Tools Pengukuran Ergonomi – Muscle Fatigue Assessment (MFA) Part 2

Setelah kemarin share mengenai pengantar dari Muscle Fatigue Assessment (MFA) sebagai salah satu tools pengukuran ergonomi, di postingan kali ini akan saya share mengenai cara bagaimana MFA digunakan. Metode ini adalah metode semikuantitatif dengan mengandalkan observasi di lapangan. Untuk melaksanakan penilaian dengan metode MFA ini ada beberapa checklist dan formulir yang digunakan dalam pengukuran ergonomi dengan metode Muscle Fatigue Assessment antara lain:

Checklist Task Identification

Checklist ini digunakan untuk menentukan task atau tugas apa saja yang dilaksanakan oleh pekerja di tempat kerja. Tujuan dari checklist ini adalah untuk menentukan aktivitas dari tugas apa saja yang memiliki risiko yang tinggi. Sebelum melaksanakan checklist untuk penentuan tugas yang akan diobservasi untuk dicari priority of change, sebaiknya dapat melaksanakan wawancara singkat untuk menyamakan persepsi dengan pekerja. Contoh pertanyaan adalah sebagai berikut :

  1. Apa saja pekerjaan yang dilakukan di area kerja ini?
  2. Bagaimana deskripsi dari masing-masing pekerjaan tersebut?
  3. Apa kesulitan yang dirasakan dari masing-masing task/tugas pekerjaan tersebut?
  4. Dari seluruh pekerjaan yang dilakukan, task apa yang paling sulit untuk dilakukan?
  5. Dari pekerjaan tersulit tersebut, berapa durasi, frekuensi, dan pekerja yang melakukan pekerjaan?
  6. Keluhan apa yang dirasakan saat mengerjakan pekerjaan tersulit itu?
  7. Bagaimana shift kerja yang diberlakukan di area pekerjaan ini?

Nah tampilan cheklist task identification-nya kayak gini nih,

Task Identification MFA

yuk kita bahas masing-masing kolom.

Job/Pekerjaan : ditulis pekerjaan untuk bagian apa, misalnya bagging, mixing, dst

Analyst : Kalo misalnya kita mau praktekin ini di Perusahaan, tulis nama siapa yang melaksanakan observasi ya sis.

Date/Tanggal : tulis tanggal pelaksanaan

Task/aktivitas : disitu ada list aktivitas apa aja yang dilakukan dalam pekerjaan. Misalnya proses mixing. ada persiapan bahan, proses penuangan bahan baku, proses penuangan bahan jadi, pengepakan dst. Tulis seluruh aktivitas yang dilakukan dalam pekerjaan tersebut.

% shift time : untuk masing-masing aktivitas tersebut, berapa % waktu aktivitas yang dihabiskan dari seluruh pekerjaan

Considered Difficult :  Dari observasi singkat dan wawancara ini, apakah task tersebut masuk dalam kategori yang sulit?

Change of Priority : Dari sekelebat wawancara dan identifikasi awal (initial assessment) kira-kira udah bisa kita tentukan untuk aktivitas apa saja yang bisa kita observasi. dapat ditulis High, Medium, Low. Jadi kita bisa fokus ke aktivitas yang High saja misalnya atau High Medium.

Formulir Observasi Berdasarkan Aktivitas

Nah, tools MFA ini ditujukan untuk mengetahui bagian tubuh mana saja yang memiliki risiko tertinggi terjadinya akumulasi kelelahan otot. Checklist-nya adalah sebagai berikut :

MFA Formulir

Observasi dapat dilakukan dengan memperhatikan masing-masing anggota tubuh seperti Leher (Neck), Bahu (shoulders), Punggung (Back), Lengan/Siku (Arms/Elbow), Pergelangan tangan/jari jemari (Wrists/Hands/Fingers), Kaki/Lutut (Legs/Knee), Angkel, kaki bawah/jari kaki (Ankels/Feet, Toes). Observasi dapat dilakukan dengan pengamatan langsung, atau dapat merekam dengan video. yang kita amati adalah effort (tenaga yang digunakan), Durasi (waktu yang digunakan masing-masing anggota tubuh untuk melaksanakan pekerjaan), dan Frekuensi (seberapa sering kita melaksanakan tugas tersebut). Dari masing-masing kriteria penilaian tersebut memiliki definisi penilaian.

Effort untuk masing-masing anggota tubuh memiliki penilaian ditandai dengan angka 1 untuk (Light/ringan), angka 2 untuk (moderate/sedang), angka 3 untuk (Heavy/berat). Sedangkan Durasi dinilai dengan angka 1 untuk pergerakan terus menerus kurang dari 6 detik, angka 2 untuk pergerakan terus menerus 6 – 20 detik, angka 3 untuk pergerakan terus menerus 20 – 30 detik, dan angka 4 untuk pergerakan anggota tubuh yang terus menerus selama lebih dari 30 detik (Very High). Untuk Frekuensi definisi angka 1 adalah dilaksanakan kurang dari 1 kali/menit, angka 2 berarti pergerakan 1 – kali/menit, angka 3 menunjukkan bahwa pergerakan dilakukan 5 – 15 kali/menit dan angka 4 adalah pergerakan dilakukan lebih dari 15 kali/menit (Very High).

Dari hasil observasi sesuai dengan definisi pada tabel maka akan didapatkan nilai untuk priority of change sebagai berikut :

MFA Priority of change.png

Nah kira-kira begitu yes, penggunaan tools ergonomi untuk mengetahui akumulasi kelelahan otot pada masing-masing bagian tubuh dengan metode semikuantitatif. Feel free to open a discussion on comment box below yaaa.. karena kebetulan kalo sampe dicontohin detail ga tau bisa sampe part berapa ini hahaha.

Jangan lupa cek part 1-nya yes

Tools Pengukuran Ergonomi – Muscle Fatigue Assessment (MFA) Part 1

Blue Light Hazard

“Eyes are not designed to look directly at light —they are designed to see withlight” Dr Celia Sánchez-Ramos Complutense University, Madrid

Salam Keselamatan!

Bulan Puasa jadi bulan yang produktif buat nge-blog hihi. Nah Post kali ini mau share tentang Blue Light Hazard. Mumpung masih seger diingatan karena baru aja ikut Seminar Internasional Higiene Industri yang di-share langsung sama Profesor dari Unversitas Adelaide sana.

Apa sih Blue Light Hazard? Kalo kata AIHA, 2012 (American Industrial Hygiene Association) Blue Light hazard memiliki karakteristik :

The term “blue light hazard” refers to photochemical damage to the retina caused by light. Light in the wavelength range of 400-500 nm (violet, blue, and blue-green) is most detrimental, but all visible light as well as UV-A radiation can contribute to photochemical injury. The risk is related to the radiance (brightness) of the light source as well as the size of the image of the source that is projected onto the retina.

  • Bahaya dari cahaya yang dapat menyebabkan kerusakan photochemical pada retina mata
  • Cahaya dengan kisaran panjang gelombang antara 400-500 nm. Contoh gambarnya kayak begini :Blue+Light+HEV(http://static1.squarespace.com/static/540b6590e4b029a48855471d/t/5428c55ee4b02ef84b7d9c2e/1411958124481/Blue+Light+HEV.png) 
  • Risiko yang didapatkan secara personal tergantung dengan radiasi (brightness) dari sumber cahaya yang diproyeksikan ke retina.

Blue Light (HEV) kalo kita liat gambar di atas termasuk dalam kategori harmful light yang bisa menyebabkan Makular Damage. Apa itu Makular Damage? AMD (Age-Macular Degeneration) adalah nama dari beberapa kondisi ketidaknormalan dari macula (Retina-International.org). Macular Degeneration ini disebabkan oleh Penurunan fungsi makula yang berada di tengah retina yang berisikan reseptor cahaya, khususnya reseptor cahaya kerucut yang berfungsi untuk mendeteksi warna. Makula ini membantu seseorang untuk menulis, membaca, dan tugas-tugas rinci lannya (dikutip dari detik.com). Penurunan fungsi makula ini pula dapat menyebabkan hilangnya penglihatan.

http://www.retina-international.org/eye-conditions/retinal-degenerative-conditions/amd/#1

Gimana sih dampak penglihatannya? Contohnya kayak gini nih.

AMD

AMD umumnya terjadi pada kelompok usia lanjut > 50 tahun karena dampak yang dirasakan baru muncul saat berusia lanjut. Terdapat banyak Faktor Risiko penyebab AMD antara lain yang sudah cukup dikenal oleh masyarakat luas antara lain merokok, konsumsi banyak lemak, CAHAYA MATAHARI, sering makan makanan kemasan, Obesitas dan Hipertensi (visionaware.org). Nah loh apa hubungannya sama blue light?

Dari Seminar Internasional IIHA lalu, dijelaskan oleh Prof Dino Bahwa Sesungguhnya, Blue Light itu secara alamiah natural ada di matahari. Nah dulu sering banget kita mungkin waktu kecil disuruh Mama atau Bunda untuk ga boleh melihat langsung dengan mata telanjang ke arah matahari tanpa bantuan lensa atau alat apapun. Namun ancaman terkait blue light ini menjadi lebih besar karena sumber blue light saat ini bukan hanya dari cahaya matahari saja, namun juga dhasilkan dari White Light Emitting Diodes (LEDs).

Berdasarkan Jurnal Penelitian yang dikeluarkan oleh Jurnal EHP (Environmental Health Perspective) tahun 2014, Peneliti Chang Ho Yang yang merupakan profesor dan ahli mata dari National Taiwan University mengemukakan bahwa penelitian yang dilakukan pada mencit yang terpajan cahaya White-LED secara langsung menyebabkan kerusakan pada retina. Namun pada penelitian ini tidak menjelaskan paparan sumber buatan (artifisial) tidak langsung seperti yang dialami sebagian besar orang.

Nah kalo kata Profesor di Singapura Seang Mei Saw dari National University of Singapore menjelaskan bahwa Blue light yang dihasilkan outdoor (sinar matahari) could be possible melindungi anak-anak dari efek rabun jauh (Miopi), sedangkan yang indoor atau buatan (artificial) justru memiliki efek berbahaya dan merusak mata.

Sekali lagi, penelitian ini masih sangat minim, dan itupula diakui sama Prof. Dino-nya langsung pada saat presentasi di Seminar Internasional.