Hazard Report (Pelaporan Bahaya di Tempat Kerja)

Di sebagian besar Perusahaan, terkadang kecelakaan terjadi dikarenakan hal-hal kecil yang seringkali kita anggap sepele namun pada akhirnya berakibat fatal. Seperti misalnya, lantai licin, terdapat lubang di area pejalan kaki, kabel berantakan, tidak adanya barikade dll. Semua potensi bahaya ini dapat dilihat dan juga dirasakan oleh pekerja. Petugas K3, Anggota P2K3, atau supervisor pun sesungguhnya tidak cukup untuk mengantisipasi bahaya ini. Oleh karena itu, penting di setiap Perusahaan untuk memiliki sistem pelaporan potensi bahaya di tempat kerja yang dapat dilakukan oleh seluruh pekerja tanpa terkecuali, termasuk di dalamnya kontraktor dan visitor, yang dikenal dalam bahasa inggris dengan Hazard Report. Tulisan ini murni berdasarkan analisis pribadi dan pengalaman selama menjadi bagian dari Departemen Health Safety Environment di Perusahaan 3 tahun yang lalu.

Hazard Report atau dalam Bahasa Indonesia dikenal sebagai Pelaporan Bahaya di tempat kerja merupakan “wadah/media” bagi pekerja untuk melaporkan bahaya yang mereka lihat, rasakan, dan temukan di tempat kerja yang berpotensi menyebabkan kecelakaan dan penyakit akibat kerja.

Sebelum kita berbicara tentang Hazard Report, Mari kita ketahui terlebih dahulu apa itu definisi bahaya.

Hazard atau bahaya memiliki definisi sebagai bahan benda zat atau sesuatu apapun yang memiliki potensi untuk menimbulkan risiko, baik kecelakaan atau penyakit akibat kerja. Potensi yang menyebabkan risiko dapat berupa jumlah atau kuantitas yang banyak dari bahan zat atau benda tersebut, sifat fisik maupun kimia, maupun efek yang ditimbulkan bagi seseorang.

Nah. coba bayangin kalo bahaya atau hazard itu ada di area tempat kerja kita

Apa yang menyebabkan pentingnya pelaporan bahaya di tempat kerja? Pelaporan bahaya di tempat kerja penting dilakukan dengan tujuan :

  1. Mencegah terjadinya kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja
  2. Sebagai evaluasi pengendalian di tempat kerja.
  3. Untuk mengetahui trend bahaya dan risiko yang terjadi di tempat kerja.
  4. Meningkatkan kesadaran pekerja akan bahaya dan risiko di tempat kerja.
  5. Sebagai dasar bagi manajemen untuk membuat program dan kebijakan Keselamatan dan Kesehatan Kerja.

Untuk membuat hazard report dan pelaporan bahaya di tempat kerja berjalan dengan baik dan optimal, diperlukan alur dan sistem yang komprehensif sehingga akar permasalahan dari terjadinya potensi bahaya dapat diatasi. Langkah-langkah yang dapat dilakukan untuk membangun penerapan pelaporan bahaya di tempat kerja antara lain :

1. Membuat prosedur dan alur pelaporan bahaya di tempat kerja

Alur pelaporan bahaya di tempat kerja dapat didiskusikan oleh Departemen HSE di masing-masing Perusahaan atau pada rapat P2K3 yang dilaksanakan setiap bulan dengan melibatkan perwakilan dari operator, middle staff, hingga top manajemen. Secara sederhana alur pelaporan bahaya di tempat kerja dapat berupa :

Pekerja melihat potensi bahaya –> Jika dapat langsung ditanggulangi, dapat langsung ditanggulangi sendiri –> Mengisi Form hazard report yang ditujukan untuk penanggung jawab area –> Administrator –> Meneruskan ke penanggung jawab area –> Penanggung jawab area menjawab pada isian form dan segera menindaklanjuti

2. Menentukan personil

  • Penanggung Jawab Area : Sebaiknya dipilih orang yang dapat menjadi pembuat keputusan di masing-masing departemen. Contohnya Manajer dari masing-masing departemen.
  • Administrator : Biasanya yang menjadi administrator untuk Hazard Report ini adalah dari departemen K3/HSE, namun tidak menutup kemungkinan staff lain yang diamanahkan untuk meneruskan temuan bahaya di lapangan dan merekap hazard report setiap bulannya.
  • Site Area Manager : Jika potensi bahaya di tempat kerja tidak mampu diselesaikan oleh penanggung jawab area, seperti perlunya budget yang besar, maka diperlukan Site Area Manager yang bertanggung jawab akan keseluruhan area di tempat kerja. Site Area manager ini biasanya adalah Top Management.

3. Membuat Formulir

Formulir dapat disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing Perusahaan. Ada baiknya formulir berisikan :

  • Nama Pelapor
  • Deskripsi Bahaya yang ditemukan di tempat kerja, dapat dilengkapi dengan gambar
  • Tulis Penanggung Jawab Area
  • Prioritas Action yang harus dilakukan (Tinggi/Sedang/Rendah)
  • Immediate Action yang harus dilakukan (diisi oleh Penanggung Jawab Area)
  • Analisis Akar Permasalahan (diisi oleh Penanggung Jawab Area)
  • Perbaikan dan Pencegahan yang dilakukan agar di masa yang akan datang tidak terulang kembali (diisi oleh penanggung jawab area)
  • Untuk memudahkan administrator untuk tracking laporan bahaya apakah sudah diatasi atau belum, dapat menambahkan kolom close atau masih open. Artinya apakah tindakan perbaikan atau pencegahan telah dilakukan sehingga hazard report dapat di-close.

4. Melaksanakan Sosialisasi dan Simulasi kepada Pekerja

Setelah tools dan prosedur telah kita siapkan, kita wajib melaksanakan simulasi kepada pekerja agar mengetahui langkah-langkah melaksanakan pelaporan bahaya di tempat kerja. Dapat melalui briefing di pagi hari sebelum bekerja, rapat bulanan P2K3, dan event Safety lainnya.

5. Evaluasi

Evaluasi dapat dilaksanakan baik mengukur kefektifan Pelaporan bahaya di tempat kerja, maupun trend potensi bahaya yang terjadi di tempat kerja. Dari hasil evaluasi ini kita dapat mengukur tingkat partisipasi pekerja untuk melaporkan bahaya di tempat kerja. Beberapa Perusahaan juga menjadikan pelaporan potensi bahaya di tempat kerja sebagai pelaporan nearmiss, walaupun secara harfiah terdapat definisi yang berbeda antara potensi bahaya dan nearmiss. Evaluasi dapat dilakukan 1 bulan sekali pada meeting P2K3.

Dari keseluruhan pelaksanaan memang terdapat beberapa kendala yang biasanya akan ditemui terkait dengan Pelaporan Bahaya di tempat kerja. Masalah-masalah yang akan timbul antara lain :

  1. Adanya konflik antar pekerja, karena mindset yang belum dewasa mengenai fungsi dan tujuan dari pelaporan bahaya di tempat kerja. Terkadang pelaporan bahaya di tempat kerja dijadikan ajang “saling melaporkan”
  2. Keengganan untuk melaporkan atasan yang tidak berperilaku aman. Hal ini seringkali terjadi karena pelaporan bahaya menuliskan nama pelapor. Masalah ini dapat diatasi dengan menganonimkan pelapor jika perlu maupun pemberian safety leadership training kepada seluruh team leader, supervisor, manager, hingga top management.
  3. Hazard report dianggap membuang-buang waktu dan menambah pekerjaan. Beberapa orang menganggap bahwa dengan hazard report, pekerjaan mereka akan bertambah untuk memikirkan tindakan perbaikan apa yang harus dilakukan. Hal ini dapat diatasi dengan menjadikan Tugas HSE menjadi bagian dari aktivitas mereka sehari-hari (tertuang dalam job description).
  4. Follow up yang lambat dari pelaporan bahaya di tempat kerja. Dapat diselesaikan dengan sistem reminder secara berkala.
  5. Kurangnya partisipasi aktif dari pekerja untuk melaporkan bahaya di tempat kerjas. Hal ini bisa disiasati dengan memberikan penghargaan kepada karyawan yang berpartisipasi aktif dalam pelaporan bahaya di tempat kerja dan menuangkannya pada target individu KPI (Key Performance Indicator).

Setiap Perusahaan dapat berbeda-beda dalam mempersepsikan hazard report, tetapi yang pasti, hazard report ini berguna sebagai “early warning system” agar kejadian yang lebih besar yang lebih merugikan tidak terjadi. Berikut di bawah ini contoh formulir hazard report dengan beberapa modifikasi oleh saya dan pernah diterapkan di salah satu tempat kerja saya sebelumnya yang menerapkan Hazard Report dengan cukup baik (semoga ga kena copyright). Semoga bermanfaat 🙂

Formulir Hazard Report (2)

Hazard Report Detai; (2)

Life Path – Seleksi Beasiswa LPDP : Mendapatkan Letter of Acceptance (LoA) dan Defer Perkuliahan

Hallo!

Masih dalam rangkaian chapter seleksi beasiswa LPDP. Setelah saya cerita mengenai bagaimana saya memilih universitas yang saya ceritain di blog ini Life Path : Seleksi Beasiswa LPDP -Memilih Universitas, kali ini saya ingin menceritakan proses saya mendapatkan Letter of Acceptance (LoA).

Setelah menentukan pilihan untuk melanjutkan studi Master ke University of Queensland, Australia, akhirnya saya dalam proses bagaimana sih supaya saya bisa mendapatkan LoA? Dalam persyaratan seleksi beasiswa LPDP batch 4 2016, LoA merupakan additional requirement untuk proses seleksi, NOT MANDATORY. Jadi saya suda bisa apply walaupun saat itu saya belum memiliki LoA (karena waktu itu saya pun masih menunggu hasil IELTS saya. Cerita tentang proses dapetin IELTS bisa diakses di link ini Pengalaman Tes IELTS di Makassar Part 1- Persiapan dan Pengalaman Tes IELTS di Makassar (Part 2)). Karena saya baca di buku panduan bahwa perkuliahan paling cepat dimulai setelah 6 bulan penutupan seleksi administrasi, saya sih tetep percaya diri bahwa jika saya diterima, saya tetep bisa kuliah di tahun 2017 sesuai dengan rencana saya, dengan estimasi LoA bisa turun satu bulan ke depan.

Saya mendapatkan LoA dengan bantuan agen di tempat saya tes IELTS (IDP Makassar). Syarat-syarat yang diperlukan antara lain :

  • CV
  • Copy Passport
  • Copy Ijazah dan Transkrip nilai – termasuk versi English translation apabila sudah ada 
  • Reference letter  – sangat disarankan
  • Personal Statement
  • IELTS certificate atau Official English test Certificate lain – jika sudah ada

Kebetulan saya hanya submit dokumen-dokumen di atas langsung ke agennya, nanti agen yang akan submit ke kampusnya. Tidak ada biaya sama sekali yang dikeluarkan untuk proses pengajuan LoA melalui agen ini. Biaya pendaftaran pun dapat di-waive terlebih dahulu. Namun, tidak ada salahnya untuk mendaftar mandiri dengan syarat-syarat yang telah ditentukan dan mungkin ada application fee atau uang pendaftaran yang dibayarkan langsung ke kampus tujuan. Denger-denger sih mendaftar mandiri bisa menjadi salah satu keunggulan dibandingkan dengan mendaftar dengan agen pada saat seleksi beasiswa LPDP.

Saya mendaftar untuk dua universitas di agen tersebut. yang pertama jelas University of Queensland (UQ) Australia dan yang kedua adalah Monash University. Saya memilih UQ juga karena UQ membuka dua periode kelas yaitu Februari dan Juli. Karena saya tidak bisa intake untuk Februari 2017 (syarat di buku panduan LPDP harus 6 bulan setelah penutupan pendaftaran administrasi), jadi saya apply dan berharap dapat kuliah di UQ untuk intake Juli 2017. Monash Uni saya apply untuk back up, jikalau aplikasi saya di UQ “bermasalah”. Saya pun tidak memprioritaskan Monash Uni karena kelas untuk Master Occupational Health yang saya apply hanya buka di bulan Februari 2018, artinya saya harus menunggu 1 tahun lebih untuk sekolah.

Pada saat mendaftar untuk proses mendapatkan LoA, hasil IELTS saya belum keluar. Kata mba-mba agennya sih ga masalah daftar aja dulu jadi nanti pada saat hasil IELTSnya keluar bisa langsung submit untuk persyaratan IELTSnya. Saya submit untuk proses pendaftaran LoA UQ dan Monash di akhir bulan September 2016, dan hasil IELTS saya keluar di sekitar tanggal 10 Oktober 2016.

Hingga menjelang saya tes Seleksi substansi dan wawancara LPDP di sekitar bulan november 2016, saya belum juga mendapatkan balasan dari kedua universitas yang saya apply. Sekitar akhir bulan November Monash uni mengeluarkan Unconditional LoA untuk intake Februari 2018 di hari saya seleksi wawancara. Tapi karena tujuan utama saya adalah UQ, saya masih menunggu Unconditional letter dari universitas tersebut. Karena saya orangnya agak ga sabaran, apalagi setelah baca-baca blog kalo proses untuk UQ itu paling lama sebulan, tapi udah hampir dua bulan masih belum ada kabar, beberapa kali saya email admissionnya untuk menanyakan kabar LoA saya. Mungkin karena status saya waktu itu masih “apply beasiswa” jadi masih belum diprioritaskan (mengingat saat itu di akhir tahun dan sedang fokus pada ujian *katanya sih).

Sampai pada pengumuman Seleksi LPDP batch 4 2016 tanggal 09 Desember 2016 yang menyatakan bahwa saya adalah salah satu awardee yang lolos seleksi substansi,  LoA dari UQ belum turun juga. Dan yang paling bikin lemes adalah di akun pengumuman LPDP menyatakan bahwa BAGI AWARDEE YANG BELUM MEMILIKI LOA PERTANGGAL 09 DESEMBER 2016, MAKA WAJIB MEMULAI PERKULIAHAN PALING CEPAT TAHUN 2018 T.T. Apa daya, saya terkena imbas kebijakan baru LPDP yang serba mendadak dan di luar dugaan ini. Saya segera email admissionnya kembali dan menjelaskan kalau saya adalah salah satu penerima beasiswa LPDP batch 4 2016 dan membutuhkan Unconditional Letter of Acceptance sesegera mungkin, barulah Unconditional LoA saya turun di tanggal 13 Desember 2016 untuk intake 2017. Terlambat sudah.

Beberapa kali saya email CSO LPDP dan menelepon CSO LPDP agar saya dapat intake di 2017, tetapi jawaban tetap sama dan kebijakan LPDP untuk wajib defer perkuliahan sudah dibuat. Akhirnya saya pasrah dan berbesar hati untuk defer perkuliahan saya ke Februari 2018 di UQ. Proses defer sangat mudah, saya cukup email ke admissionnya dan menjelaskan alasan mengapa saya harus defer. Selain itu, saya juga lapor ke agen tempat saya submit persyaratan untuk LoA. Alhamdulilah di bulan Februari setelah saya mengajukan defer, LoA defer terbaru akhirnya muncul di email inbox saya sebagai syarat untuk dapat mengikuti PK atau Persiapan Keberangkatan LPDP.

Based on my experience, semoga teman-teman bisa antisipasi masalah LoA ini, terutama jika ingin mendaftar LPDP dengan kebijakan dari pihak LPDP yang sangat sangat dinamis. Namanya juga bisa kuliah gratis dan dibayarin negara, jadi kita juga harus siap dengan segala perubahan-perubahan yang ada terkait dengan kebijakan.

Good Luck!

Tools Pengukuran Ergonomi – Muscle Fatigue Assessment (MFA) Part 2

Setelah kemarin share mengenai pengantar dari Muscle Fatigue Assessment (MFA) sebagai salah satu tools pengukuran ergonomi, di postingan kali ini akan saya share mengenai cara bagaimana MFA digunakan. Metode ini adalah metode semikuantitatif dengan mengandalkan observasi di lapangan. Untuk melaksanakan penilaian dengan metode MFA ini ada beberapa checklist dan formulir yang digunakan dalam pengukuran ergonomi dengan metode Muscle Fatigue Assessment antara lain:

Checklist Task Identification

Checklist ini digunakan untuk menentukan task atau tugas apa saja yang dilaksanakan oleh pekerja di tempat kerja. Tujuan dari checklist ini adalah untuk menentukan aktivitas dari tugas apa saja yang memiliki risiko yang tinggi. Sebelum melaksanakan checklist untuk penentuan tugas yang akan diobservasi untuk dicari priority of change, sebaiknya dapat melaksanakan wawancara singkat untuk menyamakan persepsi dengan pekerja. Contoh pertanyaan adalah sebagai berikut :

  1. Apa saja pekerjaan yang dilakukan di area kerja ini?
  2. Bagaimana deskripsi dari masing-masing pekerjaan tersebut?
  3. Apa kesulitan yang dirasakan dari masing-masing task/tugas pekerjaan tersebut?
  4. Dari seluruh pekerjaan yang dilakukan, task apa yang paling sulit untuk dilakukan?
  5. Dari pekerjaan tersulit tersebut, berapa durasi, frekuensi, dan pekerja yang melakukan pekerjaan?
  6. Keluhan apa yang dirasakan saat mengerjakan pekerjaan tersulit itu?
  7. Bagaimana shift kerja yang diberlakukan di area pekerjaan ini?

Nah tampilan cheklist task identification-nya kayak gini nih,

Task Identification MFA

yuk kita bahas masing-masing kolom.

Job/Pekerjaan : ditulis pekerjaan untuk bagian apa, misalnya bagging, mixing, dst

Analyst : Kalo misalnya kita mau praktekin ini di Perusahaan, tulis nama siapa yang melaksanakan observasi ya sis.

Date/Tanggal : tulis tanggal pelaksanaan

Task/aktivitas : disitu ada list aktivitas apa aja yang dilakukan dalam pekerjaan. Misalnya proses mixing. ada persiapan bahan, proses penuangan bahan baku, proses penuangan bahan jadi, pengepakan dst. Tulis seluruh aktivitas yang dilakukan dalam pekerjaan tersebut.

% shift time : untuk masing-masing aktivitas tersebut, berapa % waktu aktivitas yang dihabiskan dari seluruh pekerjaan

Considered Difficult :  Dari observasi singkat dan wawancara ini, apakah task tersebut masuk dalam kategori yang sulit?

Change of Priority : Dari sekelebat wawancara dan identifikasi awal (initial assessment) kira-kira udah bisa kita tentukan untuk aktivitas apa saja yang bisa kita observasi. dapat ditulis High, Medium, Low. Jadi kita bisa fokus ke aktivitas yang High saja misalnya atau High Medium.

Formulir Observasi Berdasarkan Aktivitas

Nah, tools MFA ini ditujukan untuk mengetahui bagian tubuh mana saja yang memiliki risiko tertinggi terjadinya akumulasi kelelahan otot. Checklist-nya adalah sebagai berikut :

MFA Formulir

Observasi dapat dilakukan dengan memperhatikan masing-masing anggota tubuh seperti Leher (Neck), Bahu (shoulders), Punggung (Back), Lengan/Siku (Arms/Elbow), Pergelangan tangan/jari jemari (Wrists/Hands/Fingers), Kaki/Lutut (Legs/Knee), Angkel, kaki bawah/jari kaki (Ankels/Feet, Toes). Observasi dapat dilakukan dengan pengamatan langsung, atau dapat merekam dengan video. yang kita amati adalah effort (tenaga yang digunakan), Durasi (waktu yang digunakan masing-masing anggota tubuh untuk melaksanakan pekerjaan), dan Frekuensi (seberapa sering kita melaksanakan tugas tersebut). Dari masing-masing kriteria penilaian tersebut memiliki definisi penilaian.

Effort untuk masing-masing anggota tubuh memiliki penilaian ditandai dengan angka 1 untuk (Light/ringan), angka 2 untuk (moderate/sedang), angka 3 untuk (Heavy/berat). Sedangkan Durasi dinilai dengan angka 1 untuk pergerakan terus menerus kurang dari 6 detik, angka 2 untuk pergerakan terus menerus 6 – 20 detik, angka 3 untuk pergerakan terus menerus 20 – 30 detik, dan angka 4 untuk pergerakan anggota tubuh yang terus menerus selama lebih dari 30 detik (Very High). Untuk Frekuensi definisi angka 1 adalah dilaksanakan kurang dari 1 kali/menit, angka 2 berarti pergerakan 1 – kali/menit, angka 3 menunjukkan bahwa pergerakan dilakukan 5 – 15 kali/menit dan angka 4 adalah pergerakan dilakukan lebih dari 15 kali/menit (Very High).

Dari hasil observasi sesuai dengan definisi pada tabel maka akan didapatkan nilai untuk priority of change sebagai berikut :

MFA Priority of change.png

Nah kira-kira begitu yes, penggunaan tools ergonomi untuk mengetahui akumulasi kelelahan otot pada masing-masing bagian tubuh dengan metode semikuantitatif. Feel free to open a discussion on comment box below yaaa.. karena kebetulan kalo sampe dicontohin detail ga tau bisa sampe part berapa ini hahaha.

Jangan lupa cek part 1-nya yes

Tools Pengukuran Ergonomi – Muscle Fatigue Assessment (MFA) Part 1

Tools Pengukuran Ergonomi – Muscle Fatigue Assessment (MFA) Part 1

Oh hello..

Sambil menunggu candy crush soda saya nyawa kekumpul dulu selama 25 menit :p, ada baiknya saya mau share pengalaman saya waktu skripsi dulu mengenai ergonomi. Kebetulan karena pembimbing saya ahli di bidang human factor, saya diarahkan untuk penelitian mengenai ergonomi dan stress kerja. Jadi di dalam pencarian saya waktu itu untuk menentukan pake tools ergonomic apa, saya nemu banyak literatur mengenai metode-metode ergonomi. Di sini saya mencoba “mentranslate”, apa yang saya pahami dan telah saya coba supaya mentemen semua bisa punya pandangan tools ergonomi apa yang cocok dipake di tempat kerja mentemen atau untuk penelitian mentemen. Sekali lagi, ini hanya review sekilas. Jadi, kalo ada yang kurang sreg bisa kita diskusiin bersama ya.

Oiya sebelum masuk ke tools pengukuran ergonomi, sekilas saya mau jabarkan dulu apa sih pengertian ergonomi?

What is ergonomic? Ergonomic is fitting person to the job (OSHA – Occupational Safety Health Administrator). Secara singkat, OSHA bilang nyocokin, ngepasin pekerja sama pekerjaanya (bahasa betawinya gitu). Tujuannya apa? kalo kita kaitkan dengan kesehatan kerja, penerapan design atau tempat kerja yang ergonomis itu bertujuan untuk mencegah Work-Related Disease –> Musculoskeletal Disorder. Apa dampaknya? waduh banyak banget penyakit Musculoskeletal Disorders atau disingkat MSDs. Salah duanya yang cukup terkenal itu adalah Carpal Tunnel Syndrome dan Low Back Pain.

Oke. Kalo kita jabarin faktor risiko dan lain-lain mungkin agak panjang yaaa. Bisa diliat di  https://www.osha.gov/SLTC/ergonomics/

Nah baiklah kita masuk ke salah satu Tools Pengukuran Ergonomi yang agak kuter ini alias kurang terkenal tapi saya coba menggunakannya untuk penelitian saya. Kenapa? karena saya ingin melihat dan membandingkan keluhan subjektif pake kuesioner Nordic Body Map, dengan kondisi yang ada di lapangan. Next kalo inget ada bahasan tersendiri yaa untuk Nordic Body Map ini. Secara singkat, ini nih tampilannya kuesioner Nordic Body Map :

NBM

MUSCLE FATIGUE ASSESSMENT (Penilaian Kelelahan Otot)

Sedikit saya cuplikan dari Muscle Fatigue Assessment,

Penilaian Kelelahan Otot atau Muscle Fatigue Assessment (MFA) pertama kali dirancang oleh Rodgers sebagai alat untuk menilai jumlah kelelahan yang terakumulasi di otot pada berbagai pola kerja dalam waktu 5 menit bekerja. Penilaian ergonomi ini berdasarkan hipotesis bahwa otot yang cepat lelah, lebih rentan terhadap cedera dan inflamasi. Dengan pemikiran tersebut maka jika kelelahan otot dapat diminimalkan begitu juga cedera dan penyakit pada otot. Metode ini digunakan untuk analisis pekerjaan dan paling cocok untuk mengevaluasi risiko akumulasi kelelahan dalam tugas-tugas pekerjaan (task on job) yang dilakukan selama satu jam atau lebih serta di mana postur janggal atau frekuensi pengerahan tenaga (force) sering terjadi.

Bridger, RS. Introduction to ergonomics. 2 jil. Singapore: McGraw-Hill Book co. 2003.

Metode penilaian dengan menggunakan MFA adalah sebagai berikut :

  1. Mengidentifikasi pekerjaan yang berisiko
  2. Mengidentifikasi masalah dari suatu aktivitas pekerjaan
  3. Memilih tugas untuk dilakukan analisis
  4. Menentukan tingkat pembobotan nilai untuk setiap bagian tubuh
  5. Menentukan durasi dalam detik untuk setiap bagian tubuh
  6. Menentukan frekuensi dari pergerakan per menit pada setiap intensitas usaha yang sama untuk setiap bagian tubuh
  7. Menggunakan penggabungan nilai untuk usaha 4 sampai 6 untuk menentukan prioritas perubahan
  8. Identifikasi perubahan terhadap nilai menunjukkan tingkat risiko tinggi dan sangat tinggi untuk dijadikan prioritas perubahan.

Jadi dalam tools ini ada pembobotan semikuantitatif untuk masing-masing bagian tubuh dengan menilai dan memberikan skor sesuai dengan kaidah faktor dari aktivitas fisik yaitu frekuensi (seberapa sering), durasi (seberapa lama melaksanakan aktivitas), dan effortnya (besar, kecil atau sedang). Dari ketiga poin itu akan diakumulasi dan menghasilkan prioritas perubahan. Misalnya sangat tinggi di lengan, berarti desain tempat kerja untuk lengan harus diubah atau frekuensinya dikurangi, atau bebannya dan seterusnya.

Di MFA ini juga, ga semua aktivitas di tempat kerja kita observasi. Sebelum melakukan pembobotan kita wajib menilai terlebih dahulu yang mana terdapat risiko terkait ergonomi yang paling tinggi atau dirasa berpotensi tinggi menyebabkan penyakit MSDs.

Bagaimana contohnya? cara menggunakannya? bagaimana memberikan rating? bagaimana menganalisis aktivitas berdasarkan tools MFA ini? tunggu di chapter selanjutnya yaa sis 🙂

Promosi Keselamatan dan Kesehatan Kerja

Halo teman-teman semua!

Kali ini mau posting mengenai Promosi Keselamatan dan Kesehatan Kerja. Dulu waktu kuliah agak kurang tertarik sama mata kuliah ini. Tapi, seiring berjalannya waktu, ternyata Promosi K3 di tempat kerja ini salah satu yang bisa “ngena” dan bersemayam di benaknya teman-teman pekerja. Pernah di salah satu event, ada seorang teman yang mengeluh kenapa di Pabrik ini malah lebih ngurusin event-event yang katanya ga penting ini, such as safety day, sustainability day, BBS? But uhm, sorry.. ga penting? tapi saya dapet jawaban super wise dari operation manager. Kita ga pernah tau kalo event “kayak gini” itu yang justru secara tidak langsung membuat kita bertahan untuk achieve 15 tahun without Lost Time Injury. Jleppp!

Promosi K3 di Perusahaan makin semarak di beberapa tahun belakangan dengan adanya Bulan K3 nasional yang dicanangkan Pemerintah dan Kementerian Ketenagakerjaan. Hal ini sangat positif mengingat jaman saya masih menjadi wanita dengan safety shoes, gaung-gaung ini tidak sampai ke Perusahaan tempat saya bekerja dulu.

anyway.. Sebelum kita bahas mengenai Promosi K3, ada baiknya kita tau dulu apa sih Promosi Kesehatan.

Menurut WHO,

Health promotion enables people to increase control over their own health. It covers a wide range of social and environmental interventions that are designed to benefit and protect individual people’s health and quality of life by addressing and preventing the root causes of ill health, not just focusing on treatment and cure.

Jadi, kalo kita sederhanakan, Promosi Kesehatan membuat seseorang untuk meningkatkan pengendalian terhadap kesehatannya sendiri (dalam hal ini perubahan perilaku) dengan intervensi lingkungan dan sosial yang mempengaruhi kesehatan seseorang untuk menuju hidup yang berkualitas dengan pencegahan penyebab terjadinya penyakit yang tidak hanya fokus pada pengobatan.

Bahasa singkatnya MENCEGAH LEBIH BAIK DARI PADA MENGOBATI :p

Bagaimana dengan Promosi K3? kurang lebih sama, tetapi fokusnya ke pekerja, tempat kerja, dimana orang-orang dengan usia produktif dan sehat berada.

Untuk apa sih Promosi K3? Promosi K3 pasti dong punya manfaat :

Untuk Manajemen

  • Meningkatkan dukungan terhadap PKDTK
  • Citra perusahaan positif
  • Meningkatnya moral pekerja
  • Menurunnya PHK
  • Menurunnya angka absensi
  • Meningkatkan produktivitas
  • Menurunnya biaya kesehatan/asuransi

Untuk Pekerja

  • Meningkatkan percaya diri
  • Meningkatnya produktivitas
  • Menurunnya risiko penyakit
  • Menurunnya stress
  • Meningkatkan kepuasan dan semangat kerja
  • Meningkatkan pengetahuan pencegahan penyakit
  • Meningkatkan kesehatan individu
  • Meningkatkan kesehatan keluarga

Untuk membuat promosi kesehatan di tempat kerja ga bisa asal-asalan brosis. ga boleh seenak jidat, harus sesuai dengan kaidah-kaidah keilmuan supaya sasaran perubahan perilakunya tepat. Nah kalo sesuai teori Promosi K3 harus memenuhi prinsip sebagai berikut :

  1. Komprehensif –> Menggabungkan antara intervensi individu dan organisasi yg dpt menciptakan lingk.kerja yg sehat dan aman.
  2. Partisipasi dan Pemberdayaan –> Seluruh pegawai terlibat dalam menentukan kebutuhan dan solusi
  3. Kerjasama multisektoral –> Melibatkan berbagai sektor dan profesional untuk mengatasi faktor-faktor yang mempengaruhi kesehatan
  4. Keadilan sosial –> Seluruh pekerja terlibat dalam program, tanpa membeda-bedakan.
  5. Berkesinambungan –> Disesuaikan dengan budaya kerja agar dapat berkelanjutan.

Tahapan Pelaksanaan

  1. Komitmen Manajemen : INI PENTING! tanpa komitmen manajemen apalah arti Promosi K3 di tempat kerja. Beberapa kali di setiap kesempatan saya bisa share mengenai Promosi K3 ini, saya selalu menekankan pentingnya komitmen manajemen. Contohnya, untuk mengumpulkan sejumlah pekerja shift dalam suatu ruangan aja pasti manajernya ngitung harus bayar lembur berapa, mesin harus mati berapa menit, harus alokasiin biaya berapa, harus ngaturnya gimana dll. Hal-hal kayak begini butuh komitmen yang kuat dari para manajer.
  2. Koordinasi : untuk mbikin, planning, mikir, eksekusi Promosi K3 ini butuh koordinasi. Nah biasanya kalo di Perusahaan itu orang HSE cuma ada 2 – 3 orang atau mungkin sukur-sukur Perusahaan besar punya departemen sendiri tapi so far, departemen HSE itu orangnya dikiittt, agak mustahil kalo ngelola Promosi K3 sendirian, jadi perlu banget koordinasi atau bikin panitia kecil dari berbagai departemen untuk berpartisipasi dalam Promosi K3.
  3. Rekognisi Kebutuhan : di tahap ini kita harus tau, Promosi K3 apa yang kita butuhkan? taunya dari mana? dari data absensi pekerja, dari isu yang sedang hangat (misalnya virus avian flu dll), dari trend kecelakaan kerja, lifestyle pekerja, laporan bahaya di tempat kerja dan lainnya yang sangat erat kaitannya dengan pekerja dan tempat kerja kita.
  4. Prioritas : Kalo udah banyak banget program yang mau dibuat, kudu di list. PILIH YANG PALING URGENT. Bisa diliat urgensi-nya dari program yang mau dibuat. Karena kita tau Perusahaan itu bukan yayasan sosial, tetapi tempat mencari keuntungan (profit). Ga mungkin dong kita maksain sesuatu yang ga bisa kita raih.
  5. Perencanaan : di tahap ini kita udah nentuin Program Promosi K3 apa yang mau kita laksanakan. Setelah itu kita rencanakan, kita mau ngapain sih, bagaimana cara kita deliver promosi kesehatan ini, siapa aja yang terlibat, biayanya berapa, dan yang peling penting KAPAN dan SAMPAI KAPAN dilaksanakan Promosi K3 ini.
  6. Pelaksanaan : nah tinggal eksekusi nih. Kalo planningnya udah cakep, eksekusinya mantep, Insya Allah lancaaarrr
  7. Evaluasi : Jangan dikira abis pelaksanaan kita bisa leyeh-leyeh. Boleh aja sih tapi inget tahap ini cukup penting karena di tahap evaluasi inilah kita mengukur efektivitas dari Promosi K3 ini, apakah berjalan dengan baik, sesuai dengan waktu yang telah ditetapkan, hambatan ada apa enggak, dan yang paling penting tepat sasaran gaaa? Baru kita sampaikan ke Top Management.
  8. Perbaikan : Dari tahap evaluasi lanjut ke tahap akhir yaitu perbaikan, di tahap ini karena udah pengalaman sama promosi K3 sebelumnya, kita bisa tentukan apa yang harus kita perbaiki ke depannya supaya Promosi K3nya lantjarr jaya, sasarannya tepat, dan hambatannya bisa dikendalikan.

Nah gitu deh secuplik tentang Promosi K3 di tempat kerja. Kalo mau liat-liat contoh mengenai Promosi K3 di tempat kerja cuss gambar di bawah ini beberapa yang bisa dilakukan yaaa

Promosi K3

Life Path : Seleksi Beasiswa LPDP -Memilih Universitas

Dalam pencarian dan seleksi beasiswa baik LPDP maupun beasiswa lainnya, temen-temen pasti bingung untuk memilih universitas, mau daftar dimana, universitas apa, negara mana yes? Kalo saya pribadi menentukan saya mau kuliah dimana hingga dapetin Letter of Acceptance itu ga bisa sembarangan, yang terpenting adalah cari restu, pilih negara tujuan, research universitas, dan penentuan pilihan!

Restu pasangan/orang tua :

ini penting. Jadi ceritanya karena saya sudah menikah dan belum memiliki anak dengan kondisi saya dan suami masih jauh-jauhan (saya di Makassar dan suami di Papua), penting bagi saya untuk mendapatkan restu suami. Niat untuk melanjutkan perkuliahan sudah ada sejak 3 tahun setelah saya lulus. Di kala itu saya bujuk suami saya agar saya bisa ikut beasiswa tetapi selalu ditolak, sampai pada pertengahan 2016 akhirnya suami saya luluh dan mengizinkan saya untuk ikut seleksi beasiswa luar negeri, dengan batasan negara Asia atau Australia. Saya pilih Australia.

Research Universitas di Negara Tujuan :

Kenapa saya pilih Australia? Pertama, saya sangat ingin kuliah di Negara berbeda ras, bukan rasis tapi lebih ke- pengen tau juga budaya yang cukup berbeda (jadi Singapura, Malaysia udah ga saya masukkan dalam list), Jepang, Cina, thailand, Korea ga saya pilih  juga karena saya merasa akan lebih lama lagi kalo saya belajar bahasanya meski bisa saja saya apply Kelas Internasional namun, kesehariannya pun saya harus belajar bahasa sehari-harinya (emang dasar males belajar lagi aja sih :p) jadilah saya pilih Australia yang secara geografis deket sama Indonesia, mother tonguenya English, dan bagus dalam penerapan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (sesuai peminatan jurusan untuk Master saya). Setelah saya mantap dengan Australia (sebenernya setelah itu apply juga ke University of Birmingham :p) saya mulai mencari Universitas. Australia punya banyak universitas berskala internasional. Bahkan, beberapa universitas di sana bertengger di 50 besar universitas terbaik world wide versi QS University ranking. Setelah search, universitas -universitas terbaik di Australia, sampailah saya berhadapan dengan pilihan Group of Eight-nya Universitas di Australia. Oiya apa itu Group of Eight? Group of Eight adalah delapan Perguruan tinggi terbaik di Australia. Apa aja? antara lain The University of Melbourne Australia, The Australia National University di Canberra, The University of Sydney, The University of Queensland, Monash University, The University of New South Wales, The University of Western Australia, dan The University of Adelaide. Setelah dapet top uni-nya Aussie, saya mulai search jurusan peminatan saya yaitu Keselamatan dan Kesehatan Kerja (Occupational Health and Safety). Dari ke semua top universitas tersebut, ternyata hanya ada 2 universitas yang masuk dalam pencarian saya, yaitu The University of Queensland (Master of Occupational Health and Safety Science) dan Monash University (Master of Occupational and Environmental Health). Oiya dalam pencarian ini saya tidak hanya mengandalkan website masing-masing kampus saja, tetapi juga saya menghadiri beberapa acara yang menghadirkan perwakilan-perwakilan universitas. Dari situ saya tau bahwa Adelaide uni dan UNSW tidak lagi membuka program untuk Master of Safety Science. Selain group of eight, saya juga search universitas lain yang juga bagus seperti RMIT, QUT, dll. Tetapi di RMIT hanya menyediakan kelas jarak jauh (dimana tidak dicover oleh beasiswa LPDP).

Penentuan Pilihan Universitas :

Setelah riset kecil-kecilan mengenai universitas di Australia, sampailah saya dihadapkan dengan dua pilihan. UQ atau Monash Uni. Dari segi world wide ranking, UQ lebih unggul dibandingkan dengan Monash Uni. Namun ketika saya search (forum mahasiswa) untuk bidang Kesehatan, Monash uni seperti sedikit lebih unggul dibandingkan UQ. Dari segi kota untuk ditinggali, UQ yang terletak di St. Lucia Brisbane lebih sepi dibandingkan Monash uni yang terletak di Clayton (dekat Melbourne) yang lebih metropolitan. Cuaca di Brisbane pun tidak terlalu berbeda dengan Indonesia, dbandingkan dengan Melb yang lebih sejuk. Sejujurnya, saya yang sedari kecil tumbuh di Kota besar agak tertarik untuk tinggal di Melbourne (hihi). Tapi kembali lagi ke pilihan saya lebih spesifik ke bidang studi Master Occupational Health and Safety Science, UQ menurut pendapat saya lebih unggul karena memiliki S1 (bachelor) spesifik di bidang K3, selain itu UQ pernah bekerja sama dengan Kementerian saya di sekitar tahun 90an. Setelah saya search pun informasi mengenai kuliah di UQ dan kota Brisbane masih sedikit dibandingkan cerita kehidupan di Melbourne. Hal ini menjadi peluang bagi saya untuk bisa bercerita dan explore lebih banyak ketika saya sudah berkuliah disana nanti. Sounds interesting yes!

Dari seluruh alasan di atas saya akhirnya mantap memilih The University of Queensland, sebagai kampus tujuan saya untuk melanjutkan gelar Master saya.

Feel so excited! Next chapter saya cerita-cerita gimana dapetin LoA yaa 🙂

Surat Keterangan Catatan Kepolisian : Polsek Biringkanaya Makassar & Polres Tangerang

Menyambung Postingan sebelumnya tentang rangkaian kegiatan untuk urus mengurus dokumen kelengkapan beasiswa LPDP, salah satu dokumen yang diperlukan adalah Surat Keterangan Catatan Kepolisian. Walaupun saya adalah salah satu birokrat, urus mengurus hal yang seperti ini sejujurnya saya agak malas (jangan ditiru :P) kebayang bagaimana sulitnya birokrasi di Indonesia dan mengapa urusan persuratan di zaman digital ini tidak bisa dibuat se-ringkes dan se- efisien mungkin. Salah satunya dengan e-office e-government ataupun lainnya tanpa sibuk minta cap sana sini, tanda tangan sana sini (mihihihihi malah ngedumel). (sigh) Baiklah terlepas dari rumitnya birokrasi di Indonesia, setidak saat ini sudah ada upaya ke arah sana. Stop Complaining, Better make something.

Oke, ada beberapa permasalahan yang saya hadapi untuk membuat SKCK ini,. sebelumnya saya ingin share terlebih dahulu syarat untuk pembuatan SKCK di Polsek. Oia kenapa saya bikin SKCKnya di Polsek bukan di Polres? di keterangan Manual Pendaftaran LPDP tidak disebutkan SKCK yang diperoleh harus dari Polsek atau Polres, jadi saya memilih untuk membuat SKCK di Polsek saja, karena akses ke Polres Makassar dari tempat saya cukup jauh, ditambah lagi pengurusan SKCK saya laksanakan di jam kerja, walaupun sepertinya memang Polres Makassar tetap buka di hari Sabtu untuk pelayanan pembuatan ataupun perpanjangan SKCK.

Adapun syarat yang diperlukan untuk pembuatan SKCK di Polsek Biringkanaya dengan KTP non-makassar antara lain :

  1. Surat Keterangan Domisili dan Pengantar Pembuatan SKCK: Surat keterangan domisili didapatkan dengan mengajukan terlebih dahulu surat keterangan ke RT setempat, setelah itu minta tanda tangan ke RW setempat baru menuju kelurahan untuk dibuat surat keterangan domisili dan surat pengantar pembuatan SKCK.  Di Kelurahan selain surat pengantar dari RT/RW juga diperlukan Kartu Keluarga tempat tinggal. Nah ribetnya adalah Pak Lurahnya sedang tidak di tempat dan saat itu katanya sedang banyak aktivitas dan program. Setelah dua kali bolak-balik Kelurahan AKHIRNYA Surat keterangan domisili dan pengantar untuk pembuatan SKCK terbit juga.
  2. Kartu Keluarga Tempat Tinggal : Nah karena saya di Makassar sini ngontrak, perlu bawa kartu keluarga tempat kita tinggal sebagai lampiran untuk pembuatan SKCK, penting minta kartu keluarga sama yang punya rumah.
  3. Ijazah terakhir : Photocopy-nya dijadiin lampiran juga.
  4. Photocopy SKCK yang lama : karena saya di Tangerang udah pernah bikin SKCK, jadi saya lampirin kembali supaya ga rekam sidik jari lagi.
  5. Pas Photo : 4×6 : 5 lembar (kalo saya pake background merah)

Jengjeng, ga lama kemudian akhirnya SKCK saya terbit dengan membayar biaya administrasi Rp 10.000,-. Tetapi ternyata setelah saya perhatikan lebih seksama lagi, yang saya dapatkan di Polsek Biringkanaya bukan SKCK tapi di situ tertulis Rekomendasi Catatan Kepolisian. Waduh berarti saya harus melanjutkan kembali ke Polres Makassar? Akhirnya karena waktu saya mepet untuk membuat SKCK di Polres Makassar, saya pasrah dengan meng-upload ke web LPDP untuk pendaftaran.  Alhamdulilah masih bisa lolos seleksi administrasi. Ternyata para calon peserta banyak pula yang menggunakan SKCK dari Polsek untuk pendaftaran. Tetapi untuk berjaga-jaga, setelah saya upload RCK dari Polsek Biringkanaya, saya juga memperpanjang SKCK di Tangerang yang pada akhirnya saya gunakan untuk verifikasi dokumen pada hari H Seleksi Substantif.

Syarat-syarat memperpanjang SKCK di Polres Tangerang antara lain :

  1. Pas Photo 4X6 : 6 lembar
  2. Kartu Keluarga
  3. Surat Pengantar Kelurahan
  4. Ijazah
  5. Akta Kelahiran
  6. Mengisi kembali data diri pada formulir yang disediakan
  7. Lampiran SKCK lama

Saya lupa biaya administrasinya mungkin sekitar Rp 10.000,- juga sama seperti di Polsek Biringkanaya.

Alhasil saya punya dua surat Catatan Kepolisian, satu dari Polsek dan datu lagi dari Polres Tangerang. Dari pengalaman pembuatan SKCK ini hikmah yang bisa diambil adalah uruslah surat menyurat pada saat mudik walaupun saat itu masih belum terlalu dibutuhkan. Seperti SKCK ini, kalo sudah expired, segera perbaharui. Karena di tanah rantau, keribetan itu akan meningkat dua kali lipat!