Tools Pengukuran Office Ergonomic : Rapid Office Strain Assessment (ROSA) – Part 1

Halo! Masih dalam rangkaian tools penilaian risiko ergonomi, kali ini saya ingin share mengenai tools penilaian ergonomi yang spesifik yaitu dengan menggunakan metode ROSA.

Rapid Office Strain Assessment (ROSA) adalah metode penilaian ergonomi untuk kantor dan pekerjaan yang berhubungan dengan komputer/administrasi. ROSA merupakan salah satu metode pada office ergonomics, dimana penilaiannnya dirancang untuk mengukur risiko yang terkait dengan penggunaan komputer serta untuk menetapkan tingkat tindakan perubahan berdasarkan laporan dari ketidaknyamanan pekerja (Sonne dkk., 2012).

Dalam metode ini penilaian dilakukan dengan menganalisa postur (yang di-capture dalam kamera) yang penilaian dilakukan dengan mengisi checklist, seperti penggunaan checklist pada REBA. Tujuan dari penilaian ergonomi ini adalah sebagai screening tools untuk mengidentifikasi prioritas pengendalian ergonomi di tempat kerja.

Langkah-Langkah Skoring pada ROSA

  1. Penilaian Kursi/Tempat Duduk (Section A)

a. Penilaian Tinggi Kursi dan Pan Depth (Dudukan Kursi)

Kursi ROSA

Deskripsi Gambar Untuk Tinggi Kursi/Chair Height (Dari Kiri ke Kanan) Skor
Lutut membentuk  90o Skor : 1
Kursi terlalu rendah, Lutut membentuk sudut < 90o Skor : 2
Kursi terlalu tinggi, Lutut membentuk sudut > 90o Skor : 2
Kaki tidak menapak ke lantai Skor : 3
Tempat duduk sempit dan tidak leluasa, sehingga memaksa kaki untuk menekuk. Ditambahkan +1
Kursi tidak dapat di-adjust (diatur) untuk menyesuaikan tinggi kaki Ditambahkan +1
Deskripsi Gambar Untuk Lebar Dudukan/ Pan Depth (Dari Kiri ke Kanan) Skor
Jarak antara lutut dan ujung kursi sekitar 7,62 cm Skor 1
Dudukan kursi terlalu panjang ke depan (jarak antara lutut ke permukaan dudukan kursi kurang dari 7,62 cm) Skor 2
Dudukan kursi terlalu sempit (jarak antara lutut ke permukaan dudukan kursi lebih dari 7,62 cm) Skor 2
Kursi tidak dapat di-adjust (diatur) untuk menyesuaikan dudukan kursi Ditambahkan +1

Skor Tinggi Kursi dan Lebar Dudukan Kursi kemudian dikalkulasi. Contohnya jika skor kursi = 3 dan skor lebar dudukan kursi = 2 maka skor keduanya adalah 3+2 = 5. Angka ini akan digunakan untuk mencari skor kursi secara keseluruhan dengan menggunakan tabel skor A.

Langkah selanjutnya adalah mencari skor untuk arm rest (sandaran lengan) dan back support (sandaran punggung).

Arm Rest ROSA

Deskripsi Gambar untuk Arm Rest (Sandaran Lengan) Skor
Siku tersangga dengan baik, rileks, dan sejajar dengan bahu. Skor 1
Siku terlalu tinggi, bahu terangkat/terlalu turun atau tidak adanya penyangga lengan. Skor 2
Penyangga terlalu keras atau mudah rusak Ditambahkan +1
Penyangga lengan terlalu lebar Ditambahkan +1
Sandaran tangan tidak dapat di-adjust (diatur) untuk menyesuaikan tinggi kaki Ditambahkan +1

Back Support ROSA

Deskripsi Sandaran Punggung Skor
Sandaran punggung menyangga keseluruhan punggung dan tulang belakang dengan baik, sandaran punggung berkisar antara 95o dan 110o Skor 1
Tidak terdapat sandaran tulang belakang, atau sandaran hanya menyangga sebagian punggung Skor 2
Sudut yang dibentuk sandaran kursi melebihi 110o atau sudut kursi terlalu maju ke depan, kurang dari 95o Skor 2
Tidak ada sandaran punggung sama sekali atau posisi pekerja bersandar ke depan. Skor 2
Permukaan meja terlalu tinggi (bahu terangkat) Ditambahkan +1

Skor Sandaran Lengan dan Sandaran Punggung kemudian dikalkulasi. Contohnya jika skor sandaran lengan = 2 dan skor sandaran punggung = 2 maka skor keduanya adalah 2+2 = 4 Angka ini akan digunakan untuk mencari skor kursi secara keseluruhan dengan menggunakan tabel skor A seperti di bawah ini :

Tabel A ROSA

Skor dalam tabel A adalah 4. Skor ini masih harus ditambah skor durasi dengan ketentuan sebagai berikut :

Untuk mendapatkan nilai Total Kursi (chair score) harus ditambahkan dengan skor durasi penggunaan kursi. Skor durasi diisi dengan ketentuan sebagai berikut :

  1. Jika bekerja terus menerus dilaksanakan kurang dari 30 menit atau kurang dari 1 jam per-hari maka skor total section A dikurangi 1
  2. Jika bekerja terus menerus dilaksanakan antara 30 menit – 1 jam atau 1 – 4 jam dalam sehari, maka skor total section A +0
  3. Jika bekerja terus menerus lebih dari 1 jam atau lebih dari 4 jam perhari, maka skor total section +1

Chair Score =  Skor Section A + Skor Durasi

Contoh : Jika Skor Section A = 4, skor durasi = 0

Chair Score = 4

Nah Chair Score ini akan digunakan untuk skor akhir ROSA.

Kelanjutan penilaian ROSA ini kita bahas di chapter selanjutnya! Klik link di bawah ini untuk lanjut belajar metode ROSA.

Tools Pengukuran Office Ergonomic : Rapid Office Strain Assessment (ROSA) – Part 2

Job Safety Analysis : Penilaian Bahaya dan Risiko di Tempat Kerja (Workplace Hazard Analysis)

Hola!

Salah satu “oleh-oleh” yang saya dapatkan dari program YSEALI Fall 2017 adalah berkesempatan mengikuti pelatihan JSA (Job Safety Analysis) yang biasa digunakan untuk melaksanakan penilaian bahaya dan risiko di tempat kerja. Supaya semua bisa mendapatkan informasinya, yuk kita ketahui apa itu JSA? bagaimana melaksanakan JSA? dan informasi lain terkait JSA.

Definisi dan Pengertian

Penilaian bahaya adalah proses secara sistematis dalam mengevaluasi bahaya atau potensi bahaya yang ada pada aktivitas pekerjaan. Secara lengkap sebelum mengetahui lebih lanjut, kita ketahui terlebih dahulu pengertian Bahaya (Hazard) dan penilaian (assessment). Bahaya adalah setiap kegiatan , praktik, perilaku, bahan, kondisi atau kombinasinya yang dapat menyebabkan cedera atau penyakit bagi seseorang. Sedangkan untuk penilaian (assessment) adalah proses mengidentifikasi bahaya sehingga bahaya tersebut dapat dieliminasi maupun dikendalikan.

Tujuan Penilaian Bahaya

Tujuan dari penilaian bahaya di tempat kerja antara lain:

  1. Mengidentifikasi masalah untuk memperbaiki atau mengendalikan bahaya tersebut.
  2. Sebagai acuan untuk membuat program keselamatan dan kesehatan kerja yang efektif.
  3. Sebagai komponen kunci dari seluruh program keselamatan dan kesehatan kerja.
  4. Sebagai pemenuhan perundang-undangan.

Secara detail, penilaian bahaya di tempat kerja merupakan pendekatan dan proses yang sistematis dengan melibatkan :

  1. Dokumentasi dan pencatatan penilaian aktivitas di tempat kerja.
  2. Melihat dan observasi bahaya dan potensi bahaya yang ada.
  3. Mempertimbangkan dan mengimplementasikan metode maupun praktik untuk mengendalikan ataupun mengeliminasi bahaya dengan Engineering Control, Administrative Control, dan Personal Protective Equipment (PPE).
  4. Menuangkan secara tertulis dari hasil evaluasi tempat kerja, ditandatangani oleh orang yang melaksanakan penilaian dan membubuhkan tanggal pelaksanaan penilaian bahaya di tempat kerja.

Tools Penilaian Bahaya di Tempat Kerja

Dalam melaksanakan penilaian bahaya di tempat kerja, terdapat tools yang dapat digunakan antara lain:

  1. Job Safety Analysis (JSA)
  2. Process Hazard Analysis (PHA)
  3. MOC (Management of Change)
  4. System Analysis (SA)
  5. Phase Analysis (PA)
  6. PM Records

Gunakanlah tools tersebut sebagai alat bantu dalam membuat dasar maupun benchmark dari penilaian bahaya di tempat kerja. Dalam artikel ini akan lebih membahas poin nomor 1, yaitu Job Safety Analysis (JSA).

Job Safety Analysis (JSA)

Untuk lebih dapat memahami penilaian bahaya dengan metode JSA, maka kita ketahui lebih dahulu pengertian dari JSA. JSA seringkali disebut AKA, JHA, dan PHA. Terdapat beberapa pengertian dari JSA antara lain :

  1. Proses memecahkan aktivitas menjadi langkah kerja.
  2. Metode untuk mengidentifikasi dan mengendalikan atau mengeliminasi bahaya.
  3. Langkah sederhana dengan tujuan karyawan dapat dengan mudah memahami bahaya dan pengendalian yang harus dilakukan.
  4. Teknik yang memfokuskan pada job tasks sebagai cara untuk mengidentifikasi bahaya sebelum terjadi kecelakaan maupun penyakit akibat kerja.
  5. JSA fokus pada hubungan dan interaksi antara pekerja, aktivitas/tugas, peralatan dan lingkungan kerja.
  6. Setelah bahaya yang belum dikendalikan (uncontrolled hazards) teridentifikasi perlu dilakukan eliminasi ataupun pengendalian bahaya tersebut.

Manfaat dari penilaian bahaya dengan JSA :

  1. Membantu dalam mengidentifikasi persyaratan alat pelindung diri (APD) yang harus digunakan seperti pelindung pendengaran, mata, tangan, kaki, kepala, tubuh, pernapasan, peralatan bantuan manual handling dll.
  2. Membantu dalam mengidentifikasi sumber energy berbahaya – LOTO seperti sumber panas, listrik, hydraulic, pneumatic energy, kimia, kinetik, mekanikal, sentrifugal, gravitasi dll.
  3. Keterlibatan pekerja secara aktif dalam penerapan sistem keselamatan dan kesehatan kerja.
  4. Meningkatkan komunikasi dan kepercayaan (trust) antara manajemen dan karyawan.

Pelaksanaan JSA dapat melibatkan berbagai pihak. Dalam perusahaan, pihak yang dapat terlibat antara lain :

  • Personil Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3)
  • Manajer di lokasi dibuatnya JSA
  • Operator
  • Teknisi yang mendesain peralatan
  • Personil Maintenance
  • Konsultan K3

Oleh karena itu, daftar personil di atas membutuhkan pelatihan bagaimana pembuatan dan pelaksanaan JSA di tempat kerja agar pelaksanaan JSA dapat dilaksanakan dengan baik.

Langkah-langkah pelaksanaan JSA dapat dilakukan dengan :

JSa

  1. Menentukan aktivitas pekerjaan untuk pelaksanaan JSA

Sebelum melaksanakan JSA, diperlukan penentuan aktivitas pekerjaan dengan membuat daftar aktivitas pekerjaan yang dirasa memerlukan penilaian bahaya. Dalam penentuan aktivitas pekerjaan ini dapat dilakukan dengan mempertimbangkan aktivitas pekerjaan yang memiliki risiko terjepit, kontak dengan bahan berbahaya, potensi terkena paparan bahan/benda bergerak, terjatuh, maupun terpeleset. Pekerjaan-pekerjaan ini dapat berupa :

  1. Bekerja di ketinggian
  2. Pengangkatan, angkat-angkut, mendorong, menarik, dan pekerjaan manual handling lainnya.
  3. Bekerja dekat dengan peralatan yang dekat dengan sumber energi.
  4. Penggunaan cranes, alat bantu pengangkatan atau peralatan mesin lainnya.
  5. Bekerja sendiri atau bekerja di area yang terisolasi.
  6. Pekerjaan lainnya yang mengharuskan pekerja naik ke atas maupun di bawah area kerja, seperti penggalian.

Dalam menentukan aktivitas pekerjaan untuk melaksanakan JSA, diperlukan pula data tambahan dengan mengkaji ulang data-data sebagai berikut :

  1. Riwayat cedera/penyakit akibat kerja
  2. Laporan Insiden – Nearmiss
  3. Data statistik kejadian First Aid
  4. Safety Data Sheet (SDS)
  5. Notulen rapat K3
  6. Laporan Inspeksi K3
  7. JSA sebelumnya
  8. Prosedur kerja yang ada
  9. Manual dari peralatan
  10. Data preventive maintenance
  11. Regulasi pemerintah

 

  1. Menentukan dan mencatat langkah-langkah dari aktivitas pekerjaan tersebut

Setelah kita menentukan aktivitas pekerjaan yang akan dilaksanakan JSA, maka selanjutnya kita catat langkah-langkah aktivitas pekerjaan tersebut. Mencatat langkah kerja adalah dengan :

  1. Mengobservasi aktivitas pekerjaan.
  2. Mencatat informasi untuk mendeskripsikan secara benar langkah yang dilakukan. Dalam pencatatan ini perlu menghindari langkah pekerjaan yang terlalu detail maupun deskripsi yang terlalu panjang serta hindari langkah yang terlalu umum sehingga banyak langkah yang tidak tercatat.
  3. Ambil gambar atau video di masing-masing langkah pekerjaan.
  4. Setelah itu, review langkah-langkah tersebut dengan karyawan.
  5. Libatkan karyawan dalam seluruh aktivitas analisis.

JSA Filled

Contoh Pengisian Formulir JSA : JSA pada pekerjaan membersihkan Cyclone

foto JSA

Isian JSA Latihan3. Mengidentifikasi bahaya dari masing-masing langkah pekerjaan

Dalam tahap ini diperlukan analisis dengan pertanyaan-pertanyaan seperti :

  1. Apa yang terjadi jika terdapat kesalahan?
  2. Apa konsekuensi dari aktivitas pekerjaan ini?
  3. Bagaimana bahaya dapat muncul?
  4. Apa saja faktor yang berkontribusi?
  5. Seberapa sering bahaya dan risiko dapat terjadi?

4. Mendeskripsikan cedera/injury yang mungkin terjadi dari bahaya tersebut

Pada langkah ini pengamat memerlukan informasi mengenai jenis bahaya apa saja yang dapat terjadi dan potensi cedera apa saja yang didapatkan. Informasi mengenai hal tersebut  dijelaskan dalam tabel di bawah ini:

Jenis Bahaya Potensi Cedera
Terjepit, Terpotong Luka memar, luka tergores, amputasi, fatality
Bahan Kimia Berbahaya Terbakar, kebutaan, penyakit akut dan kronis, fatality.
Bahaya Listrik Tersengat listrik, terbakar, amputasi, kebutaan, fatality
Bahan Mudah Terbakar Terbakar, amputasi
Bising dan Getaran Muntah, kerusakan syaraf, penurunan pendengaran
Manual Handling (Mengangkat, Menarik, Mendorong) Strain, Sprain, dan Musculoskeletal Disorders lainnya
Tertabrak/Terkena Luka memar, luka tergores, amputasi, fraktur tulang, fatality
Terpeleset, Terjatuh, Tersandung Luka memar, fraktur tulang, fatality
Suhu Heat/Cold stress, terbakar, stroke, fatality
Gas beracun, fumes, vapor atau debu Penyakit akut.kronis, asfiksia, terbakar, fatality

5. Mengidentifikasikan cara untuk mengeliminasi atau mengendalikan bahaya

Setelah bahaya dan risiko teridentifikasi, selanjutnya adalah mengetahui pengendalian apa yang sesuai. Jika terdapat potensi bahaya, langkah awal adalah menentukan pengendalian teknis (engineering control), administratif (administrative) dan membuat prosedur. Penyediaan alat pelindung diri yang tepat dan efektif merupakan pengendalian terakhir.

Revisi Job Safety Analysis

Revisi atau perbaikan JSA dilakukan ketika telah terjadi kecelakaan kerja dan cedera. Selain itu JSA direvisi pada saat terdapat perubahan pekerjaan/aktivitas, setelah terjadi keadaan berbahaya, jika peralatan mengalami kerusakan, dan pada saat jadwal kaji ulang rutin, seperti setahun sekali ataupun dua tahun sekali.

Sumber : Pelatihan Job Safety Analysis, Maryland Occupational Health and Safety (MOSH), 2017.

Patapsco Wastewater Treatment Tour

Dalam program YSEALI Professional Fellows Program Fall 2017 ini, saya di tempatkan di Baltimore City, Maryland. Saya berkesempatan untuk mengunjungi wastewater treatment plant dan landfill yang dikelola oleh Departemen of Public Works-nya Baltimore City. Jadi Baltimore itu merupakan salah satu Kota yang tua di Amerika dan merupakan salah satu kota yang bersejarah. Walaupun ga se-terkenal New York, Chicago dan Capital City lainnya, Baltimore City juga salah satu kota yang populasinya banyak loh di Amerika. Tapi, sebanyak-banyaknya populasi di Amerika, ga bisa ngalahin populasi kota-kota di Indonesia sih ;p.

Alright, karena kota ini salah satu kota saksi sejarah, maka pemerintah kota ini udah punya sejak lama waste water treatment untuk kotanya. Wow! saya berkesempatan untuk berkunjung ke salah satu wastewater treatment tertua di Baltimore City, yaitu Patapsco wastewater treatment plant. Wastewater treatment plant ini dibangun pada tahun 1918 untuk memberikan pelayanan ke seluruh penduduk kota Baltimore. Semakin lama, plant ini semakin berkembang dan ekspansi, karena penduduk Kota Baltimore makin banyak. Tujuannya adalah mengurangi water pollutant yang dibuang ke sungai dan lauut. Jadi mereka mengelola limbah-limbahnya penduduk Baltimore City.

Jadi lingkup air limbah yang di-treatment di sini adalah air yang telah digunakan untuk kegiatan rumah tangga (nyuci, masak, mandi dll), bisnis, ataupun industri dan juga mengandung endapan-endapan padat. Semuanya akan dialirkan ke salah satu plant, di-treatment (makanya banyak pipa-pipa besar dan kolam besar), kontaminan-nya dibuang dan pada akhirnya akan aman untuk dialirkan ke lingkungan seperti aliran sungai maupun laut.

Di Patapsco wastewater treatment ini terdisi dari beberapa bagian, mungkin kurang lebih sama dengan wastewater treatment lainnya ;

  1. Laboratory
  2. Preliminary dan Primary Treatment
  3. Sludge Thickening
  4. Secondary Treatment Facilities
  5. Final Treatment/disinfection
  6. Future and Completes Improvements

Pada tour ini, saya dipandu oleh karyawan yang sudah bekerja selama kurang lebih 41 tahun! nama George, dia dengan berapi-api menjelaskan mengenai wastewater treatment ini. Seru!

35219193-DA95-4F1D-9737-D5F917840571.jpeg

Saya kurang tau juga sih pengelolaan lingkungan terutama air di Indonesia seperti apa, yang saya tahu hanya pengelolaan air limbah di Perusahaan. Tapi sepertinya masih belum ada pengelolaan seperti ini, kecuali air minum seperti PDAM. Tapi akan lebih baik kalo setiap kota di Indonesia punya seperti ini, suaya laut, sungai ga tercemarr.

Terbang dengan Japan Airlines – Transit di Bandara Narita, Tokyo

Hello!

Seperti yang sudah saya sampaikan di blog saya sebelumnya bahwa saya menjadi salah satu fellows untuk program YSEALI Professional Fellows Program Fall 2017, dan berkesempatan untuk terbang ke United States dan menjalankan fellowship selama kurang lebih 6 minggu di sini. Perjalanan saya dinyatakan sebagai fellows bisa diakses disini yaaa Don’t dare to dream BIG! – Road to YSEALI Fall 2017

Alhamdulilah ini hari ke-11 saya ada di Amerika Serikat atau hari ke-5 saya di Department of Public Works (DPW) Baltimore City, Maryland. Karena postingan serius yang bertemakan kantor sudah ku posting di blog-nya ICMA di blog pribadi ku ingin share mengenai serba-serbi perjalanan saya ke Amerika Serikat.

Ini adalah pengalaman pertama saya pergi ke luar negeri, pengalaman saya dapet visa, dan pengalaman saya naik pesawat lebih dari 20 jam! iya 20 jam! Jadi saya berangkat ke Amerika Serikat pukul 06.25 WIB dari Bandara Soetta dengan maskapai Japan Airlines. Karena ini pengalaman pertama banget, jadi saya udah siap siaga di bandara jam 03.00 pagi dan Check-in Counternya belum buka. Check in counter baru buka jam 03.30, jadi cukup lumayan ya nunggunya sambil bercengkrama dengan fellows dari indonesia lainnya.

Setelah check-in, melewati imigrasi, solat subuh, finally kita berangkat menuju US! Kebetulan sebelum menginjakkan kaki di Paman Sam, kita akan transit dulu di Jepang, baru lanjut ke New York dan disambung lagi pesawat kecil ke Washington DC. Perjalanan ke narita ini memakan waktu sekitar hampir 8 jam! Coba bayangkan bagaimana kebetean melanda di atas pesawat? tapi saya sama sekali ga bosan di dalam pesawat JAL ini, karena super nyaman walau kelas ekonomi, awak kabinnya super ramah, makanannya hmmm.. lumayanlah yaa dan yang paling penting ada game tetrisnya! haha. Oke yuk lihat foto-foto saya di dalam pesawat Japan Airlines.

Tetris dan Makanan di Japan Airlines

Setelah 7 jam 40 menit melayang-layang di udara, akhirnya sampaaii di Narita Airport. Di sini kita transit selama dua jam, dan waktu dua jam itu cukup buat kita solat, dan ga keburu-buru juga. Bahkan teman-teman yang lain sempet bisa liat-liat outlet di dalem Bandara. Bandara Narita ini gedaaaaaa pisan, mungkin mirip-mirip terminal 3-nya Soekarno Hatta dengan lebih banyak outlet di dalamnya. Oiya hal yang bikin takjub dan alhamdulilah, bandara ini menyediakan fasilitas untuk muslim solat. Begini tampilan musholla-nya.

IMG_4700

Letaknya kalo abis landing dan pemeriksaan, turun satu lantai escalator

Tampilan musholla di Bandara Narita, Tokyo, Jepang

Superr cozyy.. nyaman banget dan tenang juga. Tapi sayang di jepang saya hanya transit untuk melanjutkan penerbangan ke New York Amerika Serikat. Next kalo ada rejeki, ingin sekali kujelajahi kota ini! Perjalanan dari Tokyo ke New York, New York Washington DC akan ku share di postingan selanjutnya ya.

Tools Penilaian Risiko Ergonomi – Rapid Entire Body Assessment (REBA) Part 2

Halo!

Finally setelah berkutat dengan tugas kantor dan persiapan-persiapan lainnya akhirnya bisa lanjut untuk nulis blog lagi. Kali ini kita sudah sampai di tools penilaian risiko ergonomi – Rapid Entire Body Assessment (REBA) Part 2. Lanjutan dari  part 1 yang bisa kalian akses disini Tools Penilaian Risiko Ergonomi – Rapid Entire Body Assessment (REBA) Part 1

Setelah postingan sebelumnya kita sudah sampai di skoring postur Grup A + Beban, postingan ini akan kita pelajari sama-sama bagaimana menghitung grup B hingga final skor.

Langkah-Langkah Penilaian dan Skoring dengan Metode REBA (Grup B, Lengan dan Pergelangan :

  1. Menilai Postur Lengan bagian atas (Bahu)

Bahu

Pada saat kita melaksanakan observasi untuk menilai postur lengan bagian atas (bahu), kita dapat menggunakan acuan sebagai berikut:

Postur Skor  Kiri & Kanan
Lengan Bagian Atas (Bahu) Kiri Kanan
Flexion: 0 – 20°
Extension: 0 – 20°
1 Lengan berputar/ke samping: +1

Bahu terangkat: +1

Lengan tersangga/bersandar -1

Flexion: 20 – 45°
Extension: > 20°
2
Flexion: 45 – 90° 3
Flexion: > 90° 4

Posisi lengan bagian atas dapat dilihat di kedua sisi kanan dan kiri, selanjutnya dapat dirata-ratakan (Average) dan dibulatkan dari kondisi kedua bahu (lengan bagian atas yang diobservasi.

2. Menilai Postur Tangan/Lengan Bagian Bawah (Siku).

Lengan Bagian Bawah (Siku)

Pada poin observasi ini, tidak ada tambahan skor lainnya selain posisi lengan bagian bawah sesuai dengan gambar. Kriteria detail dapat dilihat pada tabel berikut :

Postur Skor Total: Kiri & Kanan
Lengan Bagian Bawah (Siku) Kiri Kanan
Flexion: 60 – 100° 1
Flexion: < 60°
Extension: > 100°
2

Nilai postur kanan dan kiri selanjutnya dapat dirata-ratakan dan dibulatkan.

3. Menilai Postur Pergelangan Tangan

Pergelangan Tangan

Poin observasi ini difokuskan pada pergelangan tangan. Jika  pergelangan terdapat posisi berputar (twisting) maka skor observasi ditambahkan 1. Posisi postur pergelangan tangan dapat dilihat di kedua sisi kanan dan kiri, selanjutnya dapat dirata-ratakan (Average) dan dibulatkan dari kedua postur pergelangan tangan yang diobservasi.

Postur Score Total: Kiri & Kanan
Pergelangan Tangan Kiri Kanan
Flexion: 0 – 15°
Extension: 0 – 15°
1 Jika pergelangan  menyimpang/berputar: +1
Flexion: > 15°
Extension: > 15°
2

4. Selanjutnya adalah kalkulasi Total Postur Bahu + Siku + Pergelangan tangan dengan menggunakan tabel B

Tabel B

Contoh : Jika didapatkan rata-rata skor Lengan Bagian atas kanan & kiri = 3, Skor rata-rata Pergelangan tangan kanan dan kiri = 2 dan skor rata-rata Lengan Bagian Bawah (siku) kanan dan kiri = 2, maka didapatkan hasil sebagai berikut :

Tabel B Filled

Skor Tabel B adalah 5.

5. Setelah skor didapatkan, maka langkah selanjutnya adalah mencari skor coupling (pegangan/handle).

Berikut detail masing-masing mengenai coupling (pegangan/handle)

Postur Skor Total: Kiri & Kanan
Pegangan (Coupling) Kiri Kanan
Baik 0 Pegangan pas dan tepat ditengah, genggaman kuat
Fair 1 Pegangan tangan bisa diterima tapi tidak ideal/couping lebih sesuai digunakan oleh bagian lain dari tubuh
Buruk 2 Pegangan tangan tidak bisa diterima walaupun memungkinkan
Tidak Layak 3 Dipaksakan genggaman yang tidak aman, tanpa pegangan couplingtidak sesuai digunakan oleh bagian lain dari tubuh

Skor dilihat postur kanan dan kiri, selanjutnya dapat dicari rata-rata dari kedua coupling kanan dan kiri. Setelah didapatkan skor coupling, tambahkan dengan skor pada tabel B.

Contoh : Skor  Tabel B = 5, Skor Coupling = 1, maka 5+1 = 6, skor ini akan digunakan untuk mencari skor pada tabel C.

6. Total Skor A dan Skor B dengan menggunakan Tabel C untuk mendapatkan Skor C

Tabel C.png

Sesuai dengan nilai di postingan REBA yang lalu, di link ini Tools Penilaian Risiko Ergonomi – Rapid Entire Body Assessment (REBA) Part 1 diketahui bahwa skor A adalah 6, Skor B adalah 6, maka akan didapatkan Skor C dengan menggunakan tabel C.

Contoh :

Tabel C filled

Didapatkan Skor C adalah 8, apakah ini adalah final skor? Belum. Karena kita masih harus menambahkan skor C ini dengan Activity Score.

7. Skor akhir dengan metode REBA

Skor dari tabel C, ditambah dengan skor aktivitas. Skor aktivitas didapatkan dengan :

Aktivitas
Jika 1 atau lebih bagian tubuh statis, ditahan lebih dari 1 menit +1
Jika pengulangan gerakan dan rentang waktu singkat, diulang lebih dari 4 kali permenit (tidak termasuk berjalan) +1
Jika gerakan menyebabkan perubahan atau pergeseran atau pergeseran postur yang cepat dari posisi awal +1

Contoh Final Score : Skor C = 8+1+0+0 = 9

Skor Akhir dari contoh ini adalah 9, Langkah selanjutnya adalah membandingkan dengan tabel Action Level

8. Membandingkan dengan Tabel Action Level, maka didapatkan sebagai berikut:

 

REBA Score

Risk Level Action
1 Diabaikan Tidak Diperlukan
2 – 3 Rendah Mungkin Diperlukan
4 – 7 Sedang Diperlukan
8 – 10 Tinggi Necessary Soon
11 – 15 Sangat Tinggi Immediately Necessary

Contoh : skor final REBA adalah 9, Risk Level sesuai dengan tabel adalah Tinggi, action yang harus segera dilaksanakan adalah perlu perbaikan secepatnya (Necessary Soon).

Untuk mempermudah, langkah-langkah perhitungan REBA dapat dilihat dengan Bagan di bawah ini :

Summary REBA

 

And Yes Finally, Semoga bermanfaat 🙂

 

Profesi Health Safety Environment (HSE) — Keselamatan dan Kesehatan Kerja dan Lingkungan (K3L)

Profesi sebagai seorang HSE (Health Safety Environment) atau dalam Bahasa Indonesia disebut Keselamatan Kesehatan Kerja dan Lingkungan (K3L), merupakan profesi yang masih sangat “unfamiliar” di Indonesia. Saya termasuk seseorang yang pada akhirnya menenggelamkan diri saya di keilmuan HSE/K3L, karena memang apa yang saya pelajari di dunia Kampus sejalan dengan apa yang 6 tahun terakhir ini yang saya lakukan tepat setelah saya lulus kuliah di Universitas Indonesia. Di postingan kali ini saya tidak akan menceritakan alur pengalaman pekerjaan saya di dunia HSE/K3L, tetapi saya ingin berbagi apa saja sih yang harus dimiliki seorang HSE?

Saya pernah beberapa kali memposting di akun social media saya mengenai profesi HSE. No Joke, kalo profesi HSE ini sangat-sangat kompleks dan terdiri dari berbagai macam disiplin ilmu. Kita harus punya kemampuan secara teknis (engineering), manajemen, sains, hukum, ekonomi, security dan bahkan psikologi. Kebayang bagaimana profesi HSE di tempat kerja? Beberapa tahun saya bekerja, bahkan kita pun dituntut kreatif dalam menggunakan tools untuk promosi, seperti bikin poster, video, create acara, dan hal-hal lain yang berhubungan dengan komunikasi. Terkadang pun kita juga jadi orang pertama yang harus menjelaskan ke masyarakat jika ada keluhan dari masyarakat yang disebabkan oleh Pabrik dimana kita bekerja. Kebayang gimana mulianya pekerjaan HSE? Dari pengalaman-pengalaman saya bekerja di dunia HSE, berikut ini nih hal-hal yang harus dimiliki seorang HSE yang saya rangkum, khususnya di Industri manufaktur atau scope-nya tidak terlalu besar seperti minyak bumi dan gas alam :

  1. Teori tentang Keselamatan kerja
    • Klasifikasi dan Laporan Kecelakaan kerja
    • Analisis Penyebab Masalah Kecelakaan/Penyakit Akibat Kerja
    • Identifikasi Bahaya, Probability, dan Risiko
    • Perilaku selamat (Behavioral Safety)
    • Memahami tentang teori Slips Trips and Fall
  2. Manajemen Keselamatan
    • Mengetahui Sistem Manajemen Keselamatan (ISO 9001, ISO 14001, OHSAS 18001, Safety Food, HACCP dll)
    • Mengetahui bagaimana cara membuat program pengendalian (safety improvement plan)
    • Mengetahui syarat-syarat Hukum K3L di Indonesia
    • Investigasi Kecelakaan kerja
    • Pencegahan Kecelakaan
    • Kemampuan untuk mengkoordinasikan Safety meeting
    • Melakukan kontrol terhadap kontraktor
    • Follow up Bahaya dengan Hazard study dalam suatu project
    • Permit to work untuk pekerjaan-pekerjaan berisiko tinggi
    • Manajemen LOTO untuk kelistrikan
  3. Teknologi Keselamatan Kerja
    • Pemahaman akan pentingnya guarding machine, pesawat angkat angkut, bejana bertekanan.
    • Memahami chemical reaction
    • Teknologi Kelistrikan
  4. Kesehatan Kerja dan Industrial Hygiene
    • Bahaya Fisika, Kimia, Radiasi, Pencahayaan, Iklim Kerja.
    • Ergonomi
    • alat Pelindung Diri
    • Absensi Pegawai terkait dengan Keselamatan dan Kesehatan Kerja
  5. Lingkungan
    • Waste Water Treatment
    • Kontaminasi Tanah (Spill, kebocoran dll)
  6. Proteksi Kebakaran
    • Pencegahan kebakaran
    • Identifikasi bahan-bahan yang mudah terbakar
    • Rambu-Rambu Emergency
    • Tim Tanggap Darurat
    • Prosedur Kegawatdaruratan
  7. Personal Skill
    • Kemampuan presentasi
    • Memberikan training
  8. Product Safety
    • Labelling, MSDS sesuai dengan GHS
    • Product Stewardship

Semua list di atas belum sepenuhnya memenuhi apa yang dikerjakan seorang HSE, seorang K3L. Ada beberapa kasus dimana saya juga menangani masalah sakit perut karena catering Perusahaan yang juga merupakan tanggung jawab HSE. Menjadi seorang HSE berarti kamu harus siap menjadi seorang engineer, negosiator, analis manajemen risiko, menjadi psikolog, menjadi komunikator, trainer, dll sekaligus. Menjadi seorang HSE itu seperti berdakwah (in a different way), dan percayalah menjadi seorang HSE itu mulia. Mau belajar dan menerima hal baru adalah kunci supaya bisa selalu survive menjadi seorang HSE.

Semangat!

Hazard Report (Pelaporan Bahaya di Tempat Kerja)

Di sebagian besar Perusahaan, terkadang kecelakaan terjadi dikarenakan hal-hal kecil yang seringkali kita anggap sepele namun pada akhirnya berakibat fatal. Seperti misalnya, lantai licin, terdapat lubang di area pejalan kaki, kabel berantakan, tidak adanya barikade dll. Semua potensi bahaya ini dapat dilihat dan juga dirasakan oleh pekerja. Petugas K3, Anggota P2K3, atau supervisor pun sesungguhnya tidak cukup untuk mengantisipasi bahaya ini. Oleh karena itu, penting di setiap Perusahaan untuk memiliki sistem pelaporan potensi bahaya di tempat kerja yang dapat dilakukan oleh seluruh pekerja tanpa terkecuali, termasuk di dalamnya kontraktor dan visitor, yang dikenal dalam bahasa inggris dengan Hazard Report. Tulisan ini murni berdasarkan analisis pribadi dan pengalaman selama menjadi bagian dari Departemen Health Safety Environment di Perusahaan 3 tahun yang lalu.

Hazard Report atau dalam Bahasa Indonesia dikenal sebagai Pelaporan Bahaya di tempat kerja merupakan “wadah/media” bagi pekerja untuk melaporkan bahaya yang mereka lihat, rasakan, dan temukan di tempat kerja yang berpotensi menyebabkan kecelakaan dan penyakit akibat kerja.

Sebelum kita berbicara tentang Hazard Report, Mari kita ketahui terlebih dahulu apa itu definisi bahaya.

Hazard atau bahaya memiliki definisi sebagai bahan benda zat atau sesuatu apapun yang memiliki potensi untuk menimbulkan risiko, baik kecelakaan atau penyakit akibat kerja. Potensi yang menyebabkan risiko dapat berupa jumlah atau kuantitas yang banyak dari bahan zat atau benda tersebut, sifat fisik maupun kimia, maupun efek yang ditimbulkan bagi seseorang.

Nah. coba bayangin kalo bahaya atau hazard itu ada di area tempat kerja kita

Apa yang menyebabkan pentingnya pelaporan bahaya di tempat kerja? Pelaporan bahaya di tempat kerja penting dilakukan dengan tujuan :

  1. Mencegah terjadinya kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja
  2. Sebagai evaluasi pengendalian di tempat kerja.
  3. Untuk mengetahui trend bahaya dan risiko yang terjadi di tempat kerja.
  4. Meningkatkan kesadaran pekerja akan bahaya dan risiko di tempat kerja.
  5. Sebagai dasar bagi manajemen untuk membuat program dan kebijakan Keselamatan dan Kesehatan Kerja.

Untuk membuat hazard report dan pelaporan bahaya di tempat kerja berjalan dengan baik dan optimal, diperlukan alur dan sistem yang komprehensif sehingga akar permasalahan dari terjadinya potensi bahaya dapat diatasi. Langkah-langkah yang dapat dilakukan untuk membangun penerapan pelaporan bahaya di tempat kerja antara lain :

1. Membuat prosedur dan alur pelaporan bahaya di tempat kerja

Alur pelaporan bahaya di tempat kerja dapat didiskusikan oleh Departemen HSE di masing-masing Perusahaan atau pada rapat P2K3 yang dilaksanakan setiap bulan dengan melibatkan perwakilan dari operator, middle staff, hingga top manajemen. Secara sederhana alur pelaporan bahaya di tempat kerja dapat berupa :

Pekerja melihat potensi bahaya –> Jika dapat langsung ditanggulangi, dapat langsung ditanggulangi sendiri –> Mengisi Form hazard report yang ditujukan untuk penanggung jawab area –> Administrator –> Meneruskan ke penanggung jawab area –> Penanggung jawab area menjawab pada isian form dan segera menindaklanjuti

2. Menentukan personil

  • Penanggung Jawab Area : Sebaiknya dipilih orang yang dapat menjadi pembuat keputusan di masing-masing departemen. Contohnya Manajer dari masing-masing departemen.
  • Administrator : Biasanya yang menjadi administrator untuk Hazard Report ini adalah dari departemen K3/HSE, namun tidak menutup kemungkinan staff lain yang diamanahkan untuk meneruskan temuan bahaya di lapangan dan merekap hazard report setiap bulannya.
  • Site Area Manager : Jika potensi bahaya di tempat kerja tidak mampu diselesaikan oleh penanggung jawab area, seperti perlunya budget yang besar, maka diperlukan Site Area Manager yang bertanggung jawab akan keseluruhan area di tempat kerja. Site Area manager ini biasanya adalah Top Management.

3. Membuat Formulir

Formulir dapat disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing Perusahaan. Ada baiknya formulir berisikan :

  • Nama Pelapor
  • Deskripsi Bahaya yang ditemukan di tempat kerja, dapat dilengkapi dengan gambar
  • Tulis Penanggung Jawab Area
  • Prioritas Action yang harus dilakukan (Tinggi/Sedang/Rendah)
  • Immediate Action yang harus dilakukan (diisi oleh Penanggung Jawab Area)
  • Analisis Akar Permasalahan (diisi oleh Penanggung Jawab Area)
  • Perbaikan dan Pencegahan yang dilakukan agar di masa yang akan datang tidak terulang kembali (diisi oleh penanggung jawab area)
  • Untuk memudahkan administrator untuk tracking laporan bahaya apakah sudah diatasi atau belum, dapat menambahkan kolom close atau masih open. Artinya apakah tindakan perbaikan atau pencegahan telah dilakukan sehingga hazard report dapat di-close.

4. Melaksanakan Sosialisasi dan Simulasi kepada Pekerja

Setelah tools dan prosedur telah kita siapkan, kita wajib melaksanakan simulasi kepada pekerja agar mengetahui langkah-langkah melaksanakan pelaporan bahaya di tempat kerja. Dapat melalui briefing di pagi hari sebelum bekerja, rapat bulanan P2K3, dan event Safety lainnya.

5. Evaluasi

Evaluasi dapat dilaksanakan baik mengukur kefektifan Pelaporan bahaya di tempat kerja, maupun trend potensi bahaya yang terjadi di tempat kerja. Dari hasil evaluasi ini kita dapat mengukur tingkat partisipasi pekerja untuk melaporkan bahaya di tempat kerja. Beberapa Perusahaan juga menjadikan pelaporan potensi bahaya di tempat kerja sebagai pelaporan nearmiss, walaupun secara harfiah terdapat definisi yang berbeda antara potensi bahaya dan nearmiss. Evaluasi dapat dilakukan 1 bulan sekali pada meeting P2K3.

Dari keseluruhan pelaksanaan memang terdapat beberapa kendala yang biasanya akan ditemui terkait dengan Pelaporan Bahaya di tempat kerja. Masalah-masalah yang akan timbul antara lain :

  1. Adanya konflik antar pekerja, karena mindset yang belum dewasa mengenai fungsi dan tujuan dari pelaporan bahaya di tempat kerja. Terkadang pelaporan bahaya di tempat kerja dijadikan ajang “saling melaporkan”
  2. Keengganan untuk melaporkan atasan yang tidak berperilaku aman. Hal ini seringkali terjadi karena pelaporan bahaya menuliskan nama pelapor. Masalah ini dapat diatasi dengan menganonimkan pelapor jika perlu maupun pemberian safety leadership training kepada seluruh team leader, supervisor, manager, hingga top management.
  3. Hazard report dianggap membuang-buang waktu dan menambah pekerjaan. Beberapa orang menganggap bahwa dengan hazard report, pekerjaan mereka akan bertambah untuk memikirkan tindakan perbaikan apa yang harus dilakukan. Hal ini dapat diatasi dengan menjadikan Tugas HSE menjadi bagian dari aktivitas mereka sehari-hari (tertuang dalam job description).
  4. Follow up yang lambat dari pelaporan bahaya di tempat kerja. Dapat diselesaikan dengan sistem reminder secara berkala.
  5. Kurangnya partisipasi aktif dari pekerja untuk melaporkan bahaya di tempat kerjas. Hal ini bisa disiasati dengan memberikan penghargaan kepada karyawan yang berpartisipasi aktif dalam pelaporan bahaya di tempat kerja dan menuangkannya pada target individu KPI (Key Performance Indicator).

Setiap Perusahaan dapat berbeda-beda dalam mempersepsikan hazard report, tetapi yang pasti, hazard report ini berguna sebagai “early warning system” agar kejadian yang lebih besar yang lebih merugikan tidak terjadi. Berikut di bawah ini contoh formulir hazard report dengan beberapa modifikasi oleh saya dan pernah diterapkan di salah satu tempat kerja saya sebelumnya yang menerapkan Hazard Report dengan cukup baik (semoga ga kena copyright). Semoga bermanfaat 🙂

Formulir Hazard Report (2)

Hazard Report Detai; (2)