Pembuatan Visa J1 Exchange Program

Halo!

Masih dalam rangka persiapan untuk Program YSEALI (Young South East Asian Leaders Initiative) Fall 2017, kali ini saya ingin share proses pembuatan Visa J1 saya. Jadi dalam program YSEALI ini seluruh fellows akan menggunakan visa non immigrant J1 untuk bisa berangkat ke US dan mengikuti program YSEALI selama kurang lebih 5.5 minggu.

Apa itu visa J1? Visa J1 adalah visa yang biasa digunakan untuk mengikuti program exchange ke Amerika Serikat. Nah pemegang Visa J1 ini harus segera kembali setelah program dan baru bisa apply kembali untuk visa immigrant atau visa bekerja setelah 2 tahun. Jadi selama 2 tahun itu kita harus mengabdi dulu untuk bangsa dan negara. Pikir saya, saya toh tidak berniat untuk apply visa imigran atau bekerja di US sana hehe. Bolehkah jika kita ingin apply visit sebagai turis atau belajar melanjutkan kuliah disana?  jika belum 2 tahun? jawabannya adalah boleh. Detail untuk masing-masing jenis visa dapat diakses di link ini ya! US Travel

Karena saya akan mengikuti program yang disponsori oleh Department of State, pengurusan visa ini bisa dibilang lebih ringan dibandingkan mengajukan sendiri. Tapi langkah-langkahnya ga jauh beda kok. Oh iya karena saya disponsori oleh Department of State, jadi bebas biaya, jika teman-teman mengajukan sendiri, biaya pembuatan visa J1 adalah 160 dollar. Nah, berikut langkah-langkah pengurusan Visa J1 Exchange Program :

Mengisi aplikasi online di Consular Electronic Application Di aplikasi ini kita mengisi data kita seperti personal, sponsor kita siapa, akan stay dimana selama disana, data orang tua kita, data suami/anak, data pekerjaan kita, security questions yang banyak itu dan masih banyak lagi. Pastikan semua data kita tidak ada kesalahan ya. Setelah selesai mengisi data kita, kita akan mendapatkan confirmation page yang bisa dikirimkan ke email kita.

Jadwal wawancara. Karena saya dan teman-teman pembuatan visanya dikoordinir dari US Embassy, saya hanya mendapatkan berita jadwal wawancara melalui email dari pihak Kedutaan. Tapi untuk teman-teman yang mengajukan sendiri, dapat pula menyesuaikan jadwal wawancara secara online.

Wawancara Visa. jadi ini pertama kalinya saya mengurus visa untuk luar negeri dan langsung dihadapkan dengan ketatnya keamanan dari Kedutaan besar Amerika! Sebelum interview kita akan dibariskan dua banjar, disitu petugas wanita dari kedutaan mengarahkan apa saja yang tidak boleh dibawa ke dalam seperti, handphone, powerbank, charger apapun, earphone, aneka kabel, makanan, minuman, flashdisk, hardisk. Teman-teman yang membawa makanan dan minuman pun harus menghabiskannya sebelum masuk ke dalam Kedutaan di Jln Medan Merdeka, Jakarta atau membuangnya ke tempat sampah yang telah disediakan. Oiya dokumen kelengkapan untuk interview visa yang saya bawa adalah ID Card (KTP), confirmation page, print out aplikasi online, foto 5×5 background putih, dan paspor tentunya. Selain itu karena kebetulan suami lagi disana dengan memegang visa non-immigrant juga, saya membawa kelengkapan buku nikah, ITO suami, dan surat tugas suami. Tapi ternyata saya too Overprepared (tapi gapapa buat jaga-jaga). Lebih baik semua dokumen tersebut dimasukkan ke dalam 1 Map untuk memudahkan. Setelah masuk dengan pengecekan yang super ketat, saya sampai di ruang tunggu interview visa, untungnya kita serombongan, jadi walau tanpa HP pun menunggu jadi tak terasa huehehehe. Oiya jangan takut kehausan, karena disana disediakan air minum.

Setelah kita masuk, kita nanti akan mengantri sebanyak 3 orang setiap kloternya untuk register dan scan sidik jari. Setelah menunggu kurang lebih sekitar 10 menit, nanti kita akan dipanggil oleh konsuler bule untuk melaksanakan interview. Terasa dag-dig-dug apalagi teman saya pernah ditolak pengajuan visa turisnya ke US karena ada temannya disana, lah ini ada suami disana gimana dong? Tapi ternyata interview berjalan sekitar 5 menit, dan hanya ditanyakan pertanyaan-pertanyaan umum seputar Program Exchange, sudah menikah? Sudah punya anak? dan voila! dapat kartu putih tanda visa akan diproses. yeay! Tetapi saya juga dapat kertas hijau, karena masih ada kelengkapan yang belum terpenuhi seperti DS-2019 yang merupakan lembar sakti untuk berkunjung ke Amerika. Jadi sebelum pelaksanaan interview via, dari pihak Embassy email jikalau sesungguhnya saya dapet jadwal interview Visa di Surabaya, tetapi karena saya memohon untuk bisa di jakarta, si Kertas DS-2019 masih dalam perjalanan dari Surabaya menuju Jalan Medan Merdeka. Tapi no worries sih, visa tetap granted!

Dan saat ini H-2 minggu saya akan berangkat menuju Washington DC, US! Sampai jumpa di blog mengenai YSEALI dan trip to US lainnya! 🙂

 

 

 

Don’t dare to dream BIG! – Road to YSEALI Fall 2017

Dream what you dare to dream. Go where you want to go. Be what you want to be

– Earl Nightingale – 

Postingan kali ini agak ke kehidupan pribadi sih, tapi masih related-lah sama pekerjaan saya. Saya pertama kali tergerak untuk mulai “melihat dunia” adalah ketika saya kuliah di semester 3. Berawal dari “kebosanan” saya akan hidup dari kecil TK, SD, SMP, SMA di Kota Tangerang dan kuliah pun bisa pulang pergi seminggu sekali Tangerang-Depok hingga akhirnya saat itu saya membaca buku laskar pelangi karya Andrea Hirata dan dilanjutkan dengan buku sang pemimpi yang sangat menginspirasi saya untuk bisa melanjutkan kuliah di negeri orang. Di umur saya yang sudah genap 28 tahun ini, saya belum pernah sama sekali pergi ke luar negeri. Bahkan saya belum pernah sekali pun ke negeri tetangga di lingkup ASEAN (kecuali batas negara Papua Nugini :p). Tapi saya tetap bangga, bangga karena at least, 5 pulau terbesar di Indonesia sudah pernah saya sambangi (*jumawa) yang sudah menjadi target saya sebelum saya berusia 30 tahun.

Target selanjutnya adalah luar negeri. Entah apa yang menggerakkan keinginan saya sehingga semakin kuat untuk bisa ke luar negeri. Sesungguhnya mendaftar untuk beasiswa luar negeri sudah saya lakukan sejak saya lulus. Waktu itu saat saya baru lulus tahun 2011 saya mencoba daftar Australia Awards, beasiswa punya pemerintah Australia, dan saya gagal. Setelah itu, melanjutkan kuliah lagi tidak menjadi prioritas saya. Saya lebih banyak fokus untuk menambah ilmu melalui pengalaman kerja di swasta dan akhirnya memutuskan ke dunia pemerintahan. Hingga di pertengahan tahun 2016 di saat saya merasa bekal secara pengetahuan, pengalaman dan emosional saya sudah matang, saya mulai kembali mencari-cari peluang untuk mendapatkan beasiswa ke Luar Negeri. Saya memilih LPDP sebagai “kendaraan” saya untuk bisa melanjutkan kuliah ke Luar Negeri. Kenapa harus luar negeri? kebetulan keilmuan saya adalah Occupational Health and Safety yang sangat berkembang di luar negeri. Setelah mendapatkan izin suami (Alhamdulilah suami yang baik banget di tengah keterbatasan dan kondisi kita yang masih hidup jauh-jauhan) saya segera tes IELTS dengan penuh kenekatan dan mendaftar LPDP. Alhamdulilah saya lolos seluruh rangkaian seleksi dan mendapatkan kesempatan untuk kuliah di University of Queensland Australia. Ya, Australia negara yang saya impikan sejak awal lulus kuliah. Tapi, impian saya untuk segera menjejakan kaki di negeri kangguru pertengahan Juli 2017 sirna. Kenapa? karena saya harus menerima kebijakan terbaru LPDP untuk memulai perkuliahan paling cepat 2018. Saat itu Desember 2016, dan saya masih “kekeuh” ingin segera berkuliah di tahun 2017, apa daya tetap tidak bisa.

Sambil menunggu tahun 2018 (karena udah ga sabar banget sekolah lagi), saya mencari-cari peluang untuk bisa tetap “belajar ke luar negeri” walaupun bukan melalui program master di UQ yang bergeser jadwalnya (sabar hanya bergeser). Akhirnya saya memutuskan untuk mencoba apply program YSEALI, short course StuNed, dan Future Leader Connect di  UK. Setelah pengumuman StuNed saya dinyatakan belum lulus, saya mulai pasrah untuk pengumuman-pengumuman lainnya dan mencoba apply short course ke India. Di saat saya sudah siap untuk mengirimkan berkas ke Kedubes India, saat itu pula pengumuman Interview YSEALI Professional Fellows Program Fall 2017 masuk ke email saya! Wow bahkan saya sudah hampir melupakan karena sudah sangat pasrahh. Oke, saya jelaskan secara singkat apa itu YSEALI. YSEALI adalah Young South East Asia Leaders Initiative yang diinisiasi oleh Pemerintah Amerika Serikat di era pemerintahannya Barrack Obama, saya kebetulan ikut seleksi untuk YSEALI Professional Fellows Program untuk tema Legislative Process and Governance. Jadi saya akan menghabiskan total sekitar 6 minggu, minggu pertama briefing awal di Washington DC sebelum ke worksite untuk “magang” selama 4 minggu di institusi di Amerika Serikat sesuai dengan background pekerjaan saya dan 1 minggu terakhir akan kembali ke Washington DC untuk menghadiri kongres yang akan dihadiri seluruh peserta. Sounds interesting yes!

Interview untuk YSEALI PFP Fall 2017 dilaksanakan via skype. Kebetulan saya mendapatkan jadwal tanggal 19 Juni 2017 di pagi hariii. cuma ada waktu sekitar 2 hari untuk mempersiapkan diri dengan baca lagi essay saya buat. Bahkan saya lupa dulu essay softcopy-nya saya simpen dimana karena sewaktu daftar langsung mengisi form online. Seperti biasa  ketika saya akan menghadapi interview, saya harus ngaca dan ngomong sendiri di depan cermin di dalam kamar untuk self-simulasi interview. Saya juga minta izin sama Pak Kepala Balai untuk pinjem ruang rapatnya sekitar 30 menit untuk interview. Interview sesungguhnya dimulai pukul 09.00 WITA dan dilaksanakan dengan conference call tanpa video oleh 3 orang interviewer. Dari perwakilan ICMA langsung dari Washington DC, perwakilan APEKSI, dan perwakilan kedutaan besar Amerika. Hal terpenting dalam interview ini adalah koneksi internet! kebetulan saya tidak memakai internet kantor karena lebih lambat dari koneksi internet handphone saya, itupun sempat terputus ketika interview dengan perwakilan ICMA sampai saya meminta beliau mengulang kembali pertanyaannya. Interview berlangsung cukup cepat, kurang lebih 20 menit, tidak seperti estimasi yaitu 30 menit. Pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan seputar essay saya, kegiatan saya disini, leadership, dan apa sih yang mau saya lakukan setelah saya kembali dari Amerika jika saya terpilih. Oiya interview full dilaksanakan dengan bahasa inggris yaa. Selepas interview saya bertanya kapan kira-kira Pengumuman lolos akan disampaikan, Mba Indah perwakilan APEKSI menjawab sekitar 2 minggu setelah libur lebaran.

Sekitar 8 hari setelah libur lebaran, tepatnya tanggal 11 Juli 2017, saya mendapatkan email yang menyatakan bahwa saya lolos menjadi salah satu fellows yang akan berkesempatan magang di Amerika Serikat! Wow! yang membuat double excited adalah karena suami saya saat ini juga sedang menjalani studi-nya di Amerika Serikat. Alhamdulilah. Oiya kegiatan ini fully funded dari Pemerintah AS dan ICMA hingga visa pun diurusin pula sama pihak APEKSI. Saat ini saya sedang mengumpulkan informasi mengenai apa yang dibutuhkan nanti karena baru akan berangkat di bulan Oktober. Preparing myself!

Dari semua yang saya dapatkan saat ini, saya semakin menyadari bahwa Allah itu Maha Baik, dan benar-benar mengerti apa yang dibutuhkan hambanya. There is always a reason behind everything. Ternyata hikmah jadwal kuliah Master saya bergeser ke tahun 2018 adalah saya memiliki kesempatan untuk menjejakan kaki di Amerika Serikat, negara luar negeri pertama saya.

Life Path : Seleksi Substansi Beasiswa LPDP – Wawancara

Halo!

Selamat untuk teman-teman yang lolos seleksi administrasi maupun assessment online dan akan melanjutkan seleksi di tahap selanjutnya yaitu seleksi substansi. Kali ini, saya ingin share pengalaman saya mengikuti seleksi substansi LPDP di batch 4 2016. Setelah kemarin saya pernah share mengenai seleksi administrasi di postingan Life Path : Beasiswa LPDP The Series – Seleksi Administrasi kali ini mau share pengalaman pada saat seleksi substansi LPDP. Seperti di batch-batch sebelumnya, Seleksi Substansi terdiri dari 3 tahap seleksi yaitu:

  1. Essay On The Spot
  2. Leaderless Group Discussion
  3. Wawancara

Ketiga tahap tersebut dapat dilakukan setelah kita verifikasi dokumen yaaa. Jadi teman-teman akan mendapatkan jadwal seleksi substansi setelah dinyatakan lolos. Biasanya, seleksi substansi diawali dengan verifikasi dokumen awal oleh panitia seleksi. Oiya karena saya saat ini bekerja dan domisili di Makassar, lokasi tes saya diadakan di Gedung Keuangan Negara (GKN) Urip Sumohardjo Makassar. Saya mendapatkan jadwal seleksi di dua hari. Hari pertama saya hanya melaksanakan verifikasi dokumen, sedangkan hari kedua baru saya melaksanakan 3 proses seleksi substansi. Jadwal seleksi ini bisa berbeda-beda tergantung masing-masing peserta. Ada yang satu hari full verifikasi dokumen dan seleksi substansi, ada yang dua hari dan bahkan ada pula yang dapet jadwal 3 hari.

Verifikasi dokumen dilaksanakan dengan cukup cepat. Jadi pada saat kita masuk ke dalam ruangan untuk verifikasi dokumen, segera saja teman-teman mendaftar dengan menyerahkan kartu peserta untuk di-scan barcode, setelah itu menunggu namanya untuk dipanggil. Sistemnya mirip-mirip di bank, jadi nanti akan ada operator digital yang akan memanggil nama teman-teman untuk melaksanakan verifikasi dokumen. Waktu itu saya menunggu hanya sekitar 15 menit, langsung segera dipanggil. Setelah verifikasi selesai, saya langsung kembali ke Kantor karena saat itu pelaksanaan tes di hari kerja.

Besoknya saya dapet jadwal wawancara di pagi hari. Jadi, urutan wawancara, essay onthe spot dan LGD itu bisa acak. Tidak mesti urut. Ada keuntungan sendiri bagi saya mendapatkan jadwal wawancara di pagi hari. Dimana badan masih wangi, muka masih segar, dan jilbab belum kusut :p.

Wawancara LPDP merupakan item dari rangkaian seleksi substansi yang memiliki proporsi nilai yang sangat besar. Jadi perlu banget kalian maksimal disini. Sekitar 70% dari keseluruhan nilai ada di wawancara (batch 4 2016 lalu). Ditambah juga, jika kalian memenuhi syarat passing grade namun tidak direkomendasikan oleh interviewer, maka tetap kalian tidak dapat lolos beasiswa LPDP ini. Jadi tahap ini krusial sekali kawan!

Wawancara terdiri dari 3 orang interviewer. Kalo di blog-blog yang pernah saya baca katanya sih 2 orang adalah dosen dengan gelar minimal doktor dan  satu orang psikolog. Tapi jujur, saat itu saya tidak bisa membedakan yang mana dosen dan yang mana psikolog hahaha. Sebelum dimulai wawancara, interviewer akan memperkenalkan diri dan meminta izin kita apakah bersedia untuk direkam selama wawancara berlangsung dan lain sebagainya. Oiya, karena saya ingin melanjutkan studi ke luar negeri, 100% wawancara dilaksanakan dengan menggunakan bahasa inggris.  Ini bisa berbeda-beda, karena beberapa teman saya juga tujuan luar negeri tetapi wawancara tidak 100% dengan bahasa inggris.

Proses wawancara saya diawali dengan memperkenalkan diri. Menurut saya, bagaimana kita memperkenalkan diri di awal wawancara merupakan poin yang sangat penting. Kenapa? karena setelah kita memperkenalkan diri kita, interviewer akan mengembangkan pertanyaan-pertanyaannya dari apa yang kita sampaikan di awal. Pada saat itu yang banyak saya jelaskan adalah mengenai pekerjaan saya yaitu di bidang K3. Bagaimana Indonesia masih kekurangan SDM-SDM yang memiliki kompetensi di bidang K3, khususnya di Pemerintahan. Oiya jangan lupa teman-teman terus update dengan program Pemerintah yaa, karena banyak sekali jawaban yang saya sampaikan related dengan program Pemerintah yang sedang dan akan dijalani ke depannya. Pertanyaan di setiap interview pasti beda-beda, tetapi saya lebih banyak ditanyakan mengenai teknis bidang keilmuan saya dan urgensinya bagi indonesia. Ada juga pertanyaan kenapa saya memilih Australia sebagai negara tujuan studi saya, bagaimana cara saya beradaptasi di lingkungan yang baru, apa kontribusi yang telah kamu lakukan dan masih banyak lagi. Alhamdulilah wawancara berjalan dengan lancar. Mungkin saya beruntung karena interviewer yang mewawancarai saya baik-baik dan tidak mengintimidasi.

Karena ini hanya berdasarkan pengalaman saya saja, jadi kemungkinan besar teman-teman akan menghadapi proses wawancara yang berbeda. Tapi gapapa yaa, teman-teman bisa ambil yang baiknya, yang jeleknya jangan ditiru :p

Oiya saya punya tips receh (mihihihihii) untuk teman-teman dalam menghadapi wawancara. Berikut tips receh ala-ala dari saya :

  • Persiapan sebelum wawancara
    • Kuasai CV dan Essay yang kamu submit
      • Ga ada salahnya baca-baca kembali terutama poin-poin penting pada CV dan essay yang kamu submit. Jangan sampai interviewer menangkap kejanggalan karena CV dan essay yang kamu submit berbeda dengan yang kamu ucapkan.
    • Bawa dokumen pendukung aktivitas organisasi atau achievement kamu
      • Ini penting, jikalau teman-teman ditanya oleh interviewer bukti kalo teman-teman pernah menjalani aktivitas di organisasi, tapi kalo ga ditanyain ga perlu sih, kecuali ingin meyakinkan interviewernya.
    • Persiapkan kebugaran diri dengan tidak tidur larut di malam sebelum interview
    • Pakai pakaian yang rapi, sopan dan yang terpenting nyaman
    • Tiba di lokasi wawancara maksimal 30 menit sebelum jadwal interview, atau bahkan lebih baik pula 60 menit. Kenapa? Karena tidak menutup kemungkinan peserta sebelum kamu tidak hadir ataupun durasi wawancaranya yang cukup singkat.
    • Sarapan! Jangan sampe apa yang sudah ada dipikiran teman-teman untuk interview buyar hanya karena perut lapar, pastikan bawa bekal yaa.
    • Enjoy the process! Terkadang kita terlalu takut akan apa yang nanti akan dihadapi, tetap rileks dan percaya bahwa semua akan baik-baik saja.
    • Doa dan restu keluarga. Ga ada salahnya sambil menunggu panggilan, kita berdzikir atau berdoa sesuai dengan agama dan keyakinannya masing-masing yaa.
  • Pada Saat wawancara
    •  Saat bertemu di meja interview
      • Ucapkan salam, assalamualaikum, selamat pagi, Pagi Pak/Bu
      • Duduklah saat dipersilakan untuk duduk, ada beberapa interviewer yang sebenarnya tidak masalah jika kita langsung duduk di kursi yang telah disediakan, akan tetapi karena kita tidak mengetahui sebelumnya tipikal interviewer, ada baiknya menunggu dipersilakan untuk duduk
      • Senyum! Berikan di 1 menit awal pertemuan teman-teman dengan interviewer memiliki kesan yang baik.
    • Saat memperkenalkan diri
      • Perkenalkan sesuatu yang sekiranya bisa meningkatkan kesan pertama yang baik pada interviewer, lebih bagus lagi kalo apa yang diperkenalkan tidak tercantum pada CV. Perkenalan ini penting. Karena akan menggiring interviewer ke pertanyaan-pertanyaan selanjutnya.
    • Mendengarkan pertanyaan
      • Dengarkan dengan seksama dan tunggu pertanyaan interviewer selesai terlebih dahulu, baru teman-teman menjawab pertanyaan. Jangan memotong pembicaraan yaa.
      • Jika tidak mengerti pertanyaan yang disampaikan oleh interviewer, bisa meminta interviewer untuk mengulangi pertanyaannya atau teman-teman memastikan kembali pertanyaannya kepada interviewer. Ini lebih baik dibandingkan teman-teman gengsi bertanya kembali dan akhirnya jawabannya “ga nyambung” yang bisa berakibat fatal.
    • Menjawab pertanyaan
      • Sangat dianjurkan teman-teman menjawab yang ke inti pertanyaan dengan lugas dan jelas.
      • Kontak mata dianjurkan diprioritaskan kepada interviewer yang bertanya, namun sesekali sebaiknya melakukan kontak mata pula dengan kedua interviewer lainnya, hal ini membuat interviewer lain merasa tetap dihargai.
      • Minimalisir “non-words” seperti mmm.. apa yaa.. ngg.. untuk mengantisipasinya lebih baik tarik nafas sebentar akan membuat kita kembali rileks.
      • Intonasi dan volume saat berbicara harus diperhatikan
      • Tetap senyum untuk momen-momen tertentu saat menjawab pertanyaan tapi jangan berlebihan senyumnya yaa :p
    • Menghadapi “blank”
      • Nah ini yang saya hadapi juga pada saat wawancara LPDP lalu. Seketika saya blank terutama ada kata dalam bahasa inggris yang saat itu saya tiba-tiba lupa. Untuk menghadapi hal ini, agar tidak terlihat blank dan menghabiskan waktu saya langsung mengucapkan versi bahasa indonesia dan dilanjutkan kembali dengan bahasa inggris. Intinya tetap percaya diri.
      • Tarik nafas, jeda 1-2 detik untuk mengsingkronkan kembali otak dan jawab kita yaa.. ga masalah kok yang penting tidak terlalu terlihat jelas.
  • Selesai Interview 
    • Ucapkan terima kasih, dan salam
    • Tetap tersenyum apapun yang terjadi
    • Jabat tangan dengan Percaya diri namun santun

Nahh.. begitu kira-kira pengalaman saya sewaktu menjalani proses seleksi substansi wawancara LPDP. Dua tahap lainnya saya ceritakan di postingan terpisah yaa. Goodluck teman-teman. Semoga bermanfaat.

Life Path : Seleksi Beasiswa LPDP -Memilih Universitas

Dalam pencarian dan seleksi beasiswa baik LPDP maupun beasiswa lainnya, temen-temen pasti bingung untuk memilih universitas, mau daftar dimana, universitas apa, negara mana yes? Kalo saya pribadi menentukan saya mau kuliah dimana hingga dapetin Letter of Acceptance itu ga bisa sembarangan, yang terpenting adalah cari restu, pilih negara tujuan, research universitas, dan penentuan pilihan!

Restu pasangan/orang tua :

ini penting. Jadi ceritanya karena saya sudah menikah dan belum memiliki anak dengan kondisi saya dan suami masih jauh-jauhan (saya di Makassar dan suami di Papua), penting bagi saya untuk mendapatkan restu suami. Niat untuk melanjutkan perkuliahan sudah ada sejak 3 tahun setelah saya lulus. Di kala itu saya bujuk suami saya agar saya bisa ikut beasiswa tetapi selalu ditolak, sampai pada pertengahan 2016 akhirnya suami saya luluh dan mengizinkan saya untuk ikut seleksi beasiswa luar negeri, dengan batasan negara Asia atau Australia. Saya pilih Australia.

Research Universitas di Negara Tujuan :

Kenapa saya pilih Australia? Pertama, saya sangat ingin kuliah di Negara berbeda ras, bukan rasis tapi lebih ke- pengen tau juga budaya yang cukup berbeda (jadi Singapura, Malaysia udah ga saya masukkan dalam list), Jepang, Cina, thailand, Korea ga saya pilih  juga karena saya merasa akan lebih lama lagi kalo saya belajar bahasanya meski bisa saja saya apply Kelas Internasional namun, kesehariannya pun saya harus belajar bahasa sehari-harinya (emang dasar males belajar lagi aja sih :p) jadilah saya pilih Australia yang secara geografis deket sama Indonesia, mother tonguenya English, dan bagus dalam penerapan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (sesuai peminatan jurusan untuk Master saya). Setelah saya mantap dengan Australia (sebenernya setelah itu apply juga ke University of Birmingham :p) saya mulai mencari Universitas. Australia punya banyak universitas berskala internasional. Bahkan, beberapa universitas di sana bertengger di 50 besar universitas terbaik world wide versi QS University ranking. Setelah search, universitas -universitas terbaik di Australia, sampailah saya berhadapan dengan pilihan Group of Eight-nya Universitas di Australia. Oiya apa itu Group of Eight? Group of Eight adalah delapan Perguruan tinggi terbaik di Australia. Apa aja? antara lain The University of Melbourne Australia, The Australia National University di Canberra, The University of Sydney, The University of Queensland, Monash University, The University of New South Wales, The University of Western Australia, dan The University of Adelaide. Setelah dapet top uni-nya Aussie, saya mulai search jurusan peminatan saya yaitu Keselamatan dan Kesehatan Kerja (Occupational Health and Safety). Dari ke semua top universitas tersebut, ternyata hanya ada 2 universitas yang masuk dalam pencarian saya, yaitu The University of Queensland (Master of Occupational Health and Safety Science) dan Monash University (Master of Occupational and Environmental Health). Oiya dalam pencarian ini saya tidak hanya mengandalkan website masing-masing kampus saja, tetapi juga saya menghadiri beberapa acara yang menghadirkan perwakilan-perwakilan universitas. Dari situ saya tau bahwa Adelaide uni dan UNSW tidak lagi membuka program untuk Master of Safety Science. Selain group of eight, saya juga search universitas lain yang juga bagus seperti RMIT, QUT, dll. Tetapi di RMIT hanya menyediakan kelas jarak jauh (dimana tidak dicover oleh beasiswa LPDP).

Penentuan Pilihan Universitas :

Setelah riset kecil-kecilan mengenai universitas di Australia, sampailah saya dihadapkan dengan dua pilihan. UQ atau Monash Uni. Dari segi world wide ranking, UQ lebih unggul dibandingkan dengan Monash Uni. Namun ketika saya search (forum mahasiswa) untuk bidang Kesehatan, Monash uni seperti sedikit lebih unggul dibandingkan UQ. Dari segi kota untuk ditinggali, UQ yang terletak di St. Lucia Brisbane lebih sepi dibandingkan Monash uni yang terletak di Clayton (dekat Melbourne) yang lebih metropolitan. Cuaca di Brisbane pun tidak terlalu berbeda dengan Indonesia, dbandingkan dengan Melb yang lebih sejuk. Sejujurnya, saya yang sedari kecil tumbuh di Kota besar agak tertarik untuk tinggal di Melbourne (hihi). Tapi kembali lagi ke pilihan saya lebih spesifik ke bidang studi Master Occupational Health and Safety Science, UQ menurut pendapat saya lebih unggul karena memiliki S1 (bachelor) spesifik di bidang K3, selain itu UQ pernah bekerja sama dengan Kementerian saya di sekitar tahun 90an. Setelah saya search pun informasi mengenai kuliah di UQ dan kota Brisbane masih sedikit dibandingkan cerita kehidupan di Melbourne. Hal ini menjadi peluang bagi saya untuk bisa bercerita dan explore lebih banyak ketika saya sudah berkuliah disana nanti. Sounds interesting yes!

Dari seluruh alasan di atas saya akhirnya mantap memilih The University of Queensland, sebagai kampus tujuan saya untuk melanjutkan gelar Master saya.

Feel so excited! Next chapter saya cerita-cerita gimana dapetin LoA yaa 🙂