skor rata-rata Lengan Bagian Bawah (siku) kanan dan kiri = 2, maka didapatkan hasil sebagai berikut :

Tabel B Filled

Skor Tabel B adalah 5.

5. Setelah skor didapatkan, maka langkah selanjutnya adalah mencari skor coupling (pegangan/handle).

Berikut detail masing-masing mengenai coupling (pegangan/handle)

Postur Skor Total: Kiri & Kanan
Pegangan (Coupling) Kiri Kanan
Baik 0 Pegangan pas dan tepat ditengah, genggaman kuat
Fair 1 Pegangan tangan bisa diterima tapi tidak ideal/couping lebih sesuai digunakan oleh bagian lain dari tubuh
Buruk 2 Pegangan tangan tidak bisa diterima walaupun memungkinkan
Tidak Layak 3 Dipaksakan genggaman yang tidak aman, tanpa pegangan couplingtidak sesuai digunakan oleh bagian lain dari tubuh

Skor dilihat postur kanan dan kiri, selanjutnya dapat dicari rata-rata dari kedua coupling kanan dan kiri. Setelah didapatkan skor coupling, tambahkan dengan skor pada tabel B.

Contoh : Skor  Tabel B = 5, Skor Coupling = 1, maka 5+1 = 6, skor ini akan digunakan untuk mencari skor pada tabel C.

6. Total Skor A dan Skor B dengan menggunakan Tabel C untuk mendapatkan Skor C

Tabel C.png

Sesuai dengan nilai di postingan REBA yang lalu, di link ini Tools Penilaian Risiko Ergonomi – Rapid Entire Body Assessment (REBA) Part 1 diketahui bahwa skor A adalah 6, Skor B adalah 6, maka akan didapatkan Skor C dengan menggunakan tabel C.

Contoh :

Tabel C filled

Didapatkan Skor C adalah 8, apakah ini adalah final skor? Belum. Karena kita masih harus menambahkan skor C ini dengan Activity Score.

7. Skor akhir dengan metode REBA

Skor dari tabel C, ditambah dengan skor aktivitas. Skor aktivitas didapatkan dengan :

Aktivitas
Jika 1 atau lebih bagian tubuh statis, ditahan lebih dari 1 menit +1
Jika pengulangan gerakan dan rentang waktu singkat, diulang lebih dari 4 kali permenit (tidak termasuk berjalan) +1
Jika gerakan menyebabkan perubahan atau pergeseran atau pergeseran postur yang cepat dari posisi awal +1

Contoh Final Score : Skor C = 8+1+0+0 = 9

Skor Akhir dari contoh ini adalah 9, Langkah selanjutnya adalah membandingkan dengan tabel Action Level

8. Membandingkan dengan Tabel Action Level, maka didapatkan sebagai berikut:

 

REBA Score

Risk Level Action
1 Diabaikan Tidak Diperlukan
2 – 3 Rendah Mungkin Diperlukan
4 – 7 Sedang Diperlukan
8 – 10 Tinggi Necessary Soon
11 – 15 Sangat Tinggi Immediately Necessary

Contoh : skor final REBA adalah 9, Risk Level sesuai dengan tabel adalah Tinggi, action yang harus segera dilaksanakan adalah perlu perbaikan secepatnya (Necessary Soon).

Untuk mempermudah, langkah-langkah perhitungan REBA dapat dilihat dengan Bagan di bawah ini :

Summary REBA

 

And Yes Finally, Semoga bermanfaat 🙂

 

Don’t dare to dream BIG! – Road to YSEALI Fall 2017

Dream what you dare to dream. Go where you want to go. Be what you want to be

– Earl Nightingale – 

Postingan kali ini agak ke kehidupan pribadi sih, tapi masih related-lah sama pekerjaan saya. Saya pertama kali tergerak untuk mulai “melihat dunia” adalah ketika saya kuliah di semester 3. Berawal dari “kebosanan” saya akan hidup dari kecil TK, SD, SMP, SMA di Kota Tangerang dan kuliah pun bisa pulang pergi seminggu sekali Tangerang-Depok hingga akhirnya saat itu saya membaca buku laskar pelangi karya Andrea Hirata dan dilanjutkan dengan buku sang pemimpi yang sangat menginspirasi saya untuk bisa melanjutkan kuliah di negeri orang. Di umur saya yang sudah genap 28 tahun ini, saya belum pernah sama sekali pergi ke luar negeri. Bahkan saya belum pernah sekali pun ke negeri tetangga di lingkup ASEAN (kecuali batas negara Papua Nugini :p). Tapi saya tetap bangga, bangga karena at least, 5 pulau terbesar di Indonesia sudah pernah saya sambangi (*jumawa) yang sudah menjadi target saya sebelum saya berusia 30 tahun.

Target selanjutnya adalah luar negeri. Entah apa yang menggerakkan keinginan saya sehingga semakin kuat untuk bisa ke luar negeri. Sesungguhnya mendaftar untuk beasiswa luar negeri sudah saya lakukan sejak saya lulus. Waktu itu saat saya baru lulus tahun 2011 saya mencoba daftar Australia Awards, beasiswa punya pemerintah Australia, dan saya gagal. Setelah itu, melanjutkan kuliah lagi tidak menjadi prioritas saya. Saya lebih banyak fokus untuk menambah ilmu melalui pengalaman kerja di swasta dan akhirnya memutuskan ke dunia pemerintahan. Hingga di pertengahan tahun 2016 di saat saya merasa bekal secara pengetahuan, pengalaman dan emosional saya sudah matang, saya mulai kembali mencari-cari peluang untuk mendapatkan beasiswa ke Luar Negeri. Saya memilih LPDP sebagai “kendaraan” saya untuk bisa melanjutkan kuliah ke Luar Negeri. Kenapa harus luar negeri? kebetulan keilmuan saya adalah Occupational Health and Safety yang sangat berkembang di luar negeri. Setelah mendapatkan izin suami (Alhamdulilah suami yang baik banget di tengah keterbatasan dan kondisi kita yang masih hidup jauh-jauhan) saya segera tes IELTS dengan penuh kenekatan dan mendaftar LPDP. Alhamdulilah saya lolos seluruh rangkaian seleksi dan mendapatkan kesempatan untuk kuliah di University of Queensland Australia. Ya, Australia negara yang saya impikan sejak awal lulus kuliah. Tapi, impian saya untuk segera menjejakan kaki di negeri kangguru pertengahan Juli 2017 sirna. Kenapa? karena saya harus menerima kebijakan terbaru LPDP untuk memulai perkuliahan paling cepat 2018. Saat itu Desember 2016, dan saya masih “kekeuh” ingin segera berkuliah di tahun 2017, apa daya tetap tidak bisa.

Sambil menunggu tahun 2018 (karena udah ga sabar banget sekolah lagi), saya mencari-cari peluang untuk bisa tetap “belajar ke luar negeri” walaupun bukan melalui program master di UQ yang bergeser jadwalnya (sabar hanya bergeser). Akhirnya saya memutuskan untuk mencoba apply program YSEALI, short course StuNed, dan Future Leader Connect di  UK. Setelah pengumuman StuNed saya dinyatakan belum lulus, saya mulai pasrah untuk pengumuman-pengumuman lainnya dan mencoba apply short course ke India. Di saat saya sudah siap untuk mengirimkan berkas ke Kedubes India, saat itu pula pengumuman Interview YSEALI Professional Fellows Program Fall 2017 masuk ke email saya! Wow bahkan saya sudah hampir melupakan karena sudah sangat pasrahh. Oke, saya jelaskan secara singkat apa itu YSEALI. YSEALI adalah Young South East Asia Leaders Initiative yang diinisiasi oleh Pemerintah Amerika Serikat di era pemerintahannya Barrack Obama, saya kebetulan ikut seleksi untuk YSEALI Professional Fellows Program untuk tema Legislative Process and Governance. Jadi saya akan menghabiskan total sekitar 6 minggu, minggu pertama briefing awal di Washington DC sebelum ke worksite untuk “magang” selama 4 minggu di institusi di Amerika Serikat sesuai dengan background pekerjaan saya dan 1 minggu terakhir akan kembali ke Washington DC untuk menghadiri kongres yang akan dihadiri seluruh peserta. Sounds interesting yes!

Interview untuk YSEALI PFP Fall 2017 dilaksanakan via skype. Kebetulan saya mendapatkan jadwal tanggal 19 Juni 2017 di pagi hariii. cuma ada waktu sekitar 2 hari untuk mempersiapkan diri dengan baca lagi essay saya buat. Bahkan saya lupa dulu essay softcopy-nya saya simpen dimana karena sewaktu daftar langsung mengisi form online. Seperti biasa  ketika saya akan menghadapi interview, saya harus ngaca dan ngomong sendiri di depan cermin di dalam kamar untuk self-simulasi interview. Saya juga minta izin sama Pak Kepala Balai untuk pinjem ruang rapatnya sekitar 30 menit untuk interview. Interview sesungguhnya dimulai pukul 09.00 WITA dan dilaksanakan dengan conference call tanpa video oleh 3 orang interviewer. Dari perwakilan ICMA langsung dari Washington DC, perwakilan APEKSI, dan perwakilan kedutaan besar Amerika. Hal terpenting dalam interview ini adalah koneksi internet! kebetulan saya tidak memakai internet kantor karena lebih lambat dari koneksi internet handphone saya, itupun sempat terputus ketika interview dengan perwakilan ICMA sampai saya meminta beliau mengulang kembali pertanyaannya. Interview berlangsung cukup cepat, kurang lebih 20 menit, tidak seperti estimasi yaitu 30 menit. Pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan seputar essay saya, kegiatan saya disini, leadership, dan apa sih yang mau saya lakukan setelah saya kembali dari Amerika jika saya terpilih. Oiya interview full dilaksanakan dengan bahasa inggris yaa. Selepas interview saya bertanya kapan kira-kira Pengumuman lolos akan disampaikan, Mba Indah perwakilan APEKSI menjawab sekitar 2 minggu setelah libur lebaran.

Sekitar 8 hari setelah libur lebaran, tepatnya tanggal 11 Juli 2017, saya mendapatkan email yang menyatakan bahwa saya lolos menjadi salah satu fellows yang akan berkesempatan magang di Amerika Serikat! Wow! yang membuat double excited adalah karena suami saya saat ini juga sedang menjalani studi-nya di Amerika Serikat. Alhamdulilah. Oiya kegiatan ini fully funded dari Pemerintah AS dan ICMA hingga visa pun diurusin pula sama pihak APEKSI. Saat ini saya sedang mengumpulkan informasi mengenai apa yang dibutuhkan nanti karena baru akan berangkat di bulan Oktober. Preparing myself!

Dari semua yang saya dapatkan saat ini, saya semakin menyadari bahwa Allah itu Maha Baik, dan benar-benar mengerti apa yang dibutuhkan hambanya. There is always a reason behind everything. Ternyata hikmah jadwal kuliah Master saya bergeser ke tahun 2018 adalah saya memiliki kesempatan untuk menjejakan kaki di Amerika Serikat, negara luar negeri pertama saya.

Tools Penilaian Risiko Ergonomi – Rapid Entire Body Assessment (REBA) Part 1

Hola!

Setelah menjalani bulan Juli yang penuh kejutan, baru sempet update blog lagi. Masih dalam rangkaian tools ergonomi yang digunakan untuk penilaian Postur Kerja, durasi, dan frekuensi, kali ini saya mau share tentang salah satu tools pengukuran ergonomi yang cukup famous di kalangan Mahasiswa K3 dan ergonomist yaitu Rapid Entire Body Assessment (REBA).

Pengenalan tentang REBA, REBA adalah salah satu metode yang bisa digunakan untuk menganalisa postur kerja. REBA dikembangkan oleh Dr. Sue Hignett dan Dr. Lynn Mc Atamney yang merupakan ergonom dari universitas di Nottingham (University of Nottingham). Rapid Entire Body Assessment adalah sebuah metode yang dikembangkan dalam bidang ergonomi dan dapat digunakan secara cepat untuk menilai posisi kerja atau postur leher, punggung, lengan pergelangan tangan dan kaki seorang pekerja. Selain itu metode ini juga dipengaruhi faktor coupling (pegangan), beban eksternal yang ditopang oleh tubuh serta aktifitas pekerja. Penilaian dengan metode REBA ini dapat dianalisa dengan cepat dan mudah.

Penilaian postur dalam metode REBA melibatkan :

  • Grup A : leher (neck), bagian punggung (trunk), dan kaki (legs)
  • Grup B : lengan bagian atas (upper arm), lengan bagian bawah (lower arm) dan wrist (pergelangan tangan).

Alat bantu apa yang kita perlukan dalam pengukuran ini? Kita butuh kamera, video, meteran (jahit), ceklis, dan alat tulis.

Langkah-Langkah Penilaian dan Skoring dengan Metode REBA (Grup A) :

  1. Menilai Postur Leher (Locate Neck Posture)

Neck Posture

Nah pada postur leher ini kita akan mengobservasi pekerja dan menilai berapa sudut yang dibentuk oleh leher pekerja. Interpretasinya gini :

Postur Skor Total

Leher

Flexion: 0 – 20° 1 Jika leher berputar (twisted)  atau miring (tilted) ke samping skor ditambah +1
Flexion: > 20°
Extension > 20°
2

Nah, setelah observasi dan sudah menentukan skor, masukkan dalam kolom total untuk postur leher yaa.

2. Menilai Postur Punggung/Badan

Postur Trunk

Sebenernya dalam bahasa inggrisnya ini adalah trunk, karena diterjemahin ke Bahasa Indonesia agak bingung juga menerjemahkannya, yang pasti ini adalah bagian belakang tubuh (batang tubuh) jadi secara visual bisa kita lihat di daerah punggung pekerja. Interpretasi tentang batang tubuh ada di tabel di bawah ini ya :

Postur Skor Total
Punggung (Trunk)
Tegak (Alamiah) 1 Jika badan berputar (twisted)  atau  miring (tilted) ke samping skor ditambah +1
Flexion: 0 – 20°
Extension 0 – 20°
2
Flexion: 20 – 60°
Extension > 20°
3
Flexion: > 60° 4

Sama halnya dengan postur leher, setelah kita tau berapa skor batang tubuhnya pekerja, cuss langsung diisi skor di kotak total punggung.

3. Menilai Postur Kaki (Legs)

Legs

Observasi REBA juga melibatkan observasi pada bagian tubuh kaki karena judulnya aja Rapid Entire Body, jadi kaki juga termasuk dalam bagian tubuh yang diobservasi. Berikut interpretasi dari gambar di atas :

Postur Skor Total
Legs
Kaki tertopang, bobot tersebar merata, jalan atau duduk 1 Jika Lutut
Flexion 30 – 60°: skor ditambah +1
Kaki tidak tertopang, bobot tersebar merata/ postur tidak stabil 2 Jika Lutut
Flexion
> 60°: +2

Skor kaki sudah bisa kita dapatkan nih, mudah bukan?

4. Kalkulasi Total Postur Leher, Punggung/Batang tubuh, dan kaki dengan menggunakan tabel A di bawah ini

Tabel A

Leher

    1 2 3
   

Kaki

     
 

1

 

2

 

3

 

4

 

1

 

2

 

3

 

4

 

1

 

2

 

3

 

4

 

 

 

Skor Postur Punggung

 

1

 

1

 

2

 

3

 

4

 

1

 

2

 

3

 

4

 

3

 

3

 

5

 

6

 

2

 

2

 

3

 

4

 

5

 

3

 

4

 

5

 

6

 

4

 

5

 

6

 

7

 

3

 

2

 

4

 

5

 

6

 

4

 

5

 

6

 

7

 

5

 

6

 

7

 

8

 

4

 

3

 

5

 

6

 

7

 

5

 

6

 

7

 

8

 

6

 

7

 

8

 

9

 

5

 

4

 

6

 

7

 

8

 

6

 

7

 

8

 

9

 

7

 

8

 

9

 

9

ini bentukan tabel A-nya, bingung ga cara masukin skornya? Sebenernya sangat-sangat mudah, jadi kalo kita sudah dapat skor postur leher (1 atau 2 atau 3), kita lingkari di di tabel bagian leher tersebut skornya, lalu lingkari juga skor punggung (range 1 – 5) dan yang terakhir skor kaki (range 1 -4). Setelah kletemu masing-masing tarik garis lurus untuk nemuin ketiga skor tersebut, dapet deh skor grup A. Masih belum jelas? baiklah begini contohnya :

tabel contoh

Nah skor grup A adalah 5 (contoh). Apakah selesai sampai disini? Oh tentu tidak, setelah kita mendapatkan skor grup A kita masih harus mencari total A.

5. Menambahkan nilai beban dan gaya (force)

Dalam Observasi ergonomi dengan menggunakan metode REBA, diperlukan pula perhitungan beban. Setelah kita mendapatkan total skor grup A (Leher, Punggung, dan Kaki), selanjutnya kita tambahkan dengan skor beban. Interpretasinya adalah sebagai berikut :

Range Score Total
Beban
< 5 kg
< 11 lbs
0 Penambahan Beban secara cepat atau tiba-tiba tambahkan  +1
5 – 10 kg
11 – 22 lbs
1
> 10 kg
> 22 lbs
2

Nah total skor grup A tadi ditambahkan dengan beban dan gaya. Jika beban yang didapatkan oleh pekerja kurang dari 5kg maka tidak perlu ada penambahan, jika beban diantara 5 – 10 kg, maka skor ditambahkan +1, dan jika beban  lebih dari 10 kg maka skor ditambahkan +2. Jika ada gaya yang terjadi (secara cepat atau tiba-tiba) skor ditambahkan +1.

Contoh :

Kita sudah dapat skor untuk total postur grup A adalah 5, lalu pada observasi pekerja mengangkat beban sebesar 6 kg, dan tidak ada penambahan beban yang secara cepat atau tiba-tiba. Maka skor A adalah 5 + 1 = 6

Nah begitu cara perhitungan untuk Grup A, tapi ini belum selesai ya sis bro, kita masih harus menghitung Total Postur B, Coupling Score, Activity Score dll sampai nanti kita akhirnya mendapatkan skor akhir! Tunggu di part 2 yaaa.