Tools Penilaian Risiko Ergonomi – Rapid Entire Body Assessment (REBA) Part 1

Hola!

Setelah menjalani bulan Juli yang penuh kejutan, baru sempet update blog lagi. Masih dalam rangkaian tools ergonomi yang digunakan untuk penilaian Postur Kerja, durasi, dan frekuensi, kali ini saya mau share tentang salah satu tools pengukuran ergonomi yang cukup famous di kalangan Mahasiswa K3 dan ergonomist yaitu Rapid Entire Body Assessment (REBA).

Pengenalan tentang REBA, REBA adalah salah satu metode yang bisa digunakan untuk menganalisa postur kerja. REBA dikembangkan oleh Dr. Sue Hignett dan Dr. Lynn Mc Atamney yang merupakan ergonom dari universitas di Nottingham (University of Nottingham). Rapid Entire Body Assessment adalah sebuah metode yang dikembangkan dalam bidang ergonomi dan dapat digunakan secara cepat untuk menilai posisi kerja atau postur leher, punggung, lengan pergelangan tangan dan kaki seorang pekerja. Selain itu metode ini juga dipengaruhi faktor coupling (pegangan), beban eksternal yang ditopang oleh tubuh serta aktifitas pekerja. Penilaian dengan metode REBA ini dapat dianalisa dengan cepat dan mudah.

Penilaian postur dalam metode REBA melibatkan :

  • Grup A : leher (neck), bagian punggung (trunk), dan kaki (legs)
  • Grup B : lengan bagian atas (upper arm), lengan bagian bawah (lower arm) dan wrist (pergelangan tangan).

Alat bantu apa yang kita perlukan dalam pengukuran ini? Kita butuh kamera, video, meteran (jahit), ceklis, dan alat tulis.

Langkah-Langkah Penilaian dan Skoring dengan Metode REBA (Grup A) :

  1. Menilai Postur Leher (Locate Neck Posture)

Neck Posture

Nah pada postur leher ini kita akan mengobservasi pekerja dan menilai berapa sudut yang dibentuk oleh leher pekerja. Interpretasinya gini :

Postur Skor Total

Leher

Flexion: 0 – 20° 1 Jika leher berputar (twisted)  atau miring (tilted) ke samping skor ditambah +1
Flexion: > 20°
Extension > 20°
2

Nah, setelah observasi dan sudah menentukan skor, masukkan dalam kolom total untuk postur leher yaa.

2. Menilai Postur Punggung/Badan

Postur Trunk

Sebenernya dalam bahasa inggrisnya ini adalah trunk, karena diterjemahin ke Bahasa Indonesia agak bingung juga menerjemahkannya, yang pasti ini adalah bagian belakang tubuh (batang tubuh) jadi secara visual bisa kita lihat di daerah punggung pekerja. Interpretasi tentang batang tubuh ada di tabel di bawah ini ya :

Postur Skor Total
Punggung (Trunk)
Tegak (Alamiah) 1 Jika badan berputar (twisted)  atau  miring (tilted) ke samping skor ditambah +1
Flexion: 0 – 20°
Extension 0 – 20°
2
Flexion: 20 – 60°
Extension > 20°
3
Flexion: > 60° 4

Sama halnya dengan postur leher, setelah kita tau berapa skor batang tubuhnya pekerja, cuss langsung diisi skor di kotak total punggung.

3. Menilai Postur Kaki (Legs)

Legs

Observasi REBA juga melibatkan observasi pada bagian tubuh kaki karena judulnya aja Rapid Entire Body, jadi kaki juga termasuk dalam bagian tubuh yang diobservasi. Berikut interpretasi dari gambar di atas :

Postur Skor Total
Legs
Kaki tertopang, bobot tersebar merata, jalan atau duduk 1 Jika Lutut
Flexion 30 – 60°: skor ditambah +1
Kaki tidak tertopang, bobot tersebar merata/ postur tidak stabil 2 Jika Lutut
Flexion
> 60°: +2

Skor kaki sudah bisa kita dapatkan nih, mudah bukan?

4. Kalkulasi Total Postur Leher, Punggung/Batang tubuh, dan kaki dengan menggunakan tabel A di bawah ini

Tabel A

Leher

    1 2 3
   

Kaki

     
 

1

 

2

 

3

 

4

 

1

 

2

 

3

 

4

 

1

 

2

 

3

 

4

 

 

 

Skor Postur Punggung

 

1

 

1

 

2

 

3

 

4

 

1

 

2

 

3

 

4

 

3

 

3

 

5

 

6

 

2

 

2

 

3

 

4

 

5

 

3

 

4

 

5

 

6

 

4

 

5

 

6

 

7

 

3

 

2

 

4

 

5

 

6

 

4

 

5

 

6

 

7

 

5

 

6

 

7

 

8

 

4

 

3

 

5

 

6

 

7

 

5

 

6

 

7

 

8

 

6

 

7

 

8

 

9

 

5

 

4

 

6

 

7

 

8

 

6

 

7

 

8

 

9

 

7

 

8

 

9

 

9

ini bentukan tabel A-nya, bingung ga cara masukin skornya? Sebenernya sangat-sangat mudah, jadi kalo kita sudah dapat skor postur leher (1 atau 2 atau 3), kita lingkari di di tabel bagian leher tersebut skornya, lalu lingkari juga skor punggung (range 1 – 5) dan yang terakhir skor kaki (range 1 -4). Setelah kletemu masing-masing tarik garis lurus untuk nemuin ketiga skor tersebut, dapet deh skor grup A. Masih belum jelas? baiklah begini contohnya :

tabel contoh

Nah skor grup A adalah 5 (contoh). Apakah selesai sampai disini? Oh tentu tidak, setelah kita mendapatkan skor grup A kita masih harus mencari total A.

5. Menambahkan nilai beban dan gaya (force)

Dalam Observasi ergonomi dengan menggunakan metode REBA, diperlukan pula perhitungan beban. Setelah kita mendapatkan total skor grup A (Leher, Punggung, dan Kaki), selanjutnya kita tambahkan dengan skor beban. Interpretasinya adalah sebagai berikut :

Range Score Total
Beban
< 5 kg
< 11 lbs
0 Penambahan Beban secara cepat atau tiba-tiba tambahkan  +1
5 – 10 kg
11 – 22 lbs
1
> 10 kg
> 22 lbs
2

Nah total skor grup A tadi ditambahkan dengan beban dan gaya. Jika beban yang didapatkan oleh pekerja kurang dari 5kg maka tidak perlu ada penambahan, jika beban diantara 5 – 10 kg, maka skor ditambahkan +1, dan jika beban  lebih dari 10 kg maka skor ditambahkan +2. Jika ada gaya yang terjadi (secara cepat atau tiba-tiba) skor ditambahkan +1.

Contoh :

Kita sudah dapat skor untuk total postur grup A adalah 5, lalu pada observasi pekerja mengangkat beban sebesar 6 kg, dan tidak ada penambahan beban yang secara cepat atau tiba-tiba. Maka skor A adalah 5 + 1 = 6

Nah begitu cara perhitungan untuk Grup A, tapi ini belum selesai ya sis bro, kita masih harus menghitung Total Postur B, Coupling Score, Activity Score dll sampai nanti kita akhirnya mendapatkan skor akhir! Tunggu di part 2 yaaa.

 

Tools Pengukuran Ergonomi – Muscle Fatigue Assessment (MFA) Part 2

Setelah kemarin share mengenai pengantar dari Muscle Fatigue Assessment (MFA) sebagai salah satu tools pengukuran ergonomi, di postingan kali ini akan saya share mengenai cara bagaimana MFA digunakan. Metode ini adalah metode semikuantitatif dengan mengandalkan observasi di lapangan. Untuk melaksanakan penilaian dengan metode MFA ini ada beberapa checklist dan formulir yang digunakan dalam pengukuran ergonomi dengan metode Muscle Fatigue Assessment antara lain:

Checklist Task Identification

Checklist ini digunakan untuk menentukan task atau tugas apa saja yang dilaksanakan oleh pekerja di tempat kerja. Tujuan dari checklist ini adalah untuk menentukan aktivitas dari tugas apa saja yang memiliki risiko yang tinggi. Sebelum melaksanakan checklist untuk penentuan tugas yang akan diobservasi untuk dicari priority of change, sebaiknya dapat melaksanakan wawancara singkat untuk menyamakan persepsi dengan pekerja. Contoh pertanyaan adalah sebagai berikut :

  1. Apa saja pekerjaan yang dilakukan di area kerja ini?
  2. Bagaimana deskripsi dari masing-masing pekerjaan tersebut?
  3. Apa kesulitan yang dirasakan dari masing-masing task/tugas pekerjaan tersebut?
  4. Dari seluruh pekerjaan yang dilakukan, task apa yang paling sulit untuk dilakukan?
  5. Dari pekerjaan tersulit tersebut, berapa durasi, frekuensi, dan pekerja yang melakukan pekerjaan?
  6. Keluhan apa yang dirasakan saat mengerjakan pekerjaan tersulit itu?
  7. Bagaimana shift kerja yang diberlakukan di area pekerjaan ini?

Nah tampilan cheklist task identification-nya kayak gini nih,

Task Identification MFA

yuk kita bahas masing-masing kolom.

Job/Pekerjaan : ditulis pekerjaan untuk bagian apa, misalnya bagging, mixing, dst

Analyst : Kalo misalnya kita mau praktekin ini di Perusahaan, tulis nama siapa yang melaksanakan observasi ya sis.

Date/Tanggal : tulis tanggal pelaksanaan

Task/aktivitas : disitu ada list aktivitas apa aja yang dilakukan dalam pekerjaan. Misalnya proses mixing. ada persiapan bahan, proses penuangan bahan baku, proses penuangan bahan jadi, pengepakan dst. Tulis seluruh aktivitas yang dilakukan dalam pekerjaan tersebut.

% shift time : untuk masing-masing aktivitas tersebut, berapa % waktu aktivitas yang dihabiskan dari seluruh pekerjaan

Considered Difficult :  Dari observasi singkat dan wawancara ini, apakah task tersebut masuk dalam kategori yang sulit?

Change of Priority : Dari sekelebat wawancara dan identifikasi awal (initial assessment) kira-kira udah bisa kita tentukan untuk aktivitas apa saja yang bisa kita observasi. dapat ditulis High, Medium, Low. Jadi kita bisa fokus ke aktivitas yang High saja misalnya atau High Medium.

Formulir Observasi Berdasarkan Aktivitas

Nah, tools MFA ini ditujukan untuk mengetahui bagian tubuh mana saja yang memiliki risiko tertinggi terjadinya akumulasi kelelahan otot. Checklist-nya adalah sebagai berikut :

MFA Formulir

Observasi dapat dilakukan dengan memperhatikan masing-masing anggota tubuh seperti Leher (Neck), Bahu (shoulders), Punggung (Back), Lengan/Siku (Arms/Elbow), Pergelangan tangan/jari jemari (Wrists/Hands/Fingers), Kaki/Lutut (Legs/Knee), Angkel, kaki bawah/jari kaki (Ankels/Feet, Toes). Observasi dapat dilakukan dengan pengamatan langsung, atau dapat merekam dengan video. yang kita amati adalah effort (tenaga yang digunakan), Durasi (waktu yang digunakan masing-masing anggota tubuh untuk melaksanakan pekerjaan), dan Frekuensi (seberapa sering kita melaksanakan tugas tersebut). Dari masing-masing kriteria penilaian tersebut memiliki definisi penilaian.

Effort untuk masing-masing anggota tubuh memiliki penilaian ditandai dengan angka 1 untuk (Light/ringan), angka 2 untuk (moderate/sedang), angka 3 untuk (Heavy/berat). Sedangkan Durasi dinilai dengan angka 1 untuk pergerakan terus menerus kurang dari 6 detik, angka 2 untuk pergerakan terus menerus 6 – 20 detik, angka 3 untuk pergerakan terus menerus 20 – 30 detik, dan angka 4 untuk pergerakan anggota tubuh yang terus menerus selama lebih dari 30 detik (Very High). Untuk Frekuensi definisi angka 1 adalah dilaksanakan kurang dari 1 kali/menit, angka 2 berarti pergerakan 1 – kali/menit, angka 3 menunjukkan bahwa pergerakan dilakukan 5 – 15 kali/menit dan angka 4 adalah pergerakan dilakukan lebih dari 15 kali/menit (Very High).

Dari hasil observasi sesuai dengan definisi pada tabel maka akan didapatkan nilai untuk priority of change sebagai berikut :

MFA Priority of change.png

Nah kira-kira begitu yes, penggunaan tools ergonomi untuk mengetahui akumulasi kelelahan otot pada masing-masing bagian tubuh dengan metode semikuantitatif. Feel free to open a discussion on comment box below yaaa.. karena kebetulan kalo sampe dicontohin detail ga tau bisa sampe part berapa ini hahaha.

Jangan lupa cek part 1-nya yes

Tools Pengukuran Ergonomi – Muscle Fatigue Assessment (MFA) Part 1