Tools Pengukuran Ergonomi – Muscle Fatigue Assessment (MFA) Part 1

Oh hello..

Sambil menunggu candy crush soda saya nyawa kekumpul dulu selama 25 menit :p, ada baiknya saya mau share pengalaman saya waktu skripsi dulu mengenai ergonomi. Kebetulan karena pembimbing saya ahli di bidang human factor, saya diarahkan untuk penelitian mengenai ergonomi dan stress kerja. Jadi di dalam pencarian saya waktu itu untuk menentukan pake tools ergonomic apa, saya nemu banyak literatur mengenai metode-metode ergonomi. Di sini saya mencoba “mentranslate”, apa yang saya pahami dan telah saya coba supaya mentemen semua bisa punya pandangan tools ergonomi apa yang cocok dipake di tempat kerja mentemen atau untuk penelitian mentemen. Sekali lagi, ini hanya review sekilas. Jadi, kalo ada yang kurang sreg bisa kita diskusiin bersama ya.

Oiya sebelum masuk ke tools pengukuran ergonomi, sekilas saya mau jabarkan dulu apa sih pengertian ergonomi?

What is ergonomic? Ergonomic is fitting person to the job (OSHA – Occupational Safety Health Administrator). Secara singkat, OSHA bilang nyocokin, ngepasin pekerja sama pekerjaanya (bahasa betawinya gitu). Tujuannya apa? kalo kita kaitkan dengan kesehatan kerja, penerapan design atau tempat kerja yang ergonomis itu bertujuan untuk mencegah Work-Related Disease –> Musculoskeletal Disorder. Apa dampaknya? waduh banyak banget penyakit Musculoskeletal Disorders atau disingkat MSDs. Salah duanya yang cukup terkenal itu adalah Carpal Tunnel Syndrome dan Low Back Pain.

Oke. Kalo kita jabarin faktor risiko dan lain-lain mungkin agak panjang yaaa. Bisa diliat di  https://www.osha.gov/SLTC/ergonomics/

Nah baiklah kita masuk ke salah satu Tools Pengukuran Ergonomi yang agak kuter ini alias kurang terkenal tapi saya coba menggunakannya untuk penelitian saya. Kenapa? karena saya ingin melihat dan membandingkan keluhan subjektif pake kuesioner Nordic Body Map, dengan kondisi yang ada di lapangan. Next kalo inget ada bahasan tersendiri yaa untuk Nordic Body Map ini. Secara singkat, ini nih tampilannya kuesioner Nordic Body Map :

NBM

MUSCLE FATIGUE ASSESSMENT (Penilaian Kelelahan Otot)

Sedikit saya cuplikan dari Muscle Fatigue Assessment,

Penilaian Kelelahan Otot atau Muscle Fatigue Assessment (MFA) pertama kali dirancang oleh Rodgers sebagai alat untuk menilai jumlah kelelahan yang terakumulasi di otot pada berbagai pola kerja dalam waktu 5 menit bekerja. Penilaian ergonomi ini berdasarkan hipotesis bahwa otot yang cepat lelah, lebih rentan terhadap cedera dan inflamasi. Dengan pemikiran tersebut maka jika kelelahan otot dapat diminimalkan begitu juga cedera dan penyakit pada otot. Metode ini digunakan untuk analisis pekerjaan dan paling cocok untuk mengevaluasi risiko akumulasi kelelahan dalam tugas-tugas pekerjaan (task on job) yang dilakukan selama satu jam atau lebih serta di mana postur janggal atau frekuensi pengerahan tenaga (force) sering terjadi.

Bridger, RS. Introduction to ergonomics. 2 jil. Singapore: McGraw-Hill Book co. 2003.

Metode penilaian dengan menggunakan MFA adalah sebagai berikut :

  1. Mengidentifikasi pekerjaan yang berisiko
  2. Mengidentifikasi masalah dari suatu aktivitas pekerjaan
  3. Memilih tugas untuk dilakukan analisis
  4. Menentukan tingkat pembobotan nilai untuk setiap bagian tubuh
  5. Menentukan durasi dalam detik untuk setiap bagian tubuh
  6. Menentukan frekuensi dari pergerakan per menit pada setiap intensitas usaha yang sama untuk setiap bagian tubuh
  7. Menggunakan penggabungan nilai untuk usaha 4 sampai 6 untuk menentukan prioritas perubahan
  8. Identifikasi perubahan terhadap nilai menunjukkan tingkat risiko tinggi dan sangat tinggi untuk dijadikan prioritas perubahan.

Jadi dalam tools ini ada pembobotan semikuantitatif untuk masing-masing bagian tubuh dengan menilai dan memberikan skor sesuai dengan kaidah faktor dari aktivitas fisik yaitu frekuensi (seberapa sering), durasi (seberapa lama melaksanakan aktivitas), dan effortnya (besar, kecil atau sedang). Dari ketiga poin itu akan diakumulasi dan menghasilkan prioritas perubahan. Misalnya sangat tinggi di lengan, berarti desain tempat kerja untuk lengan harus diubah atau frekuensinya dikurangi, atau bebannya dan seterusnya.

Di MFA ini juga, ga semua aktivitas di tempat kerja kita observasi. Sebelum melakukan pembobotan kita wajib menilai terlebih dahulu yang mana terdapat risiko terkait ergonomi yang paling tinggi atau dirasa berpotensi tinggi menyebabkan penyakit MSDs.

Bagaimana contohnya? cara menggunakannya? bagaimana memberikan rating? bagaimana menganalisis aktivitas berdasarkan tools MFA ini? tunggu di chapter selanjutnya yaa sis ūüôā

Promosi Keselamatan dan Kesehatan Kerja

Halo teman-teman semua!

Kali ini mau posting mengenai Promosi Keselamatan dan Kesehatan Kerja. Dulu waktu kuliah agak kurang tertarik sama mata kuliah ini. Tapi, seiring berjalannya waktu, ternyata Promosi K3 di tempat kerja ini salah satu yang bisa “ngena” dan bersemayam di benaknya teman-teman pekerja. Pernah di salah satu event, ada seorang teman yang mengeluh kenapa di Pabrik ini malah lebih ngurusin event-event yang katanya ga penting ini, such as safety day, sustainability day, BBS? But uhm, sorry.. ga penting? tapi saya dapet jawaban super wise dari operation manager. Kita ga pernah tau kalo event “kayak gini” itu yang justru secara tidak langsung membuat kita bertahan untuk achieve 15 tahun without Lost Time Injury. Jleppp!

Promosi K3 di Perusahaan makin semarak di beberapa tahun belakangan dengan adanya Bulan K3 nasional yang dicanangkan Pemerintah dan Kementerian Ketenagakerjaan. Hal ini sangat positif mengingat jaman saya masih menjadi wanita dengan safety shoes, gaung-gaung ini tidak sampai ke Perusahaan tempat saya bekerja dulu.

anyway.. Sebelum kita bahas mengenai Promosi K3, ada baiknya kita tau dulu apa sih Promosi Kesehatan.

Menurut WHO,

Health promotion enables people to increase control over their own health. It covers a wide range of social and environmental interventions that are designed to benefit and protect individual people’s health and quality of life by addressing and preventing the root causes of ill health, not just focusing on treatment and cure.

Jadi, kalo kita sederhanakan, Promosi Kesehatan membuat seseorang untuk meningkatkan pengendalian terhadap kesehatannya sendiri (dalam hal ini perubahan perilaku) dengan intervensi lingkungan dan sosial yang mempengaruhi kesehatan seseorang untuk menuju hidup yang berkualitas dengan pencegahan penyebab terjadinya penyakit yang tidak hanya fokus pada pengobatan.

Bahasa singkatnya MENCEGAH LEBIH BAIK DARI PADA MENGOBATI :p

Bagaimana dengan Promosi K3? kurang lebih sama, tetapi fokusnya ke pekerja, tempat kerja, dimana orang-orang dengan usia produktif dan sehat berada.

Untuk apa sih Promosi K3? Promosi K3 pasti dong punya manfaat :

Untuk Manajemen

  • Meningkatkan dukungan terhadap PKDTK
  • Citra perusahaan positif
  • Meningkatnya moral pekerja
  • Menurunnya PHK
  • Menurunnya angka absensi
  • Meningkatkan produktivitas
  • Menurunnya biaya kesehatan/asuransi

Untuk Pekerja

  • Meningkatkan percaya diri
  • Meningkatnya produktivitas
  • Menurunnya risiko penyakit
  • Menurunnya stress
  • Meningkatkan kepuasan dan semangat kerja
  • Meningkatkan pengetahuan pencegahan penyakit
  • Meningkatkan kesehatan individu
  • Meningkatkan kesehatan keluarga

Untuk membuat promosi kesehatan di tempat kerja ga bisa asal-asalan brosis. ga boleh seenak jidat, harus sesuai dengan kaidah-kaidah keilmuan supaya sasaran perubahan perilakunya tepat. Nah kalo sesuai teori Promosi K3 harus memenuhi prinsip sebagai berikut :

  1. Komprehensif –>¬†Menggabungkan antara intervensi individu dan organisasi yg dpt menciptakan lingk.kerja yg sehat dan aman.
  2. Partisipasi dan Pemberdayaan –> Seluruh pegawai terlibat dalam menentukan kebutuhan dan solusi
  3. Kerjasama multisektoral –> Melibatkan berbagai sektor dan profesional untuk mengatasi faktor-faktor yang mempengaruhi kesehatan
  4. Keadilan sosial –> Seluruh pekerja terlibat dalam program, tanpa membeda-bedakan.
  5. Berkesinambungan –>¬†Disesuaikan dengan budaya kerja agar dapat berkelanjutan.

Tahapan Pelaksanaan

  1. Komitmen Manajemen : INI PENTING! tanpa komitmen manajemen apalah arti Promosi K3 di tempat kerja. Beberapa kali di setiap kesempatan saya bisa share mengenai Promosi K3 ini, saya selalu menekankan pentingnya komitmen manajemen. Contohnya, untuk mengumpulkan sejumlah pekerja shift dalam suatu ruangan aja pasti manajernya ngitung harus bayar lembur berapa, mesin harus mati berapa menit, harus alokasiin biaya berapa, harus ngaturnya gimana dll. Hal-hal kayak begini butuh komitmen yang kuat dari para manajer.
  2. Koordinasi : untuk mbikin, planning, mikir, eksekusi Promosi K3 ini butuh koordinasi. Nah biasanya kalo di Perusahaan itu orang HSE cuma ada 2 – 3 orang atau mungkin sukur-sukur Perusahaan besar punya departemen sendiri tapi so far, departemen HSE itu orangnya dikiittt, agak mustahil kalo ngelola Promosi K3 sendirian, jadi perlu banget koordinasi atau bikin panitia kecil dari berbagai departemen untuk berpartisipasi dalam Promosi K3.
  3. Rekognisi Kebutuhan : di tahap ini kita harus tau, Promosi K3 apa yang kita butuhkan? taunya dari mana? dari data absensi pekerja, dari isu yang sedang hangat (misalnya virus avian flu dll), dari trend kecelakaan kerja, lifestyle pekerja, laporan bahaya di tempat kerja dan lainnya yang sangat erat kaitannya dengan pekerja dan tempat kerja kita.
  4. Prioritas : Kalo udah banyak banget program yang mau dibuat, kudu di list. PILIH YANG PALING URGENT. Bisa diliat urgensi-nya dari program yang mau dibuat. Karena kita tau Perusahaan itu bukan yayasan sosial, tetapi tempat mencari keuntungan (profit). Ga mungkin dong kita maksain sesuatu yang ga bisa kita raih.
  5. Perencanaan : di tahap ini kita udah nentuin Program Promosi K3 apa yang mau kita laksanakan. Setelah itu kita rencanakan, kita mau ngapain sih, bagaimana cara kita deliver promosi kesehatan ini, siapa aja yang terlibat, biayanya berapa, dan yang peling penting KAPAN dan SAMPAI KAPAN dilaksanakan Promosi K3 ini.
  6. Pelaksanaan : nah tinggal eksekusi nih. Kalo planningnya udah cakep, eksekusinya mantep, Insya Allah lancaaarrr
  7. Evaluasi : Jangan dikira abis pelaksanaan kita bisa leyeh-leyeh. Boleh aja sih tapi inget tahap ini cukup penting karena di tahap evaluasi inilah kita mengukur efektivitas dari Promosi K3 ini, apakah berjalan dengan baik, sesuai dengan waktu yang telah ditetapkan, hambatan ada apa enggak, dan yang paling penting tepat sasaran gaaa? Baru kita sampaikan ke Top Management.
  8. Perbaikan : Dari tahap evaluasi lanjut ke tahap akhir yaitu perbaikan, di tahap ini karena udah pengalaman sama promosi K3 sebelumnya, kita bisa tentukan apa yang harus kita perbaiki ke depannya supaya Promosi K3nya lantjarr jaya, sasarannya tepat, dan hambatannya bisa dikendalikan.

Nah gitu deh secuplik tentang Promosi K3 di tempat kerja. Kalo mau liat-liat contoh mengenai Promosi K3 di tempat kerja cuss gambar di bawah ini beberapa yang bisa dilakukan yaaa

Promosi K3

Life Path : Seleksi Beasiswa LPDP -Memilih Universitas

Dalam pencarian dan seleksi beasiswa baik LPDP maupun beasiswa lainnya, temen-temen pasti bingung untuk memilih universitas, mau daftar dimana, universitas apa, negara mana yes? Kalo saya pribadi menentukan saya mau kuliah dimana hingga dapetin Letter of Acceptance itu ga bisa sembarangan, yang terpenting adalah cari restu, pilih negara tujuan, research universitas, dan penentuan pilihan!

Restu pasangan/orang tua :

ini penting. Jadi ceritanya karena saya sudah menikah dan belum memiliki anak dengan kondisi saya dan suami masih jauh-jauhan (saya di Makassar dan suami di Papua), penting bagi saya untuk mendapatkan restu suami. Niat untuk melanjutkan perkuliahan sudah ada sejak 3 tahun setelah saya lulus. Di kala itu saya bujuk suami saya agar saya bisa ikut beasiswa tetapi selalu ditolak, sampai pada pertengahan 2016 akhirnya suami saya luluh dan mengizinkan saya untuk ikut seleksi beasiswa luar negeri, dengan batasan negara Asia atau Australia. Saya pilih Australia.

Research Universitas di Negara Tujuan :

Kenapa saya pilih Australia? Pertama, saya sangat ingin kuliah di Negara berbeda ras, bukan rasis tapi lebih ke- pengen tau juga budaya yang cukup berbeda (jadi Singapura, Malaysia udah ga saya masukkan dalam list), Jepang, Cina, thailand, Korea ga saya pilih  juga karena saya merasa akan lebih lama lagi kalo saya belajar bahasanya meski bisa saja saya apply Kelas Internasional namun, kesehariannya pun saya harus belajar bahasa sehari-harinya (emang dasar males belajar lagi aja sih :p) jadilah saya pilih Australia yang secara geografis deket sama Indonesia, mother tonguenya English, dan bagus dalam penerapan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (sesuai peminatan jurusan untuk Master saya). Setelah saya mantap dengan Australia (sebenernya setelah itu apply juga ke University of Birmingham :p) saya mulai mencari Universitas. Australia punya banyak universitas berskala internasional. Bahkan, beberapa universitas di sana bertengger di 50 besar universitas terbaik world wide versi QS University ranking. Setelah search, universitas -universitas terbaik di Australia, sampailah saya berhadapan dengan pilihan Group of Eight-nya Universitas di Australia. Oiya apa itu Group of Eight? Group of Eight adalah delapan Perguruan tinggi terbaik di Australia. Apa aja? antara lain The University of Melbourne Australia, The Australia National University di Canberra, The University of Sydney, The University of Queensland, Monash University, The University of New South Wales, The University of Western Australia, dan The University of Adelaide. Setelah dapet top uni-nya Aussie, saya mulai search jurusan peminatan saya yaitu Keselamatan dan Kesehatan Kerja (Occupational Health and Safety). Dari ke semua top universitas tersebut, ternyata hanya ada 2 universitas yang masuk dalam pencarian saya, yaitu The University of Queensland (Master of Occupational Health and Safety Science) dan Monash University (Master of Occupational and Environmental Health). Oiya dalam pencarian ini saya tidak hanya mengandalkan website masing-masing kampus saja, tetapi juga saya menghadiri beberapa acara yang menghadirkan perwakilan-perwakilan universitas. Dari situ saya tau bahwa Adelaide uni dan UNSW tidak lagi membuka program untuk Master of Safety Science. Selain group of eight, saya juga search universitas lain yang juga bagus seperti RMIT, QUT, dll. Tetapi di RMIT hanya menyediakan kelas jarak jauh (dimana tidak dicover oleh beasiswa LPDP).

Penentuan Pilihan Universitas :

Setelah riset kecil-kecilan mengenai universitas di Australia, sampailah saya dihadapkan dengan dua pilihan. UQ atau Monash Uni. Dari segi world wide ranking, UQ lebih unggul dibandingkan dengan Monash Uni. Namun ketika saya search (forum mahasiswa) untuk bidang Kesehatan, Monash uni seperti sedikit lebih unggul dibandingkan UQ. Dari segi kota untuk ditinggali, UQ yang terletak di St. Lucia Brisbane lebih sepi dibandingkan Monash uni yang terletak di Clayton (dekat Melbourne) yang lebih metropolitan. Cuaca di Brisbane pun tidak terlalu berbeda dengan Indonesia, dbandingkan dengan Melb yang lebih sejuk. Sejujurnya, saya yang sedari kecil tumbuh di Kota besar agak tertarik untuk tinggal di Melbourne (hihi). Tapi kembali lagi ke pilihan saya lebih spesifik ke bidang studi Master Occupational Health and Safety Science, UQ menurut pendapat saya lebih unggul karena memiliki S1 (bachelor) spesifik di bidang K3, selain itu UQ pernah bekerja sama dengan Kementerian saya di sekitar tahun 90an. Setelah saya search pun informasi mengenai kuliah di UQ dan kota Brisbane masih sedikit dibandingkan cerita kehidupan di Melbourne. Hal ini menjadi peluang bagi saya untuk bisa bercerita dan explore lebih banyak ketika saya sudah berkuliah disana nanti. Sounds interesting yes!

Dari seluruh alasan di atas saya akhirnya mantap memilih The University of Queensland, sebagai kampus tujuan saya untuk melanjutkan gelar Master saya.

Feel so excited! Next chapter saya cerita-cerita gimana dapetin LoA yaa ūüôā

Surat Keterangan Catatan Kepolisian : Polsek Biringkanaya Makassar & Polres Tangerang

Menyambung Postingan sebelumnya tentang rangkaian kegiatan untuk urus mengurus dokumen kelengkapan beasiswa LPDP, salah satu dokumen yang diperlukan adalah Surat Keterangan Catatan Kepolisian. Walaupun saya adalah salah satu birokrat, urus mengurus hal yang seperti ini sejujurnya saya agak malas (jangan ditiru :P) kebayang bagaimana sulitnya birokrasi di Indonesia dan mengapa urusan persuratan di zaman digital ini tidak bisa dibuat se-ringkes dan se- efisien mungkin. Salah satunya dengan e-office e-government ataupun lainnya tanpa sibuk minta cap sana sini, tanda tangan sana sini (mihihihihi malah ngedumel). (sigh) Baiklah terlepas dari rumitnya birokrasi di Indonesia, setidak saat ini sudah ada upaya ke arah sana. Stop Complaining, Better make something.

Oke, ada beberapa permasalahan yang saya hadapi untuk membuat SKCK ini,. sebelumnya saya ingin share terlebih dahulu syarat untuk pembuatan SKCK di Polsek. Oia kenapa saya bikin SKCKnya di Polsek bukan di Polres? di keterangan Manual Pendaftaran LPDP tidak disebutkan SKCK yang diperoleh harus dari Polsek atau Polres, jadi saya memilih untuk membuat SKCK di Polsek saja, karena akses ke Polres Makassar dari tempat saya cukup jauh, ditambah lagi pengurusan SKCK saya laksanakan di jam kerja, walaupun sepertinya memang Polres Makassar tetap buka di hari Sabtu untuk pelayanan pembuatan ataupun perpanjangan SKCK.

Adapun syarat yang diperlukan untuk pembuatan SKCK di Polsek Biringkanaya dengan KTP non-makassar antara lain :

  1. Surat Keterangan Domisili dan Pengantar Pembuatan SKCK: Surat keterangan domisili didapatkan dengan mengajukan terlebih dahulu surat keterangan ke RT setempat, setelah itu minta tanda tangan ke RW setempat baru menuju kelurahan untuk dibuat surat keterangan domisili dan surat pengantar pembuatan SKCK.  Di Kelurahan selain surat pengantar dari RT/RW juga diperlukan Kartu Keluarga tempat tinggal. Nah ribetnya adalah Pak Lurahnya sedang tidak di tempat dan saat itu katanya sedang banyak aktivitas dan program. Setelah dua kali bolak-balik Kelurahan AKHIRNYA Surat keterangan domisili dan pengantar untuk pembuatan SKCK terbit juga.
  2. Kartu Keluarga Tempat Tinggal : Nah karena saya di Makassar sini ngontrak, perlu bawa kartu keluarga tempat kita tinggal sebagai lampiran untuk pembuatan SKCK, penting minta kartu keluarga sama yang punya rumah.
  3. Ijazah terakhir : Photocopy-nya dijadiin lampiran juga.
  4. Photocopy SKCK yang lama : karena saya di Tangerang udah pernah bikin SKCK, jadi saya lampirin kembali supaya ga rekam sidik jari lagi.
  5. Pas Photo : 4×6 : 5 lembar (kalo saya pake background merah)

Jengjeng, ga lama kemudian akhirnya SKCK saya terbit dengan membayar biaya administrasi Rp 10.000,-. Tetapi ternyata setelah saya perhatikan lebih seksama lagi, yang saya dapatkan di Polsek Biringkanaya bukan SKCK tapi di situ tertulis Rekomendasi Catatan Kepolisian. Waduh berarti saya harus melanjutkan kembali ke Polres Makassar? Akhirnya karena waktu saya mepet untuk membuat SKCK di Polres Makassar, saya pasrah dengan meng-upload ke web LPDP untuk pendaftaran.  Alhamdulilah masih bisa lolos seleksi administrasi. Ternyata para calon peserta banyak pula yang menggunakan SKCK dari Polsek untuk pendaftaran. Tetapi untuk berjaga-jaga, setelah saya upload RCK dari Polsek Biringkanaya, saya juga memperpanjang SKCK di Tangerang yang pada akhirnya saya gunakan untuk verifikasi dokumen pada hari H Seleksi Substantif.

Syarat-syarat memperpanjang SKCK di Polres Tangerang antara lain :

  1. Pas Photo 4X6 : 6 lembar
  2. Kartu Keluarga
  3. Surat Pengantar Kelurahan
  4. Ijazah
  5. Akta Kelahiran
  6. Mengisi kembali data diri pada formulir yang disediakan
  7. Lampiran SKCK lama

Saya lupa biaya administrasinya mungkin sekitar Rp 10.000,- juga sama seperti di Polsek Biringkanaya.

Alhasil saya punya dua surat Catatan Kepolisian, satu dari Polsek dan datu lagi dari Polres Tangerang. Dari pengalaman pembuatan SKCK ini hikmah yang bisa diambil adalah uruslah surat menyurat pada saat mudik walaupun saat itu masih belum terlalu dibutuhkan. Seperti SKCK ini, kalo sudah expired, segera perbaharui. Karena di tanah rantau, keribetan itu akan meningkat dua kali lipat!

 

Life Path : Beasiswa LPDP The Series – Seleksi Administrasi

Indonesian Endowment Fund for Education Scholarship atau yang lebih dikenal sebagai beasiswa LPDP adalah salah satu beasiswa yang paling diburu pemuda pemudi Indonesia, betapa tidak? track record LPDP yang baik dari segi proses seleksi awardee, pencairan dana, informasi mengenai beasiswa, dan masih banyak lagi yang semuanya dikelola secara profesional. Nah, mungkin sebagian besar teman-teman disini sudah mengetahui latar belakang beasiswa, syarat-syarat apply beasiswa LPDP ini, atau yang belum mengetahui bisa akses ke web LPDP langsung. Jangan lupa download manual booknya ya, karena manual book-nya pun di-update secara berkala.

Oke, setelah mengetahui persyaratan yang diberikan, akhirnya saya sangat tertarik untuk apply beasiswa ini. Nah di blog ini saya akan share mengenai tahap-tahap seleksi administrasi, ngumpulin persyaratan surat sehat, surat bebas TBC, SKCK dan lain-lain. Semua ini saya lakukan di daerah domisili saya yaitu Makassar, walaupun saya bukan asli makassar.

Setelah buat akun untuk apply beasiswa LPDP di Login LPDP  dan mengisi data diri seperti Beasiswa jenis apa yang akan diikuti (Luar Negeri atau Dalam Negeri), intake perkuliahan, Universitas tujuan, Letter of Acceptance (sudah ada atau belum), Bidang Keilmuan, Program Studi, dan Pemilihan Lokasi Tes Substansi. Nah disini saya memilih Magister Luar Negeri, The University of Queensland Australia, belum memiliki LoA, Magister Occupational Health and Safety.

Selain itu temen-temen juga wajib mengisi Riwayat Pendidikan, Riwayat Pekerjaan, Pengalaman Organisasi, Prestasi, Kemampuan Bahasa, Pengalaman Pelatihan/Workshop, Pengalaman Riset, Karya Ilmiah, Konferensi dan Seminar, Penghargaan dan Essay (500 – 700 kata) mengenai Kontribusiku untuk Indonesia, Sukses Terbesar dalam Hidupku, dan Rencana Studi (karena saya tujuan luar negeri, saya menulis essay dalam bahasa inggris, sebenernya sih dalam manual book tidak ada ketentuan harus bahasa inggris atau tidak, tetapi denger2 nih untuk mengantisipasi pertanyaan interviewer mendingan untuk tujuan luar negeri essay-nya dalam bahasa inggris aja). Nah kalo mau tau cara mengisinya bisa download manual booknya yang tersedia di web LPDP.

Setelah mengisi data diri dan lain-lain yang saya sebutkan di atas, saatnya untuk mempersiapkan dokumen yang harus diupload :

  1. Ijazah : kalo ini pasti semua orang punya yaa, karena syarat untuk beasiswa Magister baik LN maupun DN adalah ijazah S1 kita, pastikan ijazah asli yang kita scan yaa.
  2. Transkrip Nilai Sarjana (S1)
  3. Rencana Studi: selain kita tulis di essay, kita juga upload rencana studi kita.
  4. Sertifikat Bahasa Asing yang diakui LPDP dan masih berlaku, bagi yang sudah tidak berlaku/kadaluarsa tidak diperbolehkan mengunggah/upload : Bagaimana saya dapetin sertifikat IELTS di Makassar? Bisa baca postingan saya di sini Pengalaman Tes IELTS di Makassar Part 1- Persiapan Pengalaman Tes IELTS di Makassar (Part 2)
  5. Surat Pernyataan Tidak sedang dan tidak akan menerima bantuan beasiswa Magister dari sumber lain baik dalam negeri maupun luar negeri; Berkelakuan baik dan tidak pernah melakukan tindak pidana; Sanggup mengabdi untuk kepentingan bangsa dan negara setelah menyelesaikan studi; Sanggup menyelesaikan studi Magister sesuai dengan waktu yang tentukan (Bermaterai) : nah ini mudah, ada contohnya di manual book jadi ga perlu bingung-bingung.
  6. Surat Ijin Belajar sesuai format LPDP (bagi yang sudah bekerja) : Karena saya kebetulan adalah Aparatur Sipil Negara, jadi minta surat izin kudu dengan kaidah-kaidah persuratan ASN. Nanti saya share ya bagaimana pengalaman saya minta surat izin atasan ini.
  7. Surat Rekomendasi sesuai format LPDP : Nah ini maksudnya adalah surat rekomendasi yang diberikan oleh Pembimbing akademis kita, atasan kita, atau tokoh masyarakat yang emang mengerti dan kenal kita. ini juga mau saya share di Postingan selanjutnya!
  8. LOA Conditional / Unconditional yang masih berlaku, bagi yang memiliki LoA diluar Perguruan Tinggi daftar LPDP tidak diperbolehkan mengunggah/upload : ini wajib ga wajib. Jadi pada waktu saya daftar saya belum memiliki LoA dan alhamdulilah lolos seleksi administrasi. Perkara LoA ini sungguh vital, nanti ada postingan tersendiri terkait dengan menggapai LoA. Terkait memilih universitas bisa liat di postingan ini Life Path : Seleksi Beasiswa LPDP -Memilih Universitas
  9. Kartu Tanda Penduduk (KTP)
  10. Surat Keterangan Berbadan Sehat dan Bebas Narkoba dan ditambahkan Surat Keterangan Sehat Bebas dari Tuberculosis (TBC) bagi yang ingin studi ke luar negeri. Semua Surat Keterangan Sehat dari Rumah Sakit Pemerintah : Ini juga salah satu yang mesti di-upload, saya akan cerita pengalaman saya dapetin semua surat-surat ini di chapter selanjutnya yaa.
  11. Surat Keterangan Catatan Kepolisian (SKCK) : Nah ini yang paling super duper menguras waktu buat saya, karena KTP saya bukan KTP Makassar. Terkhusus ulasan tersendiri untuk pembuatan SKCK ini.Surat Keterangan Catatan Kepolisian : Polsek Biringkanaya Makassar & Polres Tangerang

Nah semua dokumen-dokumen ini saya siapkan sekitar H-3 minggu penutupan. Jangan ditiru yaa. Teman-teman harus lebih mateng persiapannya supaya ga dag-dig-dug macem saya. Semoga sukses persiapan dokumennya (:

Behavior Based Safety (Part 2)

Helaw!

Menyambung part 1 tentang bagaimana sih implementasi Program Behavior Based Safety di tempat kerja? gimana sih ngukur perilaku? gimana sih outputnya? Baiklah mari kita diskusi bareng-bareng. Berdasarkan keilmuan saya yang cukup cetek ini, sekali lagi, ini hanya berdasarkan pengalaman saya di dunia kerja dan beberapa literatur yang saya dapatkan.

Behavior Based Safety (BBS) adalah aplikasi sistematis tentang perilaku manusia pada masalah keselamatan di tempat kerja yang memasukkan proses umpan balik secara langsung dan tidak langsung. BBS lebih menekankan aspek perilaku manusia terhadap terjadinya kecelakaan di tempat kerja. BBS dapat juga diartikan sebagai proses pendekatan untuk meningkatkan K3L dengan jalan menolong sekelompok pekerja untuk mengidentifikasi perilaku yang berkaitan dengan K3, mengumpulkan data kelompok pekerja, memberikan feedback dua arah mengenai perilaku K3 dan mengurangi dan meniadakan hambatan sistem untuk perkembangan lebih lanjut.

Nah, dalam BBS ini ada proses mengamati dan umpan balik. Fungsinya apa? kalo berdasarkan teori Bradley Curve di Postingan sebelumnya, kita tau bahwa untuk mencapai budaya keselamatan yang interdependen, tanggung jawab K3 bukan hanya untuk orang yang bekerja di bidang K3 saja, tetapi merupakan tanggung jawab semua karyawan. Di Program BBS ini lah karyawan dilatih untuk melaksanakan observasi dan memberikan feedback kepada rekan kerja maupun atasannya dari perilaku yang kurang aman atau dapat membahayakan dirinya maupun orang lain.

Apa sih tujuan dari BBS ini?

Tujuan Implementasi BBS

  1. Menciptakan lingkungan kerja dengan kondisi perilaku pekerja zero harm yang akan mendukung zero accident di lingkungan kerja.
  2. Mengurangi terjadinya at Risk-Behavior.
  3. Merubah kebiasaan dan mindset pekerja untuk senantiasa bekerja dengan aman dan selamat.

Manfaatnya gimana?

Manfaat Implementasi BBS

  1. Penurunan angka laporan kejadian kecelakaan kerja.
  2. Menciptakan lingkungan kerja yang aman dengan menciptakan safety culture (Budaya K3) yang kuat dan mengakar dengan baik di lingkungan kerja.
  3. Mengurangi angka accident rate dan kerugian akibat kecelakaan kerja.
  4. Investasi jangka panjang (bertahan dalam jangka waktu yang lama)
  5. Upaya proaktif meminimalkan potensi kecelakaan yang disebabkan human factor.

Menurut  COAA (Construction Owner Association of Alberta) : Behavior Based Safety Practice dipetakan sebagai berikut :

bbs-flowchart-2

Nah gitu deh kira-kira proses pemetaannya, nah konsep sederhananya BBS harus memiliki komponen-komponen sebagai berikut:

Dalam implementasi BBS diperlukan komitmen yang tinggi dari pucuk pimpinan maupun seluruh karyawan yang terlibat.  Sumber Daya Manusia yang perlu dipersiapkan dalam implementasi BBS antara lain :

  1. Steering Committee atau Tim yang membahas temuan, mengagendakan pelatihan dan mengusulkan perbaikan.
  2. Observer yang sudah ditraining teknik melaksanakan observasi perilaku di lapangan.
  3. Tim Pembahas Permasalahan yang terdiri dari manajemen atau pengambil keputusan.

Pengen banget share bagaimana sih alur sederhananya yang berupa ilustrasi yang lebih dimengerti, tapi karena siklus ini sepertinya copyright, jadi kalo mau tau lebih lanjut leave your email on comment box aja ya?

Nah, supaya temen-temen bisa dapet gambaran, terus gimana kelanjutannya itu observasi BBS. Berikut saya berikan gambaran sederhana langkah-langkah observasi Behavior Based Safety di Perusahaan.

Langkah-langkah pelaksanaan observasi

  1. Persiapkan Checklist formulir yang sudah berisikan item-item perilaku kritis (Critical Behavior Inventory) dari hasil identifikasi perilaku tidak aman di tempat kerja. Kalo mau contoh seperti apa sih Critical Behavior Inventory, Leave your message on comment box yaaa.
  2. Persiapan pengamatan dengan meninjau item-item pada checklist yang tersedia
  3. Memulai pengamatan dengan menginformasikan pelaksanaan observasi dan menjelaskan proses observasi.
  4. Selama pengamatan, fokus pada pekerja yang diobservasi dan checklist serta catat pada formulir yang tersedia.
  5. Setelah pengamatan selesai, berikan umpan balik kepada pekerja yang diobservasi mengenai perilaku aman dan berisiko. Tanyakan kepada pekerja mengapa pekerja tersebut melaksanakan perilaku yang tidak aman, tuliskan dalam kolom komentar. Setelah selesai hitung % SAFE dengan rumus sebagai berikut:safe

Nah kurleb, segitu tentang Behavior Based Safety, masih banyak sebenernya yang pengen banget dishare, terutama pengalaman-pengalaman jadi fasilitator BBS, Rapat Steering Committee itu kayak apa dan bagaimana ketemu sama sponsor untuk omit barrier remove. Ahh berbicara tentang K3 memang tidak ada habisnya. See you on the next chapter! (:

Behavior Based Safety (Part 1)

Hola!

Setelah dua postingan sebelumnya bercerita tentang pribadi saya, kali ini saya ingin share mengenai Behavior Based Safety (Program Keselamatan Kerja Berbasis Perilaku). Sekali lagi, ini saya share berdasarkan pengalaman saya di Perusahaan dan saat ini di Pemerintahan.

Indonesia punya cita-cita untuk mewujudkan masyarakat berbudaya K3, seperti tertuang dalam Keputusan Menteri Ketenagakerjaan no. 384 Tahun 2016 mengenai petunjuk pelaksanaan Bulan Keselamatan dan Kesehatan Kerja Nasional Tahun 2015 ‚Äď 2019 dengan sasaran mendorong pencapaian ‚ÄúKemandirian Masyarakat Indonesia Berbudaya Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) secara berkesinambungan‚ÄĚ Pencapaian budaya K3 sendiri bukan merupakan pekerjaan yang mudah, apalagi dalam skala nasional. Kita harus memiliki program yang berbasis perilaku paling tidak dalam skala kecil terlebih dahulu di Industri maupun Pemerintahan. Salah satu pendekatan untuk merubah perilaku yang dapat kita laksanakan adalah program Behavior Based Safety.

Sebelum masuk ke implementasi Behavior Based Safety, alangkah baiknya kalo kita liat dulu teori-teori yang terkait dengan Budaya K3 dan Perilaku :

Menurut E.Scott Geller (2002) Total Safety Culture atau Budaya Keselamatan dan dicapai dengan pendekatan konsep Person, Behavior, dan Environment.

  1. Person

Merupakan Faktor Internal Personal seperti Pengetahuan, Skill, Sikap, Kemampuan, Kecerdasan.

  1. Behavior

Merupakan faktor perilaku yang dapat terlihat seperti kepatuhan, komunikasi, melaksanakan laporan dan menunjukkan kepedulian secara aktif.

  1. Faktor Lingkungan dan Eksternal

Merupakan faktor lingkungan dan luar manusia yang mempengaruhi seperti mesin, faktor fisika, faktor kimia, faktor biologi, Standar Operasional Prosedur (SOP), dan Peraturan.

Bagan dan Kerangka konsep tertuang dalam gambar di bawah ini

safety-performance

Nah, ngomongin soal behavior atau perilaku, ada juga teori Model Perilaku ABC

kurleb (kurang lebih), bagannya kayak gini

abc-2

Perilaku manusia merupakan suatu proses sekaligus interaksi antara antecedents, behavior dan consequences. Perilaku dapat terbangun dan berubah karena tiga pilar tersebut. Antecedents adalah peristiwa yang mendahului perilaku, Behavior adalah tingkah laku/perilaku yang terlihat, dapat diamati atau diobservasi, dan consequences adalah peristiwa yang mengikuti perilaku (muncul setelah ada perilaku).(OSTN, 2002).

Teori Bradley Curve

Dupont adalah organisasi internasional yang bergerak di bidang ilmu pengetahuan dan keahlian teknis berkelas dunia ke pasar global melalui produk, bahan, dan layanan inovatif. Nah, si Dupont ini terkenal sebagai Perusahaan yang memiliki Program K3 yang luar biasa! Salah satunya program yang berbasis perilaku dan lisensinya dipakai oleh Perusahaan-perusahaan besar di seluruh dunia. Dari sinilah tercipta teori Bradley Curve yang mengidentifikasi Fase-Fase Safety Culture.

bradely-curve

Pada kurva tersebut, Dupont membagi 4 klasifikasi tingkatan budaya K3 yaitu sebagai berikut:

  1. Fase Reaktif

Kepedulian manajemen dan karyawan terhadap K3 sangat rendah. Tanggung jawab K3 diserahkan kepada bagian K3. Tidak ada kesadaran dari karyawan terkait tanggung jawab akan K3, udah ada departemen K3 aja udah syukur alhamdulilah. Jadi di fase ini kalo terjadi kecelakaan aja baru deh sibuk, ribut, saling menyalahkan :p (seperti yang terjadi di negeri kitakah?)

  1. Fase Dependen

Karyawan melihat K3 sebagai sebuah aturan/prosedur yang harus diikuti. Tingkat kecelakaan dapat menurun dan manajemen percaya bahwa K3 dapat dikelola jika karyawan mau mengikuti aturan. Nah bisa dikatakan di fase ini orang-orang udah mulai “ngeh” tentang K3. Tapi baru sebatas takut ama bos, takut dipecat, takut ditilang mihihihi.

  1. Fase Independen

Setiap individu karyawan bertanggung jawab atas K3 untuk diri mereka sendiri. Pengetahuan, komitmen dan standar K3 sudah ditekankan pada setiap karyawan. Proses internalisasi sebuah nilai K3 juga ditanamkan kepada seluruh karyawan. Di Fase ini sudah ada keterlibatan dan komitmen yang kuat akan pelaksanaan K3, udah mulai sadar kalo K3 itu penting untuk keselamatan mereka, bukan karena takut ditilang :p

  1. Fase Interdependen

K3 merupakan sebuah tanggung jawab tim baik untuk diri mereka sendiri maupun orang lain. Mereka tidak menerima standar yang rendah dan mengambil risiko. Nah di sini karyawan, manajemen maupun masyarakat mulai sadar kalo K3 itu bukan cuma buat diri mereka sendiri, tapi juga untuk orang lain. Pada fase ini ada proses saling mengingatkan supaya semua sama-sama merasa aman dan nyaman.

Seru bukan main kalo ngomongin tentang behavior based safety. Nah sekarang gimana sih contoh Program K3 Berbasis Perilaku di tempat Kerja? Tunggu di Chapter selanjutnya yaa! chapter 2 bisa diliat di link ini Behavior Based Safety (Part 2)

Literatur:

OSTN : Introduction to Behavior Based Safety, 2002

COAA (Construction Owner Association of Alberta) : Behavior Based Safety Practice

The Dupont Integrated Approach (DnA) For Safety : A Catalyst to Accelerate Performance, 2012

http://www.incident-prevention.com  : Behavior Based Safety What’s the Verdict?, 2014