Don’t dare to dream BIG! – Road to YSEALI Fall 2017

Dream what you dare to dream. Go where you want to go. Be what you want to be

– Earl Nightingale – 

Postingan kali ini agak ke kehidupan pribadi sih, tapi masih related-lah sama pekerjaan saya. Saya pertama kali tergerak untuk mulai “melihat dunia” adalah ketika saya kuliah di semester 3. Berawal dari “kebosanan” saya akan hidup dari kecil TK, SD, SMP, SMA di Kota Tangerang dan kuliah pun bisa pulang pergi seminggu sekali Tangerang-Depok hingga akhirnya saat itu saya membaca buku laskar pelangi karya Andrea Hirata dan dilanjutkan dengan buku sang pemimpi yang sangat menginspirasi saya untuk bisa melanjutkan kuliah di negeri orang. Di umur saya yang sudah genap 28 tahun ini, saya belum pernah sama sekali pergi ke luar negeri. Bahkan saya belum pernah sekali pun ke negeri tetangga di lingkup ASEAN (kecuali batas negara Papua Nugini :p). Tapi saya tetap bangga, bangga karena at least, 5 pulau terbesar di Indonesia sudah pernah saya sambangi (*jumawa) yang sudah menjadi target saya sebelum saya berusia 30 tahun.

Target selanjutnya adalah luar negeri. Entah apa yang menggerakkan keinginan saya sehingga semakin kuat untuk bisa ke luar negeri. Sesungguhnya mendaftar untuk beasiswa luar negeri sudah saya lakukan sejak saya lulus. Waktu itu saat saya baru lulus tahun 2011 saya mencoba daftar Australia Awards, beasiswa punya pemerintah Australia, dan saya gagal. Setelah itu, melanjutkan kuliah lagi tidak menjadi prioritas saya. Saya lebih banyak fokus untuk menambah ilmu melalui pengalaman kerja di swasta dan akhirnya memutuskan ke dunia pemerintahan. Hingga di pertengahan tahun 2016 di saat saya merasa bekal secara pengetahuan, pengalaman dan emosional saya sudah matang, saya mulai kembali mencari-cari peluang untuk mendapatkan beasiswa ke Luar Negeri. Saya memilih LPDP sebagai “kendaraan” saya untuk bisa melanjutkan kuliah ke Luar Negeri. Kenapa harus luar negeri? kebetulan keilmuan saya adalah Occupational Health and Safety yang sangat berkembang di luar negeri. Setelah mendapatkan izin suami (Alhamdulilah suami yang baik banget di tengah keterbatasan dan kondisi kita yang masih hidup jauh-jauhan) saya segera tes IELTS dengan penuh kenekatan dan mendaftar LPDP. Alhamdulilah saya lolos seluruh rangkaian seleksi dan mendapatkan kesempatan untuk kuliah di University of Queensland Australia. Ya, Australia negara yang saya impikan sejak awal lulus kuliah. Tapi, impian saya untuk segera menjejakan kaki di negeri kangguru pertengahan Juli 2017 sirna. Kenapa? karena saya harus menerima kebijakan terbaru LPDP untuk memulai perkuliahan paling cepat 2018. Saat itu Desember 2016, dan saya masih “kekeuh” ingin segera berkuliah di tahun 2017, apa daya tetap tidak bisa.

Sambil menunggu tahun 2018 (karena udah ga sabar banget sekolah lagi), saya mencari-cari peluang untuk bisa tetap “belajar ke luar negeri” walaupun bukan melalui program master di UQ yang bergeser jadwalnya (sabar hanya bergeser). Akhirnya saya memutuskan untuk mencoba apply program YSEALI, short course StuNed, dan Future Leader Connect di  UK. Setelah pengumuman StuNed saya dinyatakan belum lulus, saya mulai pasrah untuk pengumuman-pengumuman lainnya dan mencoba apply short course ke India. Di saat saya sudah siap untuk mengirimkan berkas ke Kedubes India, saat itu pula pengumuman Interview YSEALI Professional Fellows Program Fall 2017 masuk ke email saya! Wow bahkan saya sudah hampir melupakan karena sudah sangat pasrahh. Oke, saya jelaskan secara singkat apa itu YSEALI. YSEALI adalah Young South East Asia Leaders Initiative yang diinisiasi oleh Pemerintah Amerika Serikat di era pemerintahannya Barrack Obama, saya kebetulan ikut seleksi untuk YSEALI Professional Fellows Program untuk tema Legislative Process and Governance. Jadi saya akan menghabiskan total sekitar 6 minggu, minggu pertama briefing awal di Washington DC sebelum ke worksite untuk “magang” selama 4 minggu di institusi di Amerika Serikat sesuai dengan background pekerjaan saya dan 1 minggu terakhir akan kembali ke Washington DC untuk menghadiri kongres yang akan dihadiri seluruh peserta. Sounds interesting yes!

Interview untuk YSEALI PFP Fall 2017 dilaksanakan via skype. Kebetulan saya mendapatkan jadwal tanggal 19 Juni 2017 di pagi hariii. cuma ada waktu sekitar 2 hari untuk mempersiapkan diri dengan baca lagi essay saya buat. Bahkan saya lupa dulu essay softcopy-nya saya simpen dimana karena sewaktu daftar langsung mengisi form online. Seperti biasa  ketika saya akan menghadapi interview, saya harus ngaca dan ngomong sendiri di depan cermin di dalam kamar untuk self-simulasi interview. Saya juga minta izin sama Pak Kepala Balai untuk pinjem ruang rapatnya sekitar 30 menit untuk interview. Interview sesungguhnya dimulai pukul 09.00 WITA dan dilaksanakan dengan conference call tanpa video oleh 3 orang interviewer. Dari perwakilan ICMA langsung dari Washington DC, perwakilan APEKSI, dan perwakilan kedutaan besar Amerika. Hal terpenting dalam interview ini adalah koneksi internet! kebetulan saya tidak memakai internet kantor karena lebih lambat dari koneksi internet handphone saya, itupun sempat terputus ketika interview dengan perwakilan ICMA sampai saya meminta beliau mengulang kembali pertanyaannya. Interview berlangsung cukup cepat, kurang lebih 20 menit, tidak seperti estimasi yaitu 30 menit. Pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan seputar essay saya, kegiatan saya disini, leadership, dan apa sih yang mau saya lakukan setelah saya kembali dari Amerika jika saya terpilih. Oiya interview full dilaksanakan dengan bahasa inggris yaa. Selepas interview saya bertanya kapan kira-kira Pengumuman lolos akan disampaikan, Mba Indah perwakilan APEKSI menjawab sekitar 2 minggu setelah libur lebaran.

Sekitar 8 hari setelah libur lebaran, tepatnya tanggal 11 Juli 2017, saya mendapatkan email yang menyatakan bahwa saya lolos menjadi salah satu fellows yang akan berkesempatan magang di Amerika Serikat! Wow! yang membuat double excited adalah karena suami saya saat ini juga sedang menjalani studi-nya di Amerika Serikat. Alhamdulilah. Oiya kegiatan ini fully funded dari Pemerintah AS dan ICMA hingga visa pun diurusin pula sama pihak APEKSI. Saat ini saya sedang mengumpulkan informasi mengenai apa yang dibutuhkan nanti karena baru akan berangkat di bulan Oktober. Preparing myself!

Dari semua yang saya dapatkan saat ini, saya semakin menyadari bahwa Allah itu Maha Baik, dan benar-benar mengerti apa yang dibutuhkan hambanya. There is always a reason behind everything. Ternyata hikmah jadwal kuliah Master saya bergeser ke tahun 2018 adalah saya memiliki kesempatan untuk menjejakan kaki di Amerika Serikat, negara luar negeri pertama saya.

Tools Penilaian Risiko Ergonomi – Rapid Entire Body Assessment (REBA) Part 1

Hola!

Setelah menjalani bulan Juli yang penuh kejutan, baru sempet update blog lagi. Masih dalam rangkaian tools ergonomi yang digunakan untuk penilaian Postur Kerja, durasi, dan frekuensi, kali ini saya mau share tentang salah satu tools pengukuran ergonomi yang cukup famous di kalangan Mahasiswa K3 dan ergonomist yaitu Rapid Entire Body Assessment (REBA).

Pengenalan tentang REBA, REBA adalah salah satu metode yang bisa digunakan untuk menganalisa postur kerja. REBA dikembangkan oleh Dr. Sue Hignett dan Dr. Lynn Mc Atamney yang merupakan ergonom dari universitas di Nottingham (University of Nottingham). Rapid Entire Body Assessment adalah sebuah metode yang dikembangkan dalam bidang ergonomi dan dapat digunakan secara cepat untuk menilai posisi kerja atau postur leher, punggung, lengan pergelangan tangan dan kaki seorang pekerja. Selain itu metode ini juga dipengaruhi faktor coupling (pegangan), beban eksternal yang ditopang oleh tubuh serta aktifitas pekerja. Penilaian dengan metode REBA ini dapat dianalisa dengan cepat dan mudah.

Penilaian postur dalam metode REBA melibatkan :

  • Grup A : leher (neck), bagian punggung (trunk), dan kaki (legs)
  • Grup B : lengan bagian atas (upper arm), lengan bagian bawah (lower arm) dan wrist (pergelangan tangan).

Alat bantu apa yang kita perlukan dalam pengukuran ini? Kita butuh kamera, video, meteran (jahit), ceklis, dan alat tulis.

Langkah-Langkah Penilaian dan Skoring dengan Metode REBA (Grup A) :

  1. Menilai Postur Leher (Locate Neck Posture)

Neck Posture

Nah pada postur leher ini kita akan mengobservasi pekerja dan menilai berapa sudut yang dibentuk oleh leher pekerja. Interpretasinya gini :

Postur Skor Total

Leher

Flexion: 0 – 20° 1 Jika leher berputar (twisted)  atau miring (tilted) ke samping skor ditambah +1
Flexion: > 20°
Extension > 20°
2

Nah, setelah observasi dan sudah menentukan skor, masukkan dalam kolom total untuk postur leher yaa.

2. Menilai Postur Punggung/Badan

Postur Trunk

Sebenernya dalam bahasa inggrisnya ini adalah trunk, karena diterjemahin ke Bahasa Indonesia agak bingung juga menerjemahkannya, yang pasti ini adalah bagian belakang tubuh (batang tubuh) jadi secara visual bisa kita lihat di daerah punggung pekerja. Interpretasi tentang batang tubuh ada di tabel di bawah ini ya :

Postur Skor Total
Punggung (Trunk)
Tegak (Alamiah) 1 Jika badan berputar (twisted)  atau  miring (tilted) ke samping skor ditambah +1
Flexion: 0 – 20°
Extension 0 – 20°
2
Flexion: 20 – 60°
Extension > 20°
3
Flexion: > 60° 4

Sama halnya dengan postur leher, setelah kita tau berapa skor batang tubuhnya pekerja, cuss langsung diisi skor di kotak total punggung.

3. Menilai Postur Kaki (Legs)

Legs

Observasi REBA juga melibatkan observasi pada bagian tubuh kaki karena judulnya aja Rapid Entire Body, jadi kaki juga termasuk dalam bagian tubuh yang diobservasi. Berikut interpretasi dari gambar di atas :

Postur Skor Total
Legs
Kaki tertopang, bobot tersebar merata, jalan atau duduk 1 Jika Lutut
Flexion 30 – 60°: skor ditambah +1
Kaki tidak tertopang, bobot tersebar merata/ postur tidak stabil 2 Jika Lutut
Flexion
> 60°: +2

Skor kaki sudah bisa kita dapatkan nih, mudah bukan?

4. Kalkulasi Total Postur Leher, Punggung/Batang tubuh, dan kaki dengan menggunakan tabel A di bawah ini

Tabel A

Leher

    1 2 3
   

Kaki

     
 

1

 

2

 

3

 

4

 

1

 

2

 

3

 

4

 

1

 

2

 

3

 

4

 

 

 

Skor Postur Punggung

 

1

 

1

 

2

 

3

 

4

 

1

 

2

 

3

 

4

 

3

 

3

 

5

 

6

 

2

 

2

 

3

 

4

 

5

 

3

 

4

 

5

 

6

 

4

 

5

 

6

 

7

 

3

 

2

 

4

 

5

 

6

 

4

 

5

 

6

 

7

 

5

 

6

 

7

 

8

 

4

 

3

 

5

 

6

 

7

 

5

 

6

 

7

 

8

 

6

 

7

 

8

 

9

 

5

 

4

 

6

 

7

 

8

 

6

 

7

 

8

 

9

 

7

 

8

 

9

 

9

ini bentukan tabel A-nya, bingung ga cara masukin skornya? Sebenernya sangat-sangat mudah, jadi kalo kita sudah dapat skor postur leher (1 atau 2 atau 3), kita lingkari di di tabel bagian leher tersebut skornya, lalu lingkari juga skor punggung (range 1 – 5) dan yang terakhir skor kaki (range 1 -4). Setelah kletemu masing-masing tarik garis lurus untuk nemuin ketiga skor tersebut, dapet deh skor grup A. Masih belum jelas? baiklah begini contohnya :

tabel contoh

Nah skor grup A adalah 5 (contoh). Apakah selesai sampai disini? Oh tentu tidak, setelah kita mendapatkan skor grup A kita masih harus mencari total A.

5. Menambahkan nilai beban dan gaya (force)

Dalam Observasi ergonomi dengan menggunakan metode REBA, diperlukan pula perhitungan beban. Setelah kita mendapatkan total skor grup A (Leher, Punggung, dan Kaki), selanjutnya kita tambahkan dengan skor beban. Interpretasinya adalah sebagai berikut :

Range Score Total
Beban
< 5 kg
< 11 lbs
0 Penambahan Beban secara cepat atau tiba-tiba tambahkan  +1
5 – 10 kg
11 – 22 lbs
1
> 10 kg
> 22 lbs
2

Nah total skor grup A tadi ditambahkan dengan beban dan gaya. Jika beban yang didapatkan oleh pekerja kurang dari 5kg maka tidak perlu ada penambahan, jika beban diantara 5 – 10 kg, maka skor ditambahkan +1, dan jika beban  lebih dari 10 kg maka skor ditambahkan +2. Jika ada gaya yang terjadi (secara cepat atau tiba-tiba) skor ditambahkan +1.

Contoh :

Kita sudah dapat skor untuk total postur grup A adalah 5, lalu pada observasi pekerja mengangkat beban sebesar 6 kg, dan tidak ada penambahan beban yang secara cepat atau tiba-tiba. Maka skor A adalah 5 + 1 = 6

Nah begitu cara perhitungan untuk Grup A, tapi ini belum selesai ya sis bro, kita masih harus menghitung Total Postur B, Coupling Score, Activity Score dll sampai nanti kita akhirnya mendapatkan skor akhir! Tunggu di part 2 yaaa.

 

Profesi Health Safety Environment (HSE) — Keselamatan dan Kesehatan Kerja dan Lingkungan (K3L)

Profesi sebagai seorang HSE (Health Safety Environment) atau dalam Bahasa Indonesia disebut Keselamatan Kesehatan Kerja dan Lingkungan (K3L), merupakan profesi yang masih sangat “unfamiliar” di Indonesia. Saya termasuk seseorang yang pada akhirnya menenggelamkan diri saya di keilmuan HSE/K3L, karena memang apa yang saya pelajari di dunia Kampus sejalan dengan apa yang 6 tahun terakhir ini yang saya lakukan tepat setelah saya lulus kuliah di Universitas Indonesia. Di postingan kali ini saya tidak akan menceritakan alur pengalaman pekerjaan saya di dunia HSE/K3L, tetapi saya ingin berbagi apa saja sih yang harus dimiliki seorang HSE?

Saya pernah beberapa kali memposting di akun social media saya mengenai profesi HSE. No Joke, kalo profesi HSE ini sangat-sangat kompleks dan terdiri dari berbagai macam disiplin ilmu. Kita harus punya kemampuan secara teknis (engineering), manajemen, sains, hukum, ekonomi, security dan bahkan psikologi. Kebayang bagaimana profesi HSE di tempat kerja? Beberapa tahun saya bekerja, bahkan kita pun dituntut kreatif dalam menggunakan tools untuk promosi, seperti bikin poster, video, create acara, dan hal-hal lain yang berhubungan dengan komunikasi. Terkadang pun kita juga jadi orang pertama yang harus menjelaskan ke masyarakat jika ada keluhan dari masyarakat yang disebabkan oleh Pabrik dimana kita bekerja. Kebayang gimana mulianya pekerjaan HSE? Dari pengalaman-pengalaman saya bekerja di dunia HSE, berikut ini nih hal-hal yang harus dimiliki seorang HSE yang saya rangkum, khususnya di Industri manufaktur atau scope-nya tidak terlalu besar seperti minyak bumi dan gas alam :

  1. Teori tentang Keselamatan kerja
    • Klasifikasi dan Laporan Kecelakaan kerja
    • Analisis Penyebab Masalah Kecelakaan/Penyakit Akibat Kerja
    • Identifikasi Bahaya, Probability, dan Risiko
    • Perilaku selamat (Behavioral Safety)
    • Memahami tentang teori Slips Trips and Fall
  2. Manajemen Keselamatan
    • Mengetahui Sistem Manajemen Keselamatan (ISO 9001, ISO 14001, OHSAS 18001, Safety Food, HACCP dll)
    • Mengetahui bagaimana cara membuat program pengendalian (safety improvement plan)
    • Mengetahui syarat-syarat Hukum K3L di Indonesia
    • Investigasi Kecelakaan kerja
    • Pencegahan Kecelakaan
    • Kemampuan untuk mengkoordinasikan Safety meeting
    • Melakukan kontrol terhadap kontraktor
    • Follow up Bahaya dengan Hazard study dalam suatu project
    • Permit to work untuk pekerjaan-pekerjaan berisiko tinggi
    • Manajemen LOTO untuk kelistrikan
  3. Teknologi Keselamatan Kerja
    • Pemahaman akan pentingnya guarding machine, pesawat angkat angkut, bejana bertekanan.
    • Memahami chemical reaction
    • Teknologi Kelistrikan
  4. Kesehatan Kerja dan Industrial Hygiene
    • Bahaya Fisika, Kimia, Radiasi, Pencahayaan, Iklim Kerja.
    • Ergonomi
    • alat Pelindung Diri
    • Absensi Pegawai terkait dengan Keselamatan dan Kesehatan Kerja
  5. Lingkungan
    • Waste Water Treatment
    • Kontaminasi Tanah (Spill, kebocoran dll)
  6. Proteksi Kebakaran
    • Pencegahan kebakaran
    • Identifikasi bahan-bahan yang mudah terbakar
    • Rambu-Rambu Emergency
    • Tim Tanggap Darurat
    • Prosedur Kegawatdaruratan
  7. Personal Skill
    • Kemampuan presentasi
    • Memberikan training
  8. Product Safety
    • Labelling, MSDS sesuai dengan GHS
    • Product Stewardship

Semua list di atas belum sepenuhnya memenuhi apa yang dikerjakan seorang HSE, seorang K3L. Ada beberapa kasus dimana saya juga menangani masalah sakit perut karena catering Perusahaan yang juga merupakan tanggung jawab HSE. Menjadi seorang HSE berarti kamu harus siap menjadi seorang engineer, negosiator, analis manajemen risiko, menjadi psikolog, menjadi komunikator, trainer, dll sekaligus. Menjadi seorang HSE itu seperti berdakwah (in a different way), dan percayalah menjadi seorang HSE itu mulia. Mau belajar dan menerima hal baru adalah kunci supaya bisa selalu survive menjadi seorang HSE.

Semangat!

Life Path : Seleksi Substansi Beasiswa LPDP – Wawancara

Halo!

Selamat untuk teman-teman yang lolos seleksi administrasi maupun assessment online dan akan melanjutkan seleksi di tahap selanjutnya yaitu seleksi substansi. Kali ini, saya ingin share pengalaman saya mengikuti seleksi substansi LPDP di batch 4 2016. Setelah kemarin saya pernah share mengenai seleksi administrasi di postingan Life Path : Beasiswa LPDP The Series – Seleksi Administrasi kali ini mau share pengalaman pada saat seleksi substansi LPDP. Seperti di batch-batch sebelumnya, Seleksi Substansi terdiri dari 3 tahap seleksi yaitu:

  1. Essay On The Spot
  2. Leaderless Group Discussion
  3. Wawancara

Ketiga tahap tersebut dapat dilakukan setelah kita verifikasi dokumen yaaa. Jadi teman-teman akan mendapatkan jadwal seleksi substansi setelah dinyatakan lolos. Biasanya, seleksi substansi diawali dengan verifikasi dokumen awal oleh panitia seleksi. Oiya karena saya saat ini bekerja dan domisili di Makassar, lokasi tes saya diadakan di Gedung Keuangan Negara (GKN) Urip Sumohardjo Makassar. Saya mendapatkan jadwal seleksi di dua hari. Hari pertama saya hanya melaksanakan verifikasi dokumen, sedangkan hari kedua baru saya melaksanakan 3 proses seleksi substansi. Jadwal seleksi ini bisa berbeda-beda tergantung masing-masing peserta. Ada yang satu hari full verifikasi dokumen dan seleksi substansi, ada yang dua hari dan bahkan ada pula yang dapet jadwal 3 hari.

Verifikasi dokumen dilaksanakan dengan cukup cepat. Jadi pada saat kita masuk ke dalam ruangan untuk verifikasi dokumen, segera saja teman-teman mendaftar dengan menyerahkan kartu peserta untuk di-scan barcode, setelah itu menunggu namanya untuk dipanggil. Sistemnya mirip-mirip di bank, jadi nanti akan ada operator digital yang akan memanggil nama teman-teman untuk melaksanakan verifikasi dokumen. Waktu itu saya menunggu hanya sekitar 15 menit, langsung segera dipanggil. Setelah verifikasi selesai, saya langsung kembali ke Kantor karena saat itu pelaksanaan tes di hari kerja.

Besoknya saya dapet jadwal wawancara di pagi hari. Jadi, urutan wawancara, essay onthe spot dan LGD itu bisa acak. Tidak mesti urut. Ada keuntungan sendiri bagi saya mendapatkan jadwal wawancara di pagi hari. Dimana badan masih wangi, muka masih segar, dan jilbab belum kusut :p.

Wawancara LPDP merupakan item dari rangkaian seleksi substansi yang memiliki proporsi nilai yang sangat besar. Jadi perlu banget kalian maksimal disini. Sekitar 70% dari keseluruhan nilai ada di wawancara (batch 4 2016 lalu). Ditambah juga, jika kalian memenuhi syarat passing grade namun tidak direkomendasikan oleh interviewer, maka tetap kalian tidak dapat lolos beasiswa LPDP ini. Jadi tahap ini krusial sekali kawan!

Wawancara terdiri dari 3 orang interviewer. Kalo di blog-blog yang pernah saya baca katanya sih 2 orang adalah dosen dengan gelar minimal doktor dan  satu orang psikolog. Tapi jujur, saat itu saya tidak bisa membedakan yang mana dosen dan yang mana psikolog hahaha. Sebelum dimulai wawancara, interviewer akan memperkenalkan diri dan meminta izin kita apakah bersedia untuk direkam selama wawancara berlangsung dan lain sebagainya. Oiya, karena saya ingin melanjutkan studi ke luar negeri, 100% wawancara dilaksanakan dengan menggunakan bahasa inggris.  Ini bisa berbeda-beda, karena beberapa teman saya juga tujuan luar negeri tetapi wawancara tidak 100% dengan bahasa inggris.

Proses wawancara saya diawali dengan memperkenalkan diri. Menurut saya, bagaimana kita memperkenalkan diri di awal wawancara merupakan poin yang sangat penting. Kenapa? karena setelah kita memperkenalkan diri kita, interviewer akan mengembangkan pertanyaan-pertanyaannya dari apa yang kita sampaikan di awal. Pada saat itu yang banyak saya jelaskan adalah mengenai pekerjaan saya yaitu di bidang K3. Bagaimana Indonesia masih kekurangan SDM-SDM yang memiliki kompetensi di bidang K3, khususnya di Pemerintahan. Oiya jangan lupa teman-teman terus update dengan program Pemerintah yaa, karena banyak sekali jawaban yang saya sampaikan related dengan program Pemerintah yang sedang dan akan dijalani ke depannya. Pertanyaan di setiap interview pasti beda-beda, tetapi saya lebih banyak ditanyakan mengenai teknis bidang keilmuan saya dan urgensinya bagi indonesia. Ada juga pertanyaan kenapa saya memilih Australia sebagai negara tujuan studi saya, bagaimana cara saya beradaptasi di lingkungan yang baru, apa kontribusi yang telah kamu lakukan dan masih banyak lagi. Alhamdulilah wawancara berjalan dengan lancar. Mungkin saya beruntung karena interviewer yang mewawancarai saya baik-baik dan tidak mengintimidasi.

Karena ini hanya berdasarkan pengalaman saya saja, jadi kemungkinan besar teman-teman akan menghadapi proses wawancara yang berbeda. Tapi gapapa yaa, teman-teman bisa ambil yang baiknya, yang jeleknya jangan ditiru :p

Oiya saya punya tips receh (mihihihihii) untuk teman-teman dalam menghadapi wawancara. Berikut tips receh ala-ala dari saya :

  • Persiapan sebelum wawancara
    • Kuasai CV dan Essay yang kamu submit
      • Ga ada salahnya baca-baca kembali terutama poin-poin penting pada CV dan essay yang kamu submit. Jangan sampai interviewer menangkap kejanggalan karena CV dan essay yang kamu submit berbeda dengan yang kamu ucapkan.
    • Bawa dokumen pendukung aktivitas organisasi atau achievement kamu
      • Ini penting, jikalau teman-teman ditanya oleh interviewer bukti kalo teman-teman pernah menjalani aktivitas di organisasi, tapi kalo ga ditanyain ga perlu sih, kecuali ingin meyakinkan interviewernya.
    • Persiapkan kebugaran diri dengan tidak tidur larut di malam sebelum interview
    • Pakai pakaian yang rapi, sopan dan yang terpenting nyaman
    • Tiba di lokasi wawancara maksimal 30 menit sebelum jadwal interview, atau bahkan lebih baik pula 60 menit. Kenapa? Karena tidak menutup kemungkinan peserta sebelum kamu tidak hadir ataupun durasi wawancaranya yang cukup singkat.
    • Sarapan! Jangan sampe apa yang sudah ada dipikiran teman-teman untuk interview buyar hanya karena perut lapar, pastikan bawa bekal yaa.
    • Enjoy the process! Terkadang kita terlalu takut akan apa yang nanti akan dihadapi, tetap rileks dan percaya bahwa semua akan baik-baik saja.
    • Doa dan restu keluarga. Ga ada salahnya sambil menunggu panggilan, kita berdzikir atau berdoa sesuai dengan agama dan keyakinannya masing-masing yaa.
  • Pada Saat wawancara
    •  Saat bertemu di meja interview
      • Ucapkan salam, assalamualaikum, selamat pagi, Pagi Pak/Bu
      • Duduklah saat dipersilakan untuk duduk, ada beberapa interviewer yang sebenarnya tidak masalah jika kita langsung duduk di kursi yang telah disediakan, akan tetapi karena kita tidak mengetahui sebelumnya tipikal interviewer, ada baiknya menunggu dipersilakan untuk duduk
      • Senyum! Berikan di 1 menit awal pertemuan teman-teman dengan interviewer memiliki kesan yang baik.
    • Saat memperkenalkan diri
      • Perkenalkan sesuatu yang sekiranya bisa meningkatkan kesan pertama yang baik pada interviewer, lebih bagus lagi kalo apa yang diperkenalkan tidak tercantum pada CV. Perkenalan ini penting. Karena akan menggiring interviewer ke pertanyaan-pertanyaan selanjutnya.
    • Mendengarkan pertanyaan
      • Dengarkan dengan seksama dan tunggu pertanyaan interviewer selesai terlebih dahulu, baru teman-teman menjawab pertanyaan. Jangan memotong pembicaraan yaa.
      • Jika tidak mengerti pertanyaan yang disampaikan oleh interviewer, bisa meminta interviewer untuk mengulangi pertanyaannya atau teman-teman memastikan kembali pertanyaannya kepada interviewer. Ini lebih baik dibandingkan teman-teman gengsi bertanya kembali dan akhirnya jawabannya “ga nyambung” yang bisa berakibat fatal.
    • Menjawab pertanyaan
      • Sangat dianjurkan teman-teman menjawab yang ke inti pertanyaan dengan lugas dan jelas.
      • Kontak mata dianjurkan diprioritaskan kepada interviewer yang bertanya, namun sesekali sebaiknya melakukan kontak mata pula dengan kedua interviewer lainnya, hal ini membuat interviewer lain merasa tetap dihargai.
      • Minimalisir “non-words” seperti mmm.. apa yaa.. ngg.. untuk mengantisipasinya lebih baik tarik nafas sebentar akan membuat kita kembali rileks.
      • Intonasi dan volume saat berbicara harus diperhatikan
      • Tetap senyum untuk momen-momen tertentu saat menjawab pertanyaan tapi jangan berlebihan senyumnya yaa :p
    • Menghadapi “blank”
      • Nah ini yang saya hadapi juga pada saat wawancara LPDP lalu. Seketika saya blank terutama ada kata dalam bahasa inggris yang saat itu saya tiba-tiba lupa. Untuk menghadapi hal ini, agar tidak terlihat blank dan menghabiskan waktu saya langsung mengucapkan versi bahasa indonesia dan dilanjutkan kembali dengan bahasa inggris. Intinya tetap percaya diri.
      • Tarik nafas, jeda 1-2 detik untuk mengsingkronkan kembali otak dan jawab kita yaa.. ga masalah kok yang penting tidak terlalu terlihat jelas.
  • Selesai Interview 
    • Ucapkan terima kasih, dan salam
    • Tetap tersenyum apapun yang terjadi
    • Jabat tangan dengan Percaya diri namun santun

Nahh.. begitu kira-kira pengalaman saya sewaktu menjalani proses seleksi substansi wawancara LPDP. Dua tahap lainnya saya ceritakan di postingan terpisah yaa. Goodluck teman-teman. Semoga bermanfaat.

Hazard Report (Pelaporan Bahaya di Tempat Kerja)

Di sebagian besar Perusahaan, terkadang kecelakaan terjadi dikarenakan hal-hal kecil yang seringkali kita anggap sepele namun pada akhirnya berakibat fatal. Seperti misalnya, lantai licin, terdapat lubang di area pejalan kaki, kabel berantakan, tidak adanya barikade dll. Semua potensi bahaya ini dapat dilihat dan juga dirasakan oleh pekerja. Petugas K3, Anggota P2K3, atau supervisor pun sesungguhnya tidak cukup untuk mengantisipasi bahaya ini. Oleh karena itu, penting di setiap Perusahaan untuk memiliki sistem pelaporan potensi bahaya di tempat kerja yang dapat dilakukan oleh seluruh pekerja tanpa terkecuali, termasuk di dalamnya kontraktor dan visitor, yang dikenal dalam bahasa inggris dengan Hazard Report. Tulisan ini murni berdasarkan analisis pribadi dan pengalaman selama menjadi bagian dari Departemen Health Safety Environment di Perusahaan 3 tahun yang lalu.

Hazard Report atau dalam Bahasa Indonesia dikenal sebagai Pelaporan Bahaya di tempat kerja merupakan “wadah/media” bagi pekerja untuk melaporkan bahaya yang mereka lihat, rasakan, dan temukan di tempat kerja yang berpotensi menyebabkan kecelakaan dan penyakit akibat kerja.

Sebelum kita berbicara tentang Hazard Report, Mari kita ketahui terlebih dahulu apa itu definisi bahaya.

Hazard atau bahaya memiliki definisi sebagai bahan benda zat atau sesuatu apapun yang memiliki potensi untuk menimbulkan risiko, baik kecelakaan atau penyakit akibat kerja. Potensi yang menyebabkan risiko dapat berupa jumlah atau kuantitas yang banyak dari bahan zat atau benda tersebut, sifat fisik maupun kimia, maupun efek yang ditimbulkan bagi seseorang.

Nah. coba bayangin kalo bahaya atau hazard itu ada di area tempat kerja kita

Apa yang menyebabkan pentingnya pelaporan bahaya di tempat kerja? Pelaporan bahaya di tempat kerja penting dilakukan dengan tujuan :

  1. Mencegah terjadinya kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja
  2. Sebagai evaluasi pengendalian di tempat kerja.
  3. Untuk mengetahui trend bahaya dan risiko yang terjadi di tempat kerja.
  4. Meningkatkan kesadaran pekerja akan bahaya dan risiko di tempat kerja.
  5. Sebagai dasar bagi manajemen untuk membuat program dan kebijakan Keselamatan dan Kesehatan Kerja.

Untuk membuat hazard report dan pelaporan bahaya di tempat kerja berjalan dengan baik dan optimal, diperlukan alur dan sistem yang komprehensif sehingga akar permasalahan dari terjadinya potensi bahaya dapat diatasi. Langkah-langkah yang dapat dilakukan untuk membangun penerapan pelaporan bahaya di tempat kerja antara lain :

1. Membuat prosedur dan alur pelaporan bahaya di tempat kerja

Alur pelaporan bahaya di tempat kerja dapat didiskusikan oleh Departemen HSE di masing-masing Perusahaan atau pada rapat P2K3 yang dilaksanakan setiap bulan dengan melibatkan perwakilan dari operator, middle staff, hingga top manajemen. Secara sederhana alur pelaporan bahaya di tempat kerja dapat berupa :

Pekerja melihat potensi bahaya –> Jika dapat langsung ditanggulangi, dapat langsung ditanggulangi sendiri –> Mengisi Form hazard report yang ditujukan untuk penanggung jawab area –> Administrator –> Meneruskan ke penanggung jawab area –> Penanggung jawab area menjawab pada isian form dan segera menindaklanjuti

2. Menentukan personil

  • Penanggung Jawab Area : Sebaiknya dipilih orang yang dapat menjadi pembuat keputusan di masing-masing departemen. Contohnya Manajer dari masing-masing departemen.
  • Administrator : Biasanya yang menjadi administrator untuk Hazard Report ini adalah dari departemen K3/HSE, namun tidak menutup kemungkinan staff lain yang diamanahkan untuk meneruskan temuan bahaya di lapangan dan merekap hazard report setiap bulannya.
  • Site Area Manager : Jika potensi bahaya di tempat kerja tidak mampu diselesaikan oleh penanggung jawab area, seperti perlunya budget yang besar, maka diperlukan Site Area Manager yang bertanggung jawab akan keseluruhan area di tempat kerja. Site Area manager ini biasanya adalah Top Management.

3. Membuat Formulir

Formulir dapat disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing Perusahaan. Ada baiknya formulir berisikan :

  • Nama Pelapor
  • Deskripsi Bahaya yang ditemukan di tempat kerja, dapat dilengkapi dengan gambar
  • Tulis Penanggung Jawab Area
  • Prioritas Action yang harus dilakukan (Tinggi/Sedang/Rendah)
  • Immediate Action yang harus dilakukan (diisi oleh Penanggung Jawab Area)
  • Analisis Akar Permasalahan (diisi oleh Penanggung Jawab Area)
  • Perbaikan dan Pencegahan yang dilakukan agar di masa yang akan datang tidak terulang kembali (diisi oleh penanggung jawab area)
  • Untuk memudahkan administrator untuk tracking laporan bahaya apakah sudah diatasi atau belum, dapat menambahkan kolom close atau masih open. Artinya apakah tindakan perbaikan atau pencegahan telah dilakukan sehingga hazard report dapat di-close.

4. Melaksanakan Sosialisasi dan Simulasi kepada Pekerja

Setelah tools dan prosedur telah kita siapkan, kita wajib melaksanakan simulasi kepada pekerja agar mengetahui langkah-langkah melaksanakan pelaporan bahaya di tempat kerja. Dapat melalui briefing di pagi hari sebelum bekerja, rapat bulanan P2K3, dan event Safety lainnya.

5. Evaluasi

Evaluasi dapat dilaksanakan baik mengukur kefektifan Pelaporan bahaya di tempat kerja, maupun trend potensi bahaya yang terjadi di tempat kerja. Dari hasil evaluasi ini kita dapat mengukur tingkat partisipasi pekerja untuk melaporkan bahaya di tempat kerja. Beberapa Perusahaan juga menjadikan pelaporan potensi bahaya di tempat kerja sebagai pelaporan nearmiss, walaupun secara harfiah terdapat definisi yang berbeda antara potensi bahaya dan nearmiss. Evaluasi dapat dilakukan 1 bulan sekali pada meeting P2K3.

Dari keseluruhan pelaksanaan memang terdapat beberapa kendala yang biasanya akan ditemui terkait dengan Pelaporan Bahaya di tempat kerja. Masalah-masalah yang akan timbul antara lain :

  1. Adanya konflik antar pekerja, karena mindset yang belum dewasa mengenai fungsi dan tujuan dari pelaporan bahaya di tempat kerja. Terkadang pelaporan bahaya di tempat kerja dijadikan ajang “saling melaporkan”
  2. Keengganan untuk melaporkan atasan yang tidak berperilaku aman. Hal ini seringkali terjadi karena pelaporan bahaya menuliskan nama pelapor. Masalah ini dapat diatasi dengan menganonimkan pelapor jika perlu maupun pemberian safety leadership training kepada seluruh team leader, supervisor, manager, hingga top management.
  3. Hazard report dianggap membuang-buang waktu dan menambah pekerjaan. Beberapa orang menganggap bahwa dengan hazard report, pekerjaan mereka akan bertambah untuk memikirkan tindakan perbaikan apa yang harus dilakukan. Hal ini dapat diatasi dengan menjadikan Tugas HSE menjadi bagian dari aktivitas mereka sehari-hari (tertuang dalam job description).
  4. Follow up yang lambat dari pelaporan bahaya di tempat kerja. Dapat diselesaikan dengan sistem reminder secara berkala.
  5. Kurangnya partisipasi aktif dari pekerja untuk melaporkan bahaya di tempat kerjas. Hal ini bisa disiasati dengan memberikan penghargaan kepada karyawan yang berpartisipasi aktif dalam pelaporan bahaya di tempat kerja dan menuangkannya pada target individu KPI (Key Performance Indicator).

Setiap Perusahaan dapat berbeda-beda dalam mempersepsikan hazard report, tetapi yang pasti, hazard report ini berguna sebagai “early warning system” agar kejadian yang lebih besar yang lebih merugikan tidak terjadi. Berikut di bawah ini contoh formulir hazard report dengan beberapa modifikasi oleh saya dan pernah diterapkan di salah satu tempat kerja saya sebelumnya yang menerapkan Hazard Report dengan cukup baik (semoga ga kena copyright). Semoga bermanfaat 🙂

Formulir Hazard Report (2)

Hazard Report Detai; (2)

Life Path – Seleksi Beasiswa LPDP : Mendapatkan Letter of Acceptance (LoA) dan Defer Perkuliahan

Hallo!

Masih dalam rangkaian chapter seleksi beasiswa LPDP. Setelah saya cerita mengenai bagaimana saya memilih universitas yang saya ceritain di blog ini Life Path : Seleksi Beasiswa LPDP -Memilih Universitas, kali ini saya ingin menceritakan proses saya mendapatkan Letter of Acceptance (LoA).

Setelah menentukan pilihan untuk melanjutkan studi Master ke University of Queensland, Australia, akhirnya saya dalam proses bagaimana sih supaya saya bisa mendapatkan LoA? Dalam persyaratan seleksi beasiswa LPDP batch 4 2016, LoA merupakan additional requirement untuk proses seleksi, NOT MANDATORY. Jadi saya suda bisa apply walaupun saat itu saya belum memiliki LoA (karena waktu itu saya pun masih menunggu hasil IELTS saya. Cerita tentang proses dapetin IELTS bisa diakses di link ini Pengalaman Tes IELTS di Makassar Part 1- Persiapan dan Pengalaman Tes IELTS di Makassar (Part 2)). Karena saya baca di buku panduan bahwa perkuliahan paling cepat dimulai setelah 6 bulan penutupan seleksi administrasi, saya sih tetep percaya diri bahwa jika saya diterima, saya tetep bisa kuliah di tahun 2017 sesuai dengan rencana saya, dengan estimasi LoA bisa turun satu bulan ke depan.

Saya mendapatkan LoA dengan bantuan agen di tempat saya tes IELTS (IDP Makassar). Syarat-syarat yang diperlukan antara lain :

  • CV
  • Copy Passport
  • Copy Ijazah dan Transkrip nilai – termasuk versi English translation apabila sudah ada 
  • Reference letter  – sangat disarankan
  • Personal Statement
  • IELTS certificate atau Official English test Certificate lain – jika sudah ada

Kebetulan saya hanya submit dokumen-dokumen di atas langsung ke agennya, nanti agen yang akan submit ke kampusnya. Tidak ada biaya sama sekali yang dikeluarkan untuk proses pengajuan LoA melalui agen ini. Biaya pendaftaran pun dapat di-waive terlebih dahulu. Namun, tidak ada salahnya untuk mendaftar mandiri dengan syarat-syarat yang telah ditentukan dan mungkin ada application fee atau uang pendaftaran yang dibayarkan langsung ke kampus tujuan. Denger-denger sih mendaftar mandiri bisa menjadi salah satu keunggulan dibandingkan dengan mendaftar dengan agen pada saat seleksi beasiswa LPDP.

Saya mendaftar untuk dua universitas di agen tersebut. yang pertama jelas University of Queensland (UQ) Australia dan yang kedua adalah Monash University. Saya memilih UQ juga karena UQ membuka dua periode kelas yaitu Februari dan Juli. Karena saya tidak bisa intake untuk Februari 2017 (syarat di buku panduan LPDP harus 6 bulan setelah penutupan pendaftaran administrasi), jadi saya apply dan berharap dapat kuliah di UQ untuk intake Juli 2017. Monash Uni saya apply untuk back up, jikalau aplikasi saya di UQ “bermasalah”. Saya pun tidak memprioritaskan Monash Uni karena kelas untuk Master Occupational Health yang saya apply hanya buka di bulan Februari 2018, artinya saya harus menunggu 1 tahun lebih untuk sekolah.

Pada saat mendaftar untuk proses mendapatkan LoA, hasil IELTS saya belum keluar. Kata mba-mba agennya sih ga masalah daftar aja dulu jadi nanti pada saat hasil IELTSnya keluar bisa langsung submit untuk persyaratan IELTSnya. Saya submit untuk proses pendaftaran LoA UQ dan Monash di akhir bulan September 2016, dan hasil IELTS saya keluar di sekitar tanggal 10 Oktober 2016.

Hingga menjelang saya tes Seleksi substansi dan wawancara LPDP di sekitar bulan november 2016, saya belum juga mendapatkan balasan dari kedua universitas yang saya apply. Sekitar akhir bulan November Monash uni mengeluarkan Unconditional LoA untuk intake Februari 2018 di hari saya seleksi wawancara. Tapi karena tujuan utama saya adalah UQ, saya masih menunggu Unconditional letter dari universitas tersebut. Karena saya orangnya agak ga sabaran, apalagi setelah baca-baca blog kalo proses untuk UQ itu paling lama sebulan, tapi udah hampir dua bulan masih belum ada kabar, beberapa kali saya email admissionnya untuk menanyakan kabar LoA saya. Mungkin karena status saya waktu itu masih “apply beasiswa” jadi masih belum diprioritaskan (mengingat saat itu di akhir tahun dan sedang fokus pada ujian *katanya sih).

Sampai pada pengumuman Seleksi LPDP batch 4 2016 tanggal 09 Desember 2016 yang menyatakan bahwa saya adalah salah satu awardee yang lolos seleksi substansi,  LoA dari UQ belum turun juga. Dan yang paling bikin lemes adalah di akun pengumuman LPDP menyatakan bahwa BAGI AWARDEE YANG BELUM MEMILIKI LOA PERTANGGAL 09 DESEMBER 2016, MAKA WAJIB MEMULAI PERKULIAHAN PALING CEPAT TAHUN 2018 T.T. Apa daya, saya terkena imbas kebijakan baru LPDP yang serba mendadak dan di luar dugaan ini. Saya segera email admissionnya kembali dan menjelaskan kalau saya adalah salah satu penerima beasiswa LPDP batch 4 2016 dan membutuhkan Unconditional Letter of Acceptance sesegera mungkin, barulah Unconditional LoA saya turun di tanggal 13 Desember 2016 untuk intake 2017. Terlambat sudah.

Beberapa kali saya email CSO LPDP dan menelepon CSO LPDP agar saya dapat intake di 2017, tetapi jawaban tetap sama dan kebijakan LPDP untuk wajib defer perkuliahan sudah dibuat. Akhirnya saya pasrah dan berbesar hati untuk defer perkuliahan saya ke Februari 2018 di UQ. Proses defer sangat mudah, saya cukup email ke admissionnya dan menjelaskan alasan mengapa saya harus defer. Selain itu, saya juga lapor ke agen tempat saya submit persyaratan untuk LoA. Alhamdulilah di bulan Februari setelah saya mengajukan defer, LoA defer terbaru akhirnya muncul di email inbox saya sebagai syarat untuk dapat mengikuti PK atau Persiapan Keberangkatan LPDP.

Based on my experience, semoga teman-teman bisa antisipasi masalah LoA ini, terutama jika ingin mendaftar LPDP dengan kebijakan dari pihak LPDP yang sangat sangat dinamis. Namanya juga bisa kuliah gratis dan dibayarin negara, jadi kita juga harus siap dengan segala perubahan-perubahan yang ada terkait dengan kebijakan.

Good Luck!

Tools Pengukuran Ergonomi – Muscle Fatigue Assessment (MFA) Part 2

Setelah kemarin share mengenai pengantar dari Muscle Fatigue Assessment (MFA) sebagai salah satu tools pengukuran ergonomi, di postingan kali ini akan saya share mengenai cara bagaimana MFA digunakan. Metode ini adalah metode semikuantitatif dengan mengandalkan observasi di lapangan. Untuk melaksanakan penilaian dengan metode MFA ini ada beberapa checklist dan formulir yang digunakan dalam pengukuran ergonomi dengan metode Muscle Fatigue Assessment antara lain:

Checklist Task Identification

Checklist ini digunakan untuk menentukan task atau tugas apa saja yang dilaksanakan oleh pekerja di tempat kerja. Tujuan dari checklist ini adalah untuk menentukan aktivitas dari tugas apa saja yang memiliki risiko yang tinggi. Sebelum melaksanakan checklist untuk penentuan tugas yang akan diobservasi untuk dicari priority of change, sebaiknya dapat melaksanakan wawancara singkat untuk menyamakan persepsi dengan pekerja. Contoh pertanyaan adalah sebagai berikut :

  1. Apa saja pekerjaan yang dilakukan di area kerja ini?
  2. Bagaimana deskripsi dari masing-masing pekerjaan tersebut?
  3. Apa kesulitan yang dirasakan dari masing-masing task/tugas pekerjaan tersebut?
  4. Dari seluruh pekerjaan yang dilakukan, task apa yang paling sulit untuk dilakukan?
  5. Dari pekerjaan tersulit tersebut, berapa durasi, frekuensi, dan pekerja yang melakukan pekerjaan?
  6. Keluhan apa yang dirasakan saat mengerjakan pekerjaan tersulit itu?
  7. Bagaimana shift kerja yang diberlakukan di area pekerjaan ini?

Nah tampilan cheklist task identification-nya kayak gini nih,

Task Identification MFA

yuk kita bahas masing-masing kolom.

Job/Pekerjaan : ditulis pekerjaan untuk bagian apa, misalnya bagging, mixing, dst

Analyst : Kalo misalnya kita mau praktekin ini di Perusahaan, tulis nama siapa yang melaksanakan observasi ya sis.

Date/Tanggal : tulis tanggal pelaksanaan

Task/aktivitas : disitu ada list aktivitas apa aja yang dilakukan dalam pekerjaan. Misalnya proses mixing. ada persiapan bahan, proses penuangan bahan baku, proses penuangan bahan jadi, pengepakan dst. Tulis seluruh aktivitas yang dilakukan dalam pekerjaan tersebut.

% shift time : untuk masing-masing aktivitas tersebut, berapa % waktu aktivitas yang dihabiskan dari seluruh pekerjaan

Considered Difficult :  Dari observasi singkat dan wawancara ini, apakah task tersebut masuk dalam kategori yang sulit?

Change of Priority : Dari sekelebat wawancara dan identifikasi awal (initial assessment) kira-kira udah bisa kita tentukan untuk aktivitas apa saja yang bisa kita observasi. dapat ditulis High, Medium, Low. Jadi kita bisa fokus ke aktivitas yang High saja misalnya atau High Medium.

Formulir Observasi Berdasarkan Aktivitas

Nah, tools MFA ini ditujukan untuk mengetahui bagian tubuh mana saja yang memiliki risiko tertinggi terjadinya akumulasi kelelahan otot. Checklist-nya adalah sebagai berikut :

MFA Formulir

Observasi dapat dilakukan dengan memperhatikan masing-masing anggota tubuh seperti Leher (Neck), Bahu (shoulders), Punggung (Back), Lengan/Siku (Arms/Elbow), Pergelangan tangan/jari jemari (Wrists/Hands/Fingers), Kaki/Lutut (Legs/Knee), Angkel, kaki bawah/jari kaki (Ankels/Feet, Toes). Observasi dapat dilakukan dengan pengamatan langsung, atau dapat merekam dengan video. yang kita amati adalah effort (tenaga yang digunakan), Durasi (waktu yang digunakan masing-masing anggota tubuh untuk melaksanakan pekerjaan), dan Frekuensi (seberapa sering kita melaksanakan tugas tersebut). Dari masing-masing kriteria penilaian tersebut memiliki definisi penilaian.

Effort untuk masing-masing anggota tubuh memiliki penilaian ditandai dengan angka 1 untuk (Light/ringan), angka 2 untuk (moderate/sedang), angka 3 untuk (Heavy/berat). Sedangkan Durasi dinilai dengan angka 1 untuk pergerakan terus menerus kurang dari 6 detik, angka 2 untuk pergerakan terus menerus 6 – 20 detik, angka 3 untuk pergerakan terus menerus 20 – 30 detik, dan angka 4 untuk pergerakan anggota tubuh yang terus menerus selama lebih dari 30 detik (Very High). Untuk Frekuensi definisi angka 1 adalah dilaksanakan kurang dari 1 kali/menit, angka 2 berarti pergerakan 1 – kali/menit, angka 3 menunjukkan bahwa pergerakan dilakukan 5 – 15 kali/menit dan angka 4 adalah pergerakan dilakukan lebih dari 15 kali/menit (Very High).

Dari hasil observasi sesuai dengan definisi pada tabel maka akan didapatkan nilai untuk priority of change sebagai berikut :

MFA Priority of change.png

Nah kira-kira begitu yes, penggunaan tools ergonomi untuk mengetahui akumulasi kelelahan otot pada masing-masing bagian tubuh dengan metode semikuantitatif. Feel free to open a discussion on comment box below yaaa.. karena kebetulan kalo sampe dicontohin detail ga tau bisa sampe part berapa ini hahaha.

Jangan lupa cek part 1-nya yes

Tools Pengukuran Ergonomi – Muscle Fatigue Assessment (MFA) Part 1